PENYESALAN SEORANG SUAMI

PENYESALAN SEORANG SUAMI
PART 90 KAGET


__ADS_3

Akhirnya bari dan pak Rudi tiba juga di usaha pemancingan mereka.


"Rudi, bar, sini" teriak teman pak bari melihat mobil mereka memasuki parkiran dari jauh.


Pak Rudi langsung mengangkat tangannya tinggi seolah mengatakan ok. Dan biasanya pak Rudi dan bari akan menyimpan barang - barang mereka dulu di kamar belakang, sengaja di bangun kamar buat mereka tidur kalau menginap.Di ruang belakang dibangun tiga kamar untuk mereka masing - masing, yaitu pak Rudi, temannya dan orang yang jaga setiap hari. posisinya persis di belakang ruang admin. Dulu sengaja mereka buat untuk mereka tempati setiap mereka datang, karena kadang mereka bablas sampai Minggu sore.


Pak Rudi dan bari menaruh barang - barang di kamar itu dulu. Kamar yang hanya sederhana, tapi sudah ada kasur lipat dan lemari kecil serta termos dan alat masak seadanya.


Setelah menaruh barang mereka pak Rudi langsung bergabung dengan keluarga temannya, yaitu Ida sekeluarga, yang baru datang dari Jakarta.


Ida memiliki dua orang anak cewek dan cowok yang sudah beranjak remaja, sudah mau sekolah menengah pertama bahkan yang paling besar cewek sudah di bangku SMP.


Mereka sangat cantik dan ganteng, juga ramah dan gampang bergaul. Setelah berkenalan dengan keluarga Ida, Niatnya pak Rudi dan bari sudah ingin mencari lokasi paling enak untuk mancing.


Tapi temannya bilang, sebaiknya mereka makan siang dulu.


Dan sekarang mereka sudah siap makan siang dengan hidangan yang disiapkan oleh temannya. Ida sekeluarga terlihat sangat antusias banget. Bahkan anaknya sudah heboh foto - foto dan video dari tadi.


"ma video call Bagas, biar dia nyusul ke sini"! ujar anaknya Ida yang cewek.


"kamu tuh, ntar dia nangisin mamanya kak" ucap Ida kepada anak ceweknya.


"iya biarin ma, biar Bagas ikut ke sini, bagus tahu" ujar putrinya lagi.


Pak Rudi hanya tersenyum simpul melihat anak - anak dari Ida.


'coba dulu anak bari tidak meninggal, sudah sebesar mereka' batinnya.


Sementara bari, dia ke kamar dulu, ternyata handphonenya ketinggalan tadi di dalam tasnya.


Dddrrttt dddrrttt dddrrttt


Ternyata anaknya Ida sudah telepon Narita dari handphonenya dan langsung di angkat oleh Bagas.


"hallo" terdengar suara bocah dari sana dan karena pak Rudi masih berdiri dia bisa melihat foto anak di layar handphone itu. Entah kenapa hatinya bergetar.


"hallo Bagas, kamu pasti nyesal, disini bagus banget gas, aku bisa mancing" ceritanya seru.


"lihat nih, kolam pemancingan om ku, bagus bangetttt" anaknya Ida sengaja Manas - manasin juga supaya Bagas dan Tante Narita nyusul ke sini.


"mama, aku mau ke kampung juga" terlihat di monitor anak itu menangis ke arah mamanya.


Dan muncullah foto seorang wanita di handphone itu. Pak Rudi melihat Sekelabat seperti Narita.


"kalian ya, selalu godain Bagas, nanti kalau nangis tanggung jawab ya kak" terlihat Narita pura - pura marah sama anaknya Ida.


"ma, ini Tante Bagas, bilangin mereka nyusul mah" ujar anaknya ke arah Ida sambil menyerahkan handphone. Akhirnya Ida melihat video call itu.


"hallo Bagas, jadi sedih ya nak" goda Ida lagi. Terlihat di layar itu Bagas sudah menangis. Entah kenapa melihat anak itu hati pak Rudi jadi sedih juga.


"wakkk ikut" ujarnya sambil menangis

__ADS_1


"jangan godain terus Wak" terdengar suara wanita tapi tidak nampak di monitor. Tapi sepertinya pak Rudi cukup kenal dengan suara itu.


"nar, kalian susul aja, ramai lho di sini, seru nar, jangan kerja terus", ujar Ida membuat pak Rudi terkesiap.


'apa "nar" itu tadi artinya Narita, lalu siapa bagas'? batinnya.


"ya sudah Wak, nanti kalau duit mama cukup kami nyusul" ujar Narita lagi sehingga terlihat Bagas langsung bahagia.


"benaran ma" ujarnya di sana


"hmmmm"


"udah dulu ya kak, bye"


"hmmm bye"


Pak Rudi ngga bisa lagi menyembunyikan perasaan ingin tahunya begitu panggilan itu berakhir. Dia sangat yakin kalau itu adalah Narita, menantu terbaiknya.


"waduh bagi orang Jakarta disini pasti menyenangkan ya" ujar pak Rudi memulai percakapan.


"iya pak, maklumlah di sana tiap hari sudah sumpek" ujar Ida antusias.


"Jakarta itu sudah di penuhi mobil dan kendaraan bermotor, jadi sudah di penuhi kemacetan dan polusi"


"tapi orang selalu ingin tinggal di Jakarta"


"iya ya pak" sahut ida


"emank anaknya berapa, enak kayaknya rame tadi" ujar pak Rudi


"ohhhh" pak Rudi terlihat manggut - manggut.


"kalau yang tadi mereka telepon itu anaknya teman pak, tapi sudah seperti saudara, karena anaknya juga lucu dan gemesin jadi dia itu buat mainan orang ini" cerita Ida.


"iya terlihat sangat akrab" pancing pak Rudi terus karena masih penasaran dengan nama nar tadi.


"dari semenjak hamil sih mamanya sudah kami yang urus. jadi ya sudah seperti adik sendiri"?


"ohhhh, emank suaminya kemana"?


"yahh itu dia pak, demi Bagas ini dia pergi meninggalkan suaminya, karena katanya Risma sih, temannya yang temanku juga keluarganya ngga setuju Narita melahirkan, makanya dia pergi jauh" cerita Ida tanpa merasa bersalah menyebutkan Narita dan juga Risma yang mengakibatkan pak Rudi tahu tentang Narita.


deg


Risma, Narita, pasti tidak salah lagi. Dan Narita pergi demi Bagas, berarti Bagas itu anaknya bari, cucuku? batin pak Rudi.


'ya Tuhan aku sudah punya cucu' batin pak Rudi.


Ini pasti naritaku, batin pak Rudi terharu.


"ya ampun bisa begitu" pura - pura kata pak Rudi lagi.

__ADS_1


"iya pak, kasian sih, soalnya mereka sebenarnya masih saling mencintai, tapi keluarganya ngga setuju ya , mau bagaimana lagi, benar juga kata Narita lebih baik sendiri membesarkan anaknya, daripada terus diteror mertuannya" ujarnya sambil mengambil piring untuk makan ikan yang ada.


"terus suaminya"


"suaminya sudah menikah lagi om, istrinya sekarang dokter" ceritanya lagi


degg


Benar sembilan puluh persen kalau itu adalah Narita. Aku harus menyelidikinya sendiri. Kalau aku tanya Ida ini pasti dia sudah di wanti - wanti oleh Narita, lebih baik cari sendiri.


'tapi bagaimana caranya, sementara sekarang aku atau bari tidak mungkin mencari Narita, karena mereka sudah bercerai'


"ya Tuhan apa ini petunjuk darimu, supaya aku mencari Narita" batin pak Rudi bahagia sekaligus sedih.


Pak Rudi akhirnya menemukan titik terangnya, mumpung aku di kota B, aku harus ketemu Risma, batin pak Rudi.


Setelah makan akhirnya pak Rudi dan bari pamit untuk mencari pancingan sebentar, karena pancingannya ada yang rusak.


Bari yang tidak tahu apa - apa hanya diam dan mengikuti papanya.


"emank pancingan papa rusak"? tanya bari


"diam dulu bar" ucap pak bari sambil menyetir agak kencang.


Tidak berapa lama, pak Rudi tiba di rumah Risma yang baru, dia tahu karena memang hubungan mereka selama ini sangat baik walaupun jarang komunikasi.


Terlihat suami Risma yang menggendong putri mereka membuka pintu.


"apa Risma ya ada"? tanya pak Rudi


"ohhh ada pak, masuk dulu" ujar suaminya


Lalu pak Rudi dan bari duduk di sofa yang ada di ruang depan, dan tidak berapa lama Risma datang dari dalam.


"pak Rudi, bari" sapa Risma lalu menyalami mereka sambil mengambil putrinya dari gendongan suaminya.


"nak Risma, om to the point aja" ujar pak Rudi, sementara bari hanya bengong karena ngga tahu tujuan papanya.


"ada apa om"?


"kenapa kamu ngga bilang kalau Narita membesarkan anak barita sendirian" ucapnya membuat bari sampe terlonjak kaget. Apa maksud ucapan papanya, Narita punya anak dariku?


"maksud papa" tanya bari menatap papanya untuk meyakinkan dia tidak salah dengar.


Risma terlihat gugup, dia seperti orang yang ketangkap basah melakukan kesalahan dan sekarang bukti sudah di depan mata.


Aduh Risma harus gimana ya?


Bingung juga


dukung teruslah ya, apapun jawaban Risma

__ADS_1


like, coment dan vote


Terimakasih🙏


__ADS_2