
Pak Rudi dan bari kembali ke ruang tengah setelah masing - masing mereka sudah kelar mandi.
Mereka ingin berbincang tentang Bagas dengan serius, terserah mamanya ikut atau tidak, setuju atau tidak.
Ternyata ibu Marlina masih disana diam termenung, entah mikirin apa?
"mama kok masih di sini, belum tidur" tanya bari sama mamanya , karena dia pikir mamanya sudah tidur, dan itu yang membuat ibu Marlina bingung, tidak biasa- biasanya bari basa basi begini apa lagi dengan mamanya. Sudah dari lama sepertinya bari menjaga jarak dengan mamanya.
"iya bar, mama lagi mikirin kamu dan Eva" ujar mamanya.
Bari yang mendengar nama Eva jelas aja sangat malas. Bari langsung mengambil handphonenya dan melihat - lihat foto mereka selama di pemancingan tadi siang bersama Narita dan Bagas.
Bari jadi tersenyum setiap melihat foto Bagas dan Narita.
Tidak berapa lama pak Rudi juga kembali bergabung bersama mereka.
"bar , mau minum kopi ngga, enak kayaknya" ujar pak Rudi.
"ohhh iya pa, bentar bari buatin" ujar bari sambil menaruh handphonenya di meja. Kembali ibu Marlina tertegun dengan perubahan bari, dari semenjak mereka balik memancing sepertinya anaknya itu terlihat bahagia, entah apa sebabnya.
Dan saat ini, tidak biasanya bari menjawab papanya hanya untuk buat kopi, biasanya kalau papanya minta tolong dia hanya langsung beranjak dalam diam.
"pa, bari kenapa ya, tumben ceria banget"? tanya ibu Marlina ngga bisa menahan rasa penasarannya.
"emank kenapa kalau ceria, kamu senang kalau dia murung" ujar pak Rudi sambil menselonjorkan kakinya di kolong meja sofa itu.
"ngga, cuma ini kayaknya dia senang banget"
"iya, wajarlah, dia senang, banyak hal yang terjadi dalam hidupnya. Tapi buktinya ada juga kabar bahagiannya"? ujar pak Rudi santai.
"kabar bahagia apa pa"? tanya Bu Marlina
Belum sempat pak Rudi menjawab, bari sudah datang dengan kopi ditangannya. kopi untuknya dan juga papanya serta teh untuk mamanya.
__ADS_1
"yang pasti bahagiaku ini ngga bisa di nilai dengan apa pun ma. Bahkan kalau papa dan mama tidak setuju juga aku akan tentukan sikapku" ujar bari santai sambil duduk dihadapan orang tuannya.
Ibu Marlina yang mendengar itu jelas kaget, apa maksudnya bari aku ngga setuju? emank kebahagiaannya itu apa, dapat kenaikan pangkat tapi pindah kota? batin ibu Marlina.
"emank kamu naik jabatan dan pindah keluar kota bar" tanya Bu Marlina yang selalu kurang setuju memang kalau bari pindah keluar kota.
"naik jabatan iya ma, sekarang hidupku sudah lengkap" ujar bari senyum penuh arti. Pak Rudi yang tadinya menunduk jadi melirik bari. Apa mungkin bari akan cerita sekarang tentang Bagas? Tapi cerita juga ngga apa - apa cepat atau lambat Marlina juga akan tahu, dan pak Rudi sudah bertekad akan di barisan bari untuk menjaga Bagas dan Narita.
"maksudnya" tanya ibu Marlina masih penasaran.
"ma, maaf ya, kali ini kalaupun mama berbeda pendapat, aku tidak akan perduli ma. Aku sudah cape jadi suami yang tidak tegas. Aku sudah cape hidupku di permainkan oleh mama" ujar bari serius
"apa maksudmu mama mempermainkan hidupmu"? tanya ibu Marlina
"ma, kasih waktu bari bicara dulu, kamu selalu saja merasa paling benar dan selalu menganggap bari itu bisa di bawah kendalimu. Dan kamu sudah lihat hasilnya kan? Dua kali Narita pergi gara - gara kamu dan bari sangat terpuruk, dan sekarang Eva, wanita murahan pilihanmu itu malah membuat aib dan kotoran di wajah bari, apa masih kurang, masih apa lagi yang kamu inginkan." ucap pak Rudi juga mulai tegas.
"bar, kamu memang anak kami tapi kamu juga sudah dewasa. Tentukan lah langkahmu, kamu menentukan langkahmu bukan berarti kamu anak durhaka bar" ujar pak Rudi menguatkan bari.
"apa maksudnya ini pa"? tanya ibu Marlina berang dengan nada tinggi.
"Jangan sampai saya emosi Marlina, karena kalau itu terjadi berarti kamu siap menjanda di hari tuamu, aku akan ikut bari" ujar pak Rudi jelas
Walaupun masih bingung tapi ibu Marlina akhirnya diam juga. Ibu Marlina memilih diam karena dia lihat suasananya sangat panas di tambah lagi dengan kelakuan Eva yang cenderung menyeret ibu Marlina.
"sekarang biarkan bari bicara sampai tuntas, kecuali dia bertanya baru di jawab" ujar pak Rudi tegas.
"bicara bar"
"aku sudah bertemu Narita pa, ma!" ujar bari tenang tapi jelas tidak dengan ibu Marlina. Dia langsung kaget dan menunjukkan ekspresi yang membingungkan.
Jadi ini yang membuat anaknya ini bahagia dari tadi? batinnya.
Terus apa mereka nantinya bersatu lagi?
__ADS_1
Ibu Marlina belum berani bertanya takut suaminya marah. Dia simpan semua pertanyaan dari dalam hatinya dulu.
"aku akan mengejar Narita kembali sampai aku mendapatkannya, karena hanya dialah yang bisa membuatku bahagia" ujar bari lagi.
Semua masih diam kalau bari dalam posisi diam. Hanya saja pak Rudi terlihat manggut - manggut. Dia salut juga cara anaknya ini untuk menyampaikan keinginannya di depan orang tuannya. Padahal tadinya tidak ada rencana seperti ini dalam pembicaraan mereka di perjalanan.
"aku dan Narita memang sudah resmi berpisah, itulah makanya aku harus mengejarnya dari awal lagi. Saya hanya ingin memberitahu mama sama papa, terserah papa mama setuju atau tidak, merestui atau tidak, sudah tidak pengaruh buatku. Yang pasti aku akan tetap mengejar Narita." ujarnya yakin dan tetap tenang. Niatnya memang sudah bulat kali ini, dia ngga mau lagi menyesal untuk kesekian kalinya karena ketidak tegasannya.
"kalau mama dan papa setuju, aku tidak akan pindah dari kota ini, dan itu harus di buktikan dengan kalian lamarkan Narita untukku lagi. Tapi kalau mama tidak mau, itu berarti aku akan pindah dari kota ini, dan kami akan menikah di kota itu tanpa orang tua dengan alasan jarak yang tidak memungkinkan" ujar bari lagi.
Ibu Marlina terlihat sudah seperti ingin protes, tapi langsung di pelototi oleh pak Rudi, sehingga nyalinya kembali ciut.
"apa kamu sudah yakin kalau Narita akan menerimamu kembali"? tanya pak Rudi.
Bari terlihat menarik nafas panjang lalu menggeleng.
"belum pa, tapi aku akan berusaha sampai aku mendapatkan Narita kembali. Selagi dia bukan milik orang lain saya akan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkannya, harus", ujar bari semangat.
"bar, papa senang kamu tetap semangat kembali nak, tapi papa berharap jangan sampai nanti kamu terpuruk lagi kalau Narita menolakmu" ujar pak Rudi
"bari ngga tahu pa kalau Narita menolak, mungkin lebih baik bari mati aja, daripada hidup tapi sudah mati" ucap bari serius.
"jangan putus asa bar, dosa"
"baiklah bar, papa doakan kalian masih jodoh. tidak usah pikirkan kami, pikirkanlah hidupmu dulu. Kalaupun mama ngga setuju, papa selalu akan dukung kamu, yang penting kamu bahagia. Papa hanya berharap kamu selalu bahagia bar" ujar pak Rudi tulus.
Ibu Marlina jadi semakin bingung, jujur dia lihat anaknya sangat bahagia bersama Narita. Tapi di masa lalu dia sudah banyak salah sama Narita. Gimana kalau Narita tidak mau menerima bari lagi?
"Aku harus bagaimana"? gumamnya hanya untuk diri sendiri.
Hallo semua
dukung terus ya
__ADS_1
like, coment dan vote
Terimakasih🙏