PENYESALAN SEORANG SUAMI

PENYESALAN SEORANG SUAMI
PART 138 SANTAI


__ADS_3

Setelah semua tangisan di makam tadi, keluarga besar pak Rudi sekarang sudah menuju rumah lagi. Suasana sedikit sudah lebih santai. Ibu Marlina juga sudah menggendong baby angel sementara Bagas selalu lengket dengan sang kakek.


Begitu tiba di rumah, Narita langsung membersihkan baby angel dulu baru menyusui. Sementara ibu Marlina dengan sigap menggoreng pisang di dapur untuk cemilan santai.


Sampai tengah hari mereka malah duduk di teras dan didatangi beberapa tetangga. Begitu juga saudara dan keponakan pak Rudi.


"Bar, anakmu lucu banget sih, ta to tu ta ti tu" goda salah satu sepupu bari


"ya lucu lah, anak Jakarta gitu lho" ujar bari juga


"iya nih, kamu buat bibi aja sayang ya" ucapnya lagi sambil menowel pipinya baby angel


"enak aja, nanti papiku sama bang Bagas gada mainannya ya njel" ujar bari nyahutin. baby angel benar - benar jadi bintang di sini. Sementara Bagas karena sudah besar sudah bisa bermain sendiri.


"bikinlah satu lagi" ucap sepupunya enteng


Bari sama Narita hanya senyum - senyum.


Sore harinya mereka ingin ke kota B, menginap di pemancingan pak Rudi. Narita sudah menyiapkan semuannya bersama bari.


Pak Rudi sangat bangga dengan cucunya. Tadi pagi aja tetangganya banyak bertanya melihat Pak Rudi menggendong baby angel mengitari komplek rumahnya bersama Bagas sekalian cari angin.


Hatinya sangat senang ketika tetangganya ada yang bertanya.


"cucunya pak Rudi"?


"iya pak, baru datang dari Jakarta" jawab pak Rudi sangat bahagia. Ternyata begini rasanya menjawab pertanyaan orang tentang cucu kita. Ternyata luar biasa bahagia ketika orang menggoda cucunya yang memang menggemaskan. Ada kebahagian yang luar biasa dirasakan oleh pak Rudi, ketika cucunya berceloteh di godain orang. Sepertinya hidup pak Rudi lebih lengkap.


"aduh gemesnya, siapa namanya yang cewek ini" goda tetangganya yang sudah agak tua juga


"angel opa" jawab pak Rudi


"kalau kakaknya yang ganteng ini" tanya tetangga pak Rudi


"saya abangnya angel opa, bukan kakaknya" ralat Bagas membuat mereka semua ketawa jadinya.


"aduh cucunya pak Rudi lucu banget sich" ujar tetangganya


"iya nih pak, jadi seru kalau pas ada cucu" ucap pak Rudi semangat.


"memang ya pak Rudi, kita yang tua ini kadang lupa umur kalau sudah sama cucu" ujar tetangganya.

__ADS_1


"yahh itulah pak, repot emank, tapi kita tetap semangat" ujar pak Rudi.


Dan karena hari makin panas akhirnya mereka kembali ke rumah. Sementara di rumah seorang ibu yang di mintain tolong sama ibu Marlina sudah selesai masak untuk makan siang mereka. Setelah masak ibu ini akan pulang ke rumahnya.


Begitu sampai rumah terlihat ibu Marlina langsung menyambut cucunya angel dan Bagas.


"kalian jalan - jalan ngga ngajak - ngajak sih" ujarnya


"tadi mama lagi ngobrol sama ibu yang masak itu" ujar pak Rudi


"Bagas sudah lapar sayang"? tanya ibu Marlina


"belum nek, Dede angel tuh kayaknya sudah haus, bibirnya sudah begini nek" ujar Bagas sambil mencontohkan bibir angel kalau haus.


"ohhh kasian cucu nenek, ayo mami sama papi ada di belakang rumah" tutur ibu Marlina.


Pak Rudi dan Bagas serta ibu Marlina langsung menuju belakang rumah. Mereka ternyata sedang becanda juga di belakang mrnenang masa lalu.


"mami" teriak Bagas


"iya sayang" jawab Narita


"Dede angel haus" ucap Bagas lagi


"aku kasih angel asi dulu bang" ujar Narita ke suaminya


"iya sayang"


Narita langsung membawa angel ke kamar untuk memberikan asi.


Siang harinya mereka sudah makan siang bersama. Lalu harus bersiap menuju kota B.


Perjalanan kesana Bagas masih heboh, dan ibu Marlina serta pak Rudi gantian memangku baby angel.


Sampai di kota B mereka langsung menuju kolam pemancingan pak Rudi dan temannya itu. Ternyata sekarang sudah tambah maju. Pak Rudi juga berniat mbeli rumah di sekitar tempat itu, karena weekend selalu dia habiskan di tempat itu bersama ibu Marlina.


Tiga hari sudah keluarga bari dan Narita berlibur di kampung halaman. Tapi sepertinya pak Rudi dan ibu Marlina masih belum mengizinkan mereka untuk pulang, karena liburan Bagas juga masih beberapa hari lagi ke depan.


"jangan pulang dululah bar, papa belum puas main sama cucu papa" ujar pak Rudi


"tapi bari harus kerja pa"

__ADS_1


"tolonglah izin dulu ke kantormu, seminggu lagi kek" bujuk pak Rudi


"saya kebanyakan izin nanti pa" ujar bari lagi


"coba aja dulu bang, siapa tahu keberuntungan di pihak kita, kantor setujui cutimu" dukung Narita lagi sambil senyum.


Mau ngga mau bari benar - benar minta izin lagi ke kantor. Bari sudah tidak bisa membantah kalau itu saran dari istrinya.


Akhirnya kantor izinkan bari cuti tiga hari lagi. Itupun sudah sangat membuat pak Rudi dan ibu Marlina sangat bahagia.


Untuk tiga hari ke depan mereka ingin tidur sama kedua cucunya. Kalau tengah malam baby angel minta minum akan di antar ke maminya.


"kasian papa dan mama kalau begitu, nanti tidurnya terganggu terus" ujar Narita ga enak.


"Justru papa dan nama ingin di ganggu oleh cucu - cucu ini minimal sebelum kalian pulang. Nanti kami kembali berdua - dugaan lagi sama papamu" ujar ibu Marlina dan di angguki oleh pak Rudi juga.


"ya sudah terserah papa sama Mama, tapi awas baby angel ke tindih Ama Bagas ya pa, dia itu tidurnya ngga mau diam" ujar bari mengingatkan.


"iya tenang aja, dulu kamu juga begitu" ujar pak Rudi


Jadilah baby angel dan Bagas tidur di kamar kakek neneknya. Mereka berempat happy masuk ke kamar pak Rudi sementara baby angel habis nyusu sudah tidur lagi.


" Yah malah kita berdua di tinggal sayang" ujar bari sama istrinya.


Mereka masih nonton tv di ruang keluarga yang lumayan lebar itu.


" iya ya bang, begini kali perasaan mami kalau mereka berdua aja ya bang" ujar Narita. Dia membayangkan rumah ini pasti memang sangat sepi. Papa mertuannya bangun, sarapan lalu berangkat kerja, tinggallah mama mertuannya sendiri. sementara orang yang nyuci dan bersih - bersih rumah hanya dua jam disana.


"iya sih, sepi pastinya. Dulu aja waktu aku di sini sepi apalagi sekarang" ujar bari


"apa kita pulang lagi aja ke sini bang, tapi jangan di rumah ini kita beli rumah dekat sini, kita jual rumah sama mobil yang di Jakarta" ujar Narita.


Bari terhenyak sejenak, ternyata istrinya ini masih aja perduli kepada kedua orang tuannya, padahal sudah sering di sakiti.


"iya sih dek, kuliahku juga sudah kelar di Jakarta, coba nanti kita lihat kedepannya" ujar bari sambil meraih tangan istrinya. Narita hanya mengangguk dan mengikuti langkah suaminya itu.


Bari mengajak istrinya untuk tidur karena hari sudah larut juga.


Hallo semuannya


Dukung terus ya guys

__ADS_1


like, coment dan vote


Terimakasih🙏


__ADS_2