PENYESALAN SEORANG SUAMI

PENYESALAN SEORANG SUAMI
PART 58 ULAH MAMA


__ADS_3

Walaupun gemetaran ibu may mulai menjelaskan kegiatan dan kejadian tadi siang yang menyebabkan Narita jatuh dan ngga sadarkan diri.


"Sebenarnya tadi pagi kami sempat merawat bunga di depan pak bersama ibu nari, lalu agak siang ibu nari minum jus dan makan buah juga. Setelah itu kami masih nonton sinetron sekitar satu jam sampai makan siang. Makan siang ibu nari masih sangat ceria menceritakan pergerakan Dede bayi di dalam perutnya. Setelah agak lama ibu nari bilang ingin tidur siang pak, lalu kami masuk kamar. Ibu nari langsung naik ke tempat tidur dan menyuruh saya menaruh handphonenya di meja. Yang saya lihat ibu nari memang sudah ngantuk pak" ujar ibu may sambil menangis.


"terus" cecar pak Rudi ngga sabar.


"Saya langsung membereskan kamar mandi pak, saya pikir mumpung ibu nari tidur siang" ujarnya sudah menangis makin kencang.


"terus"


"saya ngga tahu lagi pak, yang saya dengar dari kamar mandi ibu nari berteriak memanggil saya, dan ketika saya datang ibu sudah jatuh di lantai" ujarnya sudah menangis sesenggukan.


"ibu mayyyyy" geram bari mendengar cerita ibu may yang meninggalkan istrinya dan ngga tahu istrinya keluar kamar.


"sabar dulu bar, ibu may juga sangat sedih dan ketakutan. tapi ibu may bilang ada seorang wanita yang ada disana bar, tapi aku juga ngga tahu orangnya" ujar kak Risma


"benar Bu may" tanya bari serius


"benar pak" ucapnya lalu menunduk lagi


"dan kamu ngga kenal, atau tetangga"? cecar bari


" saya ngga tahu pak, saya hanya fokus ke ibu Narita, tapi di pintu ada seorang wanita asing memang pak, yang sepertinya habis bicara dengan ibu Narita" cerita ibu may lagi membuat bari dan papanya saling pandang lalu keduanya melotot ke ibu may.


"wanita seperti apa Bu"? tanya bari dan pak Rudi juga manggut - manggut tanda ikut bertanya.

__ADS_1


"saya ngga tahu pak, tapi saat saya datang, ibu itu hanya melotot melihat ibu jatuh, dan ketika itu aku langsung teriak minta tolong untuk membantu mengangkat ibu ke sofa, dan aku sedikit lihat ibu itu pergi ketika aku telepon pak bari dan ibu Risma" cerita ibu may.


"jadi ibu may ngga tahu siapa wanita itu, dan kamu RIS ngga kenal juga, siapa tahu tetangga kita" tanya bari serius.


"ngga kenal bar, dan sepertinya bukan tetangga, karena begitu aku sampe semua tetangga yang disana ikut bantu angkat Narita, dan aku tidak lihat wanita di foto itu, aku sepertinya asing dengan wanita itu" ujar kak Risma


"seperti apa orangnya" tanya pak Rudi ingin mengusut kasus ini kalau sampai menantunya atau cucunya terjadi sesuatu.


"ada sih fotonya sama Bu may om, tapi belakang doank, karena ibu may foto ketika wanita itu ingin pergi" ucap Risma.


"iya pak" ucap Bu may membenarkan sambil mengambil handphonenya yang tidak terlalu canggih itu.


Ibu may langsung membuka galeri handphonenya dan memberikannya kepada bari.


Pak Rudi dan bari saling pandang dalam sedih sambil berucap sama ' mama'.


Bari tidak bisa lagi bicara apa - apa , bahkan linglung sampai terduduk di kursi tunggu rumah sakit itu saking kecewanya sama mamanya, sampai tidak bisa lagi tulangnya untuk menopang tubuhnya karena kehancuran hatinya. Sejujurnya dia ingin teriak dan memaki mamanya, tapi tidak bisa dia lakukan. Dia hanya bisa teriak ahhhh sambil meremas bagian belakang kepalanya dan menunduk sedih sambil menangis.


Pak Rudi beda lagi reaksinya. Dia benar - benar tidak menyangka istrinya bisa berbuat sejauh ini. Bahkan kalau pun dia tidak suka Narita untuk apa sampai datang ke kota B untuk menyakiti Narita.


'jangan - jangan tadi mama mendorong Narita sehingga Narita terjatuh' batin pak Rudi, padahal Narita jatuh karena dia kaget dan shock dengan kedatangan ibu Marlina.


'apa yang sudah kamu lakukan ma, kamu pasti akan menyesal' batin pak Rudi sangat geram.


'padahal kamu sudah pernah gagal memisahkan mereka, sekarang apa lagi ma, aku tidak akan bisa tinggal diam lagi' batin pak Rudi.

__ADS_1


Pak Rudi langsung mendekati bari dan memeluknya dari samping.


"sabar ya nak, sekarang kamu fokus aja ke anak dan istrimu, masalah ini akan papa urus" ujar pak Rudi juga meneteskan airmata karena sedih. Dari tadi dia sudah sangat sedih melihat kehancuran hati anaknya sendiri, dan dia tidak bisa berbuat apa - apa, dan sekarang yang lebih membuatnya sedih sampai meneteskan airmata, penyebab kesedihan dan kehancuran anaknya adalah istrinya sendiri. Betapa gagalnya dia sebagai kepala keluarga, yang harusnya bisa menjaga anak dan cucunya.


",huk huk huk kenapa pa" ucap bari disela - sela tangisnya sambil dipeluk pak Rudi.


"sabar bar, sekarang kamu berdoa aja, biar mereka selamat ya" ujar pak Rudi berusaha bijak padahal dia sendiri sangat hancur.


Sementara ibu may dan Risma bingung melihat reaksi bari dan pak Rudi. Padahal tadi mereka kan menunjukkan foto untuk mereka kenali, kenapa mereka malah terlihat sangat sedih banget.


"om Rudi apa bari kenal dengan ibu ini"? tanya Risma akhirnya sambil menunjuk handphone ibu may, yang membuat pak Rudi sangat kewalahan untuk menjawab. Dia kembali menatap bari lalu melihat kearah Risma dan Bu may lagi. Sejujurnya dia sangat malu dengan prilaku istrinya.


"ini mamanya bari nak" ujar pak Rudi sedih


"apahh" ucap Risma dan Bu may sambil melotot, menatap ngga percaya dengan yang di ucapkan pak Rudi. Tapi itu hanya sekejap, detik berikutnya Risma sangat geram dengan ulah Bu Marlina.Dia langsung ingat, Dulu aja dia memisahkan bari dan Narita, dan sekarang dia tidak hanya memisahkan mereka tapi sudah mencelakai Narita dan anaknya. Risma sangat geram dengan bari dan keluarganya akhirnya. Karena menurut Risma bari tidak berhasil meyakinkan keluarganya dan sekarang naritalah yang menjadi korban dan harus menderita.


"gila ya, apakah dia itu seorang wanita dan ibu, sampai tega mencelakai wanita hamil tua, dan ketika dia lihat jatuh bahkan sedikitpun tidak mau menolongnya, dimana hati nurani dan jiwa ke ibuannya" teriak Risma sangat geram. Biar bagaimana pun Risma tidak akan membiarkan ibu Marlina bertindak semena - mena lagi sama narita, dia akan menjaga Narita dan anaknya dengan nyawanya. Dia sudah tidak perduli dengan perasaan bari ketika Risma mengatai ibunya.


Pak Rudi dan bari sama sekali tidak membela mamanya, karena yang di ucapkan oleh kak Risma itu sangat benar. Mereka sama sekali tidak ingin bela Bu Marlina, tapi masalahnya sekarang mereka harus fokus ke operasi Narita dan anaknya.


Hai readers


like, coment dan vote sebanyak - banyaknya ya


Terimakasih🙏

__ADS_1


__ADS_2