
Ketika Bagas dan pak Rudi masih sibuk bercengkrama dan saling bercerita, Narita kirim chat ke suaminya kalau pak Rudi datang.
Bari yang sedang di kantornya pun kaget.
'Berarti tadi papa tanya alamat rumah karena mau datang' batin bari.
Baripun langsung ingin cepat pulang karena ada acara dadakan dari kampus. pimpinan bari tidak keberatan kalau itu urusan kampus, karena selama ini kinerja bari juga sangat bagus.
Tanpa buang waktu bari memacu mobilnya untuk pulang. Dan karena bukan jam pulang kantor, syukurnya tidak macet. Hanya lima belas menit bari sudah tiba di rumahnya.
Art rah bari langsung membuka pintu pagar begitu mobil bari ada di depan. Dan begitu masuk pekarangan , bari buru - buru turun untuk ketemu papanya.
Pemandangan pertama yang bari lihat adalah papanya sedang bercanda dengan Bagas putranya.
"papa" ucap bari memeluk papanya sambil menyalami tangannya. Bari juga sebenarnya kangen sama papanya, hanya saja itu tertutupi dengan kehadiran Bagas dan calon anaknya.
Bari sampai menitikkan airmata karena bahagiannya atas kedatangan papanya yang di luar dugaannya.
"kok papa ngga kasih tahu bari mau datang" ucapnya sudah meneteskan airmata.
"papa kangen kalian, tapi tiap papa telepon kamu sibuk terus" ujar pak Rudi protes.
"maafin bari pa, sebenarnya bari hanya ngga ingin papa banyak pertanyaan" ujarnya sambil melirik istrinya yang dari tadi berdiri di sampingnya.
"apa maksud kamu bar" tanya pak Rudi sambil menatap mereka bergantian.
Baripun bangkit dan berdiri di samping istrinya. Bari meletakkan tangannya di pundak istrinya itu sambil menatap istrinya tenang, lalu dia menatap pak Rudi.
"maafin bari dan nari pa, sebenarnya kami sudah lama menikah lagi, setelah aku pindah ke Jakarta. Aku tidak mau kehilangan anak dan istriku lagi pa. Itulah yang aku perjuangkan sehingga aku minta pindah ke Jakarta." ujar bari
"awalnya Narita sendiri ngga tahu dengan rencanaku pa, karena aku yakin dia akan menolak, untungnya ada keluarga kak Ida yang membantuku, sehingga terjadilah pernikahan kami kembali" ujar bari
"mengenai papa dan mama kenapa tidak aku beritahu karena aku ingin kami tenang dulu pa, bebas dari apapun dan intervensi siapapun." ucap bari sebagai pembelaan. Tapi pak Rudi sama sekali tidak membenci dan ma rah sama bari, dia justru bangga anaknya sudah mengambil jalan yang benar dengan menikahi Narita.
Sementara Narita dari tadi hanya diam dan menunduk, dia tidak berani menatap mertuannya.
"jadi kalian sudah menikah"? tanya pak Rudi meyakinkan kembali sambil menatap mereka bergantian.
"sudah pa, kami sudah menikah kembali sekitar lima bulan yang lalu, dan kami langsung di percaya untuk punya anak kedua pa, jadi Narita sekarang hamil lima bulan" ujar bari makin semangat sambil mengelus perut istrinya.
deggg
Pak Rudi kaget juga Narita sudah hamil lima bulan.
Dia akan punya cucu lagi.
__ADS_1
Tapi pak Rudi tetap senang, yang penting anaknya sudah menikah lagi. Terlihat memang bari sangat bahagia, wajahnya sangat berseri dan penuh keceriaan. Dia juga terlihat sedikit gemuk dan lebih fresh. Pokoknya Narita memang hidup bari, sehingga kalau ada Narita hidupnya hidup begitu juga sebaliknya, hidupnya akan hampa dan ngga terarah tanpa Narita.
"Baiklah, papa bersyukur kalau kalian sudah menikah walaupun tanpa kami tahu" ucapnya
"sebenarnya papa sedih sih tidak tahu kalian menikah lagi, tapi kebahagiaan bari dan Bagas jauh lebih penting. Jadi papa tidak apa - apa. Hanya pesan papa, nak Narita mulai sekarang terus terang lah sama suamimu, tentang apapun itu. Jangan sampai nak nari menarik kesimpulan sendiri lalu pergi. Kita semua jadi hancur" ujar pak Rudi.
"iya pa" jawab Narita.
"maafin bari dan nari pa" ucap bari lagi.
"sudahlah, toh semua sudah terjadi dan papa lihat kamu sangat enjoy melakoninya, jadi ngga apa - apa" ucap pak Rudi membuat bari dan Narita saling tatap dan tersenyum bahagia.
Bari membawa Narita duduk di sofa di sebrang papinya.
"Jadi tadi papi telepon itu supaya bisa langsung kebrumah, papi telepon dari bandara"
"hehehe iya bar, habis kamu sibuk terus, aku telepon Bagas juga susah banget jadi aku pikir langsung ke Jakarta aja"
"papa ngga kerja"
"ambil cuti, minta dua hari malah di kasih lima hari. Ya sudah papa ke Jakarta aja" ceritanya sangat bersemangat.
"kok papa sampai nekat datang ke Jakarta"?
"dan mungkin calon anak keduamu tidak ingin ngumpet dari kakeknya" ujarnya sambil senyum.
Bari sendiri sebenarnya sangat senang papinya sudah tahu tentang pernikahannya dan juga tentang kehamilan Narita. Dia sedikit merasa plong walaupun ada was - was juga dengan maminya.
"pa, papa pasti masih capek kan, istirahat dululah sana sama Bagas." ujar bari senyum
"iya kek, ayo" ajak Bagas senang
"ya sudah, papa sedikit cape memang, cuma begitu melihat kalian cape kakek hilang" ujar pak Rudi terlihat sangat bahagia.
Bari dan Narita ikut mengantar pak Rudi ke kamar Bagas. Kamarnya cukup bagus dan lebar. Pak Rudi makin bangga dengan anaknya.
"papa istirahat dulu, kami keluar dulu, karena Narita juga harus banyak istirahat pa" tutur bari
"ohhh iya sudah, istirahat gih" ujar pak Rudi akhirnya.
Bari dan naritapun keluar dari kamar Bagas. Bari membawa Narita ke kamar mereka.
"Sayang, tidak apa - apa kan papa tahu pernikahan kita" ujar bari
"ngga apa - apa bang, selagi bang bari dan aku saling percaya, tidak akan bisa dipisahkan bang" ujar Narita yakin.
__ADS_1
"terimakasih sayang, terimakasih, kamu selalu saja bisa mengerti" ujar bari.
"tapi Abang janji, selagi Abang sehat dan sadar Abang tidak akan membiarkan kalian terganggu lagi. aku akan jaga kalian" ujar bari lagi.
"iya bang, aku percaya kok. oh iya bang hari ini ngga usah kuliah dulu ya, kasian papa nanti nggada yang temanin." ujar Narita
"kan ada Bagas sayang, Abang harus kuliah biar cepat selesai kuliah Abang" ucapnya semangat.
Sore harinya ketika pak Rudi dan Bagas bangun, bari belum pulang kuliah. Tapi pak Rudi ngga bosan karena ada Bagas jadi temannya bermain.
"bari kemana nar"? tanyanya penasaran ngga lihat bari, masih tidur sore juga apa masih kerja.
"bang bari harus ke kampus pa, katanya hari ini harus kuliah karena ada quis" ujar Narita
"ohhhh"
"papa mau mandi, Bagas juga bisa temanin papa" ujar narita
"ngga usah di temanin, papa bisa kok" ujarnya
"ohhh papa mau di buatin kopi" tanya Narita
"boleh" jawabnya
Narita memanggil artnya untuk membuatkan kopi pak Rudi.
"selama hamil kedua ini agak berat pa, bahkan sempat aku di bawa ke rumah sakit. Sepertinya anak ini nanti manja" ujar Narita.
"Tapi bari selalu mengurus kamu dengan baik kan"?
"iya pa, bang bari itu sangat antusias dari awal kami periksa. katanya ini pertama kali dia menemani wanita hamil" ujar Narita senyum.
Pak Rudi juga terlihat sangat bahagia bahkan hanya mendengar cerita Narita.
"berarti sekitar tiga bulan lagi kamu sudah lahiran ya" tanya pak Rudi
"iya pa" jawab Narita.
hallo pembaca setiaku
dukung terus ya
like, coment dan vote
Terimakasih🙏
__ADS_1