PENYESALAN SEORANG SUAMI

PENYESALAN SEORANG SUAMI
PART 88 AYO BANGKIT


__ADS_3

Pak Rudi sudah tidak tahu lagi gimana cara menyadarkan istrinya ini. Dia sangat merasa gagal sebagai suami karena istrinya lah yang menyebabkan kesengsaraan anaknya.


Pak Rudi sudah berusaha untuk memancing emosi bari, supaya bangkit lagi, tapi malas ibu Marlina kembali memarahi bari.


Hati pak Rudi sangat sakit, ketika anaknya mengatakan bahwa hatinya sudah mati, tinggal badannya yang hidup asal hidup.


Saat pak Rudi sedang minum kopinya ternyata Eva pulang. Tanpa salam atau apalah Eva masuk dan ingin langsung masuk kamar.


"Eva" panggil pak Rudi tanpa ekspresi


"iya pa"


" kenapa kamu bawa ATM bari"?


"yah bang bari yang kasih, emank kenapa sih" ucap Eva sewot


"kok atmya bisa sama kamu, emank kamu ngga punya ATM sendiri" ibu Marlina ikut sewot


"kok ibu ngomongnya begitu, ya aku istrinya, wajarlah semua duitnya di kasih ke aku. masalah gitu" ucap Eva seolah keberatan dengan ucapan ibu mertuannya.


Ibu Marlina sampai geleng - geleng kepala sementara pak Rudi hanya biasa aja, datar.


"berikan dulu ATM bari, dia mau pakai duit" ujar pak Rudi datar.


Eva hanya melengos pergi, mendengar ucapan ibu mertuanya tadi membuat Eva merasa tersudut. Dia menggerutu tapi masih di dengar mertuannya.


'baru juga duit segitu, sudah kayak kebakaran jenggot, emank aku pengangguran apa' gumam Eva tapi masih jelas di dengar oleh siapapun yang di dekat mereka.


Ibu Marlina merasa tersinggung dengan ucapan Eva, walaupun seperti gumaman, sementara pak Rudi biasa aja. Dia cenderung kayak sikap bari kalau menghadapi Eva, terserah, bodo amat, lakukan sesukamu.


"berani sekali dia ngomong begitu" ucap Bu Marlina ketika Eva sudah masuk kamar.


"itu kan menantu pilihanmu, terus kamu mau nyalahin saya gitu, nyalahin bari"? tanya pak Rudi masih datar juga.


"kok papa ngomongnya begitu" ujar Bu Marlina


"sudahlah ma, papa sudah cape memberitahu kamu, papa pikir kamu akan sadar setelah dulu membuat anak bari meninggal tapi nihil." ucapnya

__ADS_1


"bahkan Narita sampai pergi dan bari mati rasa" ucapnya.


"apa maksud papa, aku sudah bertobat kok, tapi malah Narita yang belum terima lalu pergi" ucapnya membela diri.


"ahhh sudahlah ma, mama memang sangat pintar bersandiwara, aku akuin itu. Kamu sampai berpura - pura sakit untuk menyatukan Eva dengan bari. Lalu kamu tekan bari, lalu paksa mereka berdekatan lalu kamu videokan dan kamu kirim ke Narita, apa itu kamu sudah bertobat, coba jawab"? teriak pak Rudi membuat ibu Marlina melongo.


"Sampai sekarang aku tidak tahu, ibu macam apa kamu untuk bari. Lihatlah anakmu sekarang, bahkan sudah seperti mayat hidup karena di tinggal Narita. apa kamu lihat masih ada harapan dan semangat di matanya? tidak ma, dia itu sekarang hanya ingin menuruti kita, tanpa perduli perasaannya sendiri. Pernah ngga kamu bertanya atau cari tahu, sebenarnya apa sih ke inginan bari, apa yang bisa membuatnya semangat lagi? tidak kan?Oh iya kamu tahu kenapa bari tambah hancur, tadi pagi dia sudah menanda tangani surat cerainya dengan Narita, puaskan kamu"? ujar pak Rudi sangat geram.


"apah" bari seperti baru tersadar di balik pintu ketika ingin memberikan uang yang dibutuhkan papanya.


Bari keluar berjalan lunglai dan menatap papanya.


"apa maksudnya tadi pa, mengirim foto dan pura - pura sakit" tanya bari masih tanpa ekspresi.


Sementara pak Rudi kaget hanya sementara, menit berikutnya dia sudah sadar banget. Gada lagi yang harus dia simpan dari bari, toh bari sudah tanda tangan surat cerai itu.


Beda lagi dengan ibu Marlina, dia memang tidak terlibat dengan pengiriman foto dan video itu, jadi dia tidak merasa bersalah. Jadi dia bengong bukan karena takut atau merasa bersalah, tapi dia juga heran sebenarnya.


"Narita meninggalkan kamu karena ada yang mengirimkan fotomu sama Eva sedang di rumah sakit. mungkin saat kamu tidur mereka sengaja ngambil videomu dengan Eva lalu di kirimkan ke Narita. Itulah yang membuat Narita mengambil keputusan pergi" ucap pak Rudi sejelas - jelasnya.


Ternyata Narita adalah korban mamanya lagi!


Bari sudah tidak bisa berkata apa - apa, dia diam dan duduk di hadapan papanya. Airmatanya keluar begitu saja.


"ini ATM bari pa, pakai aja duitnya semua" ucap bari kepada papanya


"bar" ujar ibu marlina melihat anaknya menangis. Entah seberapa hancur hati bari sekarang, tapi demi Tuhan mamanya tidak terlibat dalam kepergian Narita ini.


"itu atmnya ya Bu, jangan bilang saya butuh duit bari" ucap Eva tiba - tiba datang bergabung tanpa tahu situasinya.


Semua diam, tidak ada yang menjawab atau melirik Eva. Pak Rudi sedih dan menunduk, bari terlihat hancur walaupun sudah tidak menangis karena dia laki - laki. Ibu Marlina juga sedih dan bingung.


"pada kenapa sih"? tanya Eva asal nyeplos.


Tapi bari sudah tidak ada niat untuk bicara, begitu juga pak Rudi. Hanya ibu Marlina yang memandang Eva dengan sorot mata tajam.


'pasti eva yang sudah membawa - bawa namaku dulu untuk menyingkirkan Narita' batinnya tambah ngga senang lihat Eva.

__ADS_1


"Eva, apa yang sudah kamu lakukan dulu kepada Narita, foto apa yang kamu kirimkan ke dia" teriak ibu Marlina membuat Eva sedikit terkesiap.


'kenapa sekarang masalah itu di ungkit lagi ya' batin Eva


'apa baru ada yang terjadi di sini' hati Eva bertanya - tanya, soalnya ngga seperti biasanya, terus mengungkit masalah lama.


"aku hanya melakukan seperti yang ibu mau, kenapa sekarang bertanya" ujar Eva tanpa rasa bersalah membuat ibu Marlina makin berang.


Bari tidak bereaksi dan juga pak Rudi yang sudah lama mengetahui hal ini. Dulu pak Rudi hanya ingin tenang, dan Narita juga tenang dan hidup bahagia. Tapi ternyata apa, semua jauh dari ekspektasinya.


Bari bangkit dan ingin beranjak dari sana, tapi langsung di panggil oleh pak Rudi.


"Bar, ayo kita membeli pancingan dulu" ujar pak Rudi mengalihkan kesedihan anaknya.


Bari terlihat bimbang sampai akhirnya pak Rudi menarik tangannya.


"ayok temani papa bentar" ucap pak Rudi lagi. Pak Rudi langsung mengambil kunci mobilnya dan menggandeng bari seperti anak kecil.


Pak Rudi malas berdebat dengan dua wanita yang ada di rumah itu sekarang. Pak Rudi ingin mengalihkan perhatian bari, bari harus segera bangkit lagi.


Sepanjang jalan ke lokasi pembelian alat - alat pancing, mereka berdua diam seribu bahasa. Hanya pikiran mereka masing - masing yang sibuk.


"aku benar - benar suami ngga berguna ya pa" tiba - tiba bari berujar.


"tidak bar, bukan begitu. Ini salah papa juga, papa ngga ajarin kamu bisa tegas karena papa sendiri ngga bisa tegas bar." ujar pak Rudi penuh sesal.


"besok aku ingin ajak kamu ketemu teman papa, untuk usaha pemancingan ya, biar kamu ada hiburan positif bar"


"iya pa"


Hallo semua pembaca setiaku


jangan bosan ya


author tetap menunggu like, coment dan votenya.


Bagi yang sudah vote, coment dan like, terimakasih banyak🙏

__ADS_1


__ADS_2