
Ketika malam hari tiba, ibu Marlina semakin kesepian dan merasa di kucilkan. Dia sedih anak dan suaminya lebih memilih membela orang lain daripada dirinya.
Tapi itu tidak lama, karena setelah magrib ada beberapa orang ibu komplek bersama suami mereka menyambangi rumah ibu Marlina, mengucapkan turut belasungkawa atas meninggalnya cucunya.
"maaf ya Bu, tadi pagi ngga bisa ikut ke pemakaman, karena beritanya sangat mendadak, sementara saya harus kerja " ujar salah satu ibu yang dekat rumahnya.
"iya Bu, aku baru tahu beritanya ketika ketemu pak Rahman pulang dari pemakaman itu lho Bu" ucap ibu satunya lagi.
Melihat dan mendengar ucapan ibu - ibu itu, ibu Marlina jadi sedikit trenyuh. Dia meneteskan air mata, bukan karena cucunya meninggal, tapi karena dialah penyebab cucunya itu meninggal dan ternyata di kuburkan di sini, di kota ini.
Ibu - ibu itu mengira ibu Marlina sedih mengingat cucunya, padahal mereka salah sangka.
"sudah lah Bu, tidak usah terlalu di pikirkan, mungkin belum milik kita, yang maha kuasa lebih sayang sama dia" ucap ibu yang lain.
Sementara bapak - bapak itu ada yang bertanya pak Rudi kemana? Kok tumben nggada di rumah.
"Pak Rudi masih harus kembali ke kota B kawan - kawan, karena tadi pagi katanya Narita menantunya juga belum sadar, kita doakan saja ya Narita cepat pulih, kasian bari dia terlihat terpukul banget tadi pagi" cerita pak Rahman membuat ibu Marlina tersadar sejenak.
'apa, anaknya barita sangat terpukul dan hancur, apa yang sudah aku lakukan. Benar aku sudah menghancurkan anakku, aku sudah membunuh cucuku, aku pembunuh, aku pembunuh' batin ibu Marlina.
Ibu Marlina akhirnya meneteskan air mata mengingat anaknya bari.
'kenapa sih bar, kamu tidak patuh saja sama mama, supaya hidupmu tenang' batin ibu Marlina masih saja egois ternyata.
'apa yang kamu dapat dengan melawan ibu, kehancuran kan' batin ibu Marlina dengan cara pandangnya sendiri.
Semua tetangga merasa bahwa ibu Marlina menangis sedih karena kematian cucunya, apalagi ibu Marlina sangat irit bicara, karena dia bingung mau bicara apa sebenarnya, tapi tetangga menilai kalau dia itu masih sulit menceritakan karena merasa sesak di hati akibat kepergian cucunya.
Setelah ibu - ibu itu pulang, ibu Marlina kembali bingung. Tapi paling tidak dia tahu cucunya di makamkan di kota ini, dan menantunya Narita belum sadar.
Ibu Marlina jadi merasa tidak sabar menunggu pagi. Dia ingin segera mengunjungi makam cucunya.
Akhirnya malam ini karena merasa kepalanya mau pecah, ibu Marlina minum obat tidur. Dan benar saja, dia sudah tidak merasain apa - apa lagi sampai pagi tiba.
Begitu dia bangun, sudah siang, dia langsung buru - buru ke makam untuk mencari makam cucunya.
Dan begitu dia mengunjungi makam mertuannya, terlihatlah di sebelahnya makam baru, makam anak kecil.
Ibu Marlina bingung juga dengan isi hatinya. Dia bahkan belum bisa menerima kehadiran cucunya tapi sudah pergi meninggalkan dunia.
__ADS_1
Setelah pulang dari makam, ibu Marlina kembali ke rumah. Dia merasa sangat hampa.
Hatinya diliputi kesedihan yang bingung dia jelaskan, antara di kucilkan suami dan anaknya atau sedih kehilangan cucunya.
Sementara di kota B, bari sedang menyuapi Narita makan makanan yang dari rumah sakit.
Setelah itu dia minum obat dan kembali tidur. Dia masih sangat irit bicara apalagi dengan bari, komunikasi mereka masih mandek. Tapi bari juga memilih tidak membahas apapun dulu, demi pemulihan istrinya lebih cepat. Jadilah mereka kadang seperti dua orang asing.
Siang hari bari telepon teman kerjanya dan mengatakan ada seorang wanita yang mencarinya ke kantor.
"namanya dokter Eva bar, orangnya cantik full bar" ucap temannya itu senyum karena dia juga belum tahu musibah yang bari alami.
"ohhhhh" ucap bari sekenannya
"kok ohhh doank bar"
"terus" ucap bari bingung
"sikat" ucap temannya masih aja becanda
"oke makasih"
Bari bingung kenapa sih Eva sekarang seperti menerornya jadinya. Padahal gara - gara dia juga tambah masalah bari dengan Narita.
Lain lagi dengan Narita, ternyata dari tadi dia tidak tidur. Dia hanya pura - pura tidur supaya tidak di ajak bicara lagi. Tapi malah dalam kepura - puraan itu dia mendengar nama Eva lagi.
Harus gimana aku Tuhan? batin Narita.
Dalam diam itu kembali airmatanya menetes membayangkan anaknya yang sudah tiada. Anak yang dulu sudah dia perjuangkan, anak yang menjadi harapannya dulu untuk bisa menemani dia sampai tua.
Melihat istrinya tidur, bari keluar sebentar dari ruang rawat Narita.
'Sampai kapan aku begini terus, hidup di bawah bayang - bayang bari dan mamanya, batin Narita.
'aku harus bisa mandiri, harus, bang bari juga tidak bisa tegas ke ibunya, karena biar bagaimana pun itu tetap ibu kandungnya' batin Narita.
Malam hari pun tiba, kak Risma sudah datang membawa makanan yang kira - kira bisa di makan oleh Narita.
Menurut dokter, besok Narita sudah boleh pulang dari rumah sakit.
__ADS_1
"kak, aku titip Narita dulu ya, aku mandi dulu ke rumah"? ucap bari sambil melirik istrinya yang tetap pura - pura tidur.
"iya sudah"
Bari melangkah menjauh dari ruangan Narita. Dia menuju rumah kontrakannya dengan mobil kak Risma, karena mobilnya sedang di bawa pak Rudi.
"kak" ucap Narita mulai menangis lagi ketika dia yakin bari sudah pergi.
"kenapa nar, kenapa kamu menangis"
"kenapa hidupku begini terus kak, dulu aku sudah sangat menjaga kandunganku sampai harus pergi dari rumah" ucap Narita sedih lagi
"sabar nar, kamu tidak boleh pesimis begitu, kamu harus kuat ya" ucap kak Risma.
"aku hanya ingin anakku kak" ucap Narita lagi
"nar, kamu harus kuat ya, kamu harus bisa mengikhlaskannya, kasian anakmu di sana kalau kamu terus menghalangi langkahnya" ucap kak Risma.
Narita terlihat terisak sebentar lalu menghapus air matannya.
"sekarang yang harus kamu dan bari pikirkan adalah masa depan kalian, bukan lagi menangisi yang sudah lewat" ucap kak Risma
"apa aku sama bang bari masih punya masa depan kak"? tanya Narita sendu.
"lho maksudmu, apa"?
"kak, kakak kan tahu ibu mertuaku, sampai kapanpun dia tidak akan menerima aku kak, tetap tidak akan. buktinya bahkan anakku sampai meninggal" ucap Narita bercucuran air mata membuat Risma juga tidak bisa bilang apa - apa. Dia hanya bisa ikut prihatin dengan semua ini.
Risma jadi diam, dia juga mengakui semua ucapan Narita. Bahkan dulu waktu hanya bersama Risma, mereka bahagia merawat kehamilan Narita, dan setelah hampir tiba waktu melahirkan, malah Narita ketemu bari yang akhirnya menyebabkan perdebatan. Dan jadilah kejadian ini yang menyebabkan Narita kehilangan bayinya.
"jangan di pikirkan dulu, sekarang kamu harus bahagia dulu biar cepat pulih" ucap Risma membesarkan hati Narita sambil mengusap lengannya.
Hai readers
dukung terus ya
like, coment dan vote
Terimakasih🙏
__ADS_1