
Bari yang masih terdiam di kamarnya memberikan surat itu kepada Risma juga.
to kak Risma
Kak, maaf ya nari harus pergi, padahal kakak sudah sangat baik sama Narita.
Jangan marah sama nari atau bang bari ya.
Kami pisah demi kebahagiaan masing - masing.
Jodoh bang bari itu bukan aku kak, tapi dokter Eva, karena mereka saling mencintai dan cinta mereka tidak menyakiti siapa pun, hanya aku. Tapi aku juga sudah belajar ikhlas demi kebahagiaan bang bari. Kasian dia kak selalu berada pada posisi sulit.
Kak, tetaplah bahagia, karena aku pergi juga untuk menjemput bahagiaku.
Peluk cium adikmu,
Narita.
"Apa yang terjadi bar, kemarin kalian baik - baik aja" tanya kak Risma serius
"kenapa dia memutuskan pergi"? tanya Risma sambil memberikan surat Narita untuknya. Bari menerimanya tanpa semangat, tapi dia tetap ingin tahu, siapa tahu ada petunjuk untuknya.
"saya juga ngga tahu kak, saya ngga tahu, masa karena aku ngga pulang tadi malam nari langsung segitu marahnya" ucap bari bingung lalu membaca surat Narita untuk kak Risma
"kamu yakin mamamu dan Eva tidak berbuat apa - apa"? Tanya Risma serius
Bari terlihat terdiam sejenak, apa mungkin ini ada hubungannya lagi dengan mamanya. Dan dalam suratnya nari juga mengatakan ada seseorang yang menyadarkan ya tentang dia lebih baik pergi dari bari.
Siapa dia?
Di suratnya kepada kak Risma Narita bilang kalau bari akan bahagia bersama dokter Eva.
Berarti jangan - jangan ini ada hubungannya dengan Eva dan juga mamanya.
Bari sama sekali buntu sekarang. Dia masih berharap bisa menghubungi Narita, setidaknya dia dengar suara Narita walaupun hanya di telepon tapi ternyata nihil karena Narita sudah ganti nomor sekarang dengan nomor Jakarta.
Bari bangkit dari duduknya dengan wajah entah seperti apa?
"kalau begitu aku pamit dulu bar" ucap kak risma akhirnya. Kak Risma mengambil surat Narita untuknya dan menyimpannya ke dalam tasnya.
Sementara bari semakin sedih. Dia tidak bisa bayangkan kalau hidup tanpa Narita. Dengan segenap tenaganya bari bangkit untuk melihat lemari Narita. Dan disana tinggal beberapa baju Narita yang untuk sehari - hari.
'kenapa kamu pergi nar, kenapa'? gumam bari bingung.
Dia kemudian duduk di kasur mereka, dimana kemarin malam mereka melewati malam penuh kehangatan.
__ADS_1
Apa kamu sudah merencanakan ini nar?
Sehingga kemarin kamu memberiku sesuatu yang tidak bisa kulupakan?
kenapa nar, kenapa kamu tega sama Abang?
Paling tidak seharusnya kamu cerita dulu sama Abang, siapa yang pantas buat Abang dan apa yang membuat Abang bahagia.?
Bari masih terus terbayang wajah Narita. Bari masih belum percaya Narita pergi, ini masih seperti mimpi baginya.
Setelah lama mondar mandir ngga jelas di rumahnya, yang semuannya mengingatkan bari pada Narita, bari akhirnya mengambil kunci mobilnya dan membawanya entah kemana. Bari benar - benar linglung sekarang sehingga seperti tidak sadar bari sudah tiba di kota, di rumah sakit tempat mamanya di rawat. bari yakin papanya ada di sana.
Saat dia paling terpuruk, yang bisa bari ajak bicara hanya papanya.
Bari masuk ruang rawat mamanya dengan langkah lunglai seperti tak bertulang. Dia bingung benar - benar bingung.
"bar, " sapa pak Rudi yang melihat bari masuk dengan wajah sangat kusut. Dia yang sedang menyuapi istrinya jelas heran dengan kedatangan anaknya kesini, tadi pagi katanya malam ini pulang, kasian Narita.
Bari masih diam dan menunduk dengan wajah kusutnya. Pak Rudi langsung buru - buru menyuapi istrinya lalu memberi minum istrinya. Setelah itu dia langsung mendekati bari. Pak rudi sudah tahu kalau anaknya itu pasti sedang sedih, dilihat dari wajahnya? tapi kenapa sedih, itu yang dia tidak tahu.
"ada apa nak" tanya pak Rudi pelan
Mendengar suara papanya, hati bari sedikit menghangat. Dia mendongakkan kepalanya dan menatap papanya. Terlihat genangan air mata di mata bari.
"kenapa bar" tanya pak Rudi lagi ngga sabaran.
"pergi, pergi kemana? maksudnya gimana?" tanya pak Rudi lagi
"Dia sudah meninggalkan bari pa" ujar bari pelan tapi membuat pak Rudi kaget.
"lho bukanya kamu bilang kalian sudah baik - baik aja, terus kenapa ? kalian tidak bertengkar kan? Atau karena tadi malam kamu disini ngga pulang"? banyak pertanyaan pak Rudi yang seperti interogasi yang tidak bisa di jawab oleh bari.
Dia melihat ke arah bed mamanya, dimana mamanya juga melihat dia. Terbersit di hati bari untuk bertanya sama mamanya, bahwa ini bukan ulah mamanya.
Tapi bari urungkan. Dia tidak ingin mendengarkan apapun sekarang. Dia tidak mau lebih sakit hati lagi kalau mengetahui apapun.
Karena tidak mendapat jawaban dari bari yang terlihat banyak bengong, pak Rudi langsung telepon Narita. Tapi berkali - kali dia telepon jawabannya sama, di luar jangkauan.
"ada apa ini bar" tanya pak Rudi ikut merasa galau karena menantunya itu menghilang.
Bari masih betah diam, karena dia malas bicara. Dia malas menjawab apapun sekarang.
Karena penasaran, akhirnya pak Rudi telepon Risma.
dddrrttt dddrrttt dddrrttt
__ADS_1
" hallo om"
"hallo nak Risma, ada apa nari sama bari nak Risma, kenapa bari jadi seperti ini" ujarnya bertanya sama Risma.
"saya juga ngga tahu om, kemarin Narita kayaknya happy - happy aja waktu bicara sama saya, bilang kalau bari jadinya pulang tadi malam, jadi saya ngga usah ke rumah mereka, ehhhh ternyata dia mau pergi" ucap Risma sedikit berbohong.
"apa dia nggada kirim pesan ke kamu nak Risma" tanya pak Rudi serius.
Terdengar disana Risma menarik nafas panjang.
"maaf pak Rudi, sebenarnya tadi pagi Narita ada kirim chat ke saya, dan mungkin itulah alasannya untuk pergi" ucap Risma
"apa pesannya" tanya pak Rudi
"maaf om, aku ngga bisa cerita, nanti aku kirimkan aja sama om, aku percaya om sangat jujur. Biarlah om yang menilai" ujar Risma lagi.
"iya nak, tolong kirimkan"
Akhirnya Risma mengirim semua foto dan video yang di kirimkan nomor yang tidak di kenal ke handphone pak Rudi.
'mungkin dengan begini bapak mertuamu akan membiarkanmu pergi nar, jadi kamu bisa membesarkan anakmu nantinya' batin kak Risma.
Sementara pak Rudi yang baru menerima foto yang di kirim Narita, dengan pesan yang ada di bawahnya, pak Rudi yakin pelakunya adalah Eva atau istrinya.
Apalagi video ini diambil seolah Eva dan bari sedang bermesraan dengan Eva tiduran di pangkuan barita.
Pak Rudi sangat marah, dia langsung masuk keruangan rawat istrinya lalu menatap istrinya tajam. Setelah itu dia menatap bari yang masih menunduk dan sedih.
"bar, kamu mau tahu kenapa istrimu pergi" tanya pak Rudi kepada bari tapi menatap tajam istrinya yang sedang sakit itu.
"Lihat ini! Kalau aku jadi Narita juga, aku akan memilih pergi" ujar pak Rudi lagi.
Bari akhirnya mendongakkan kepalanya dan melihat handphone papanya.
Jelas aja bari sangat marah melihat semua itu.
"apaan ini pa"? tanya bari
"sudah ada orang yang sengaja lagi untuk memisahkan kalian, kali ini tolong ma, jangan sampai papa tahu mama pelakunya, karena aku tidak akan mengampunimu" ujar pak Rudi serius.
Hallo pembaca setiaku
Dukung terus ya
like, coment dan vote
__ADS_1
Terimakasih🙏