
Keesokan harinya bari dan Narita terlihat masih enggan untuk bangun ketika baby angel menangis. mau ngga mau bari langsung bangun, dan dia yakin baby angel pasti haus.
Baru mau di angkat ternyata popoknya juga penuh. Bari akhirnya mengganti popoknya dulu baru dia bangunkan Narita untuk menyusui.
Narita kaget ternyata hari sudah siang, dia langsung ke kamar mandi dulu baru menyusui baby angel. Sementara bari langsung mengambil air hangat untuk di minum istrinya setelah menyusui.
Saat bari mengambil minum ternyata Bu Marlina sudah selesai memasak.
"kalian sudah bangun"? tanya ibu Marlina
"sudah ma, emank udah jam berapa sih ma"? tanya bari bingung mamanya sudah masak.
"hehehe sudah jam sembilan bar" ucap ibu Marlina sambil ketawa
"hahhh pantas angel sudah menangis haus" ucapnya sambil garuk kepala yang tidak gatal.
"ya sudah kasih minum dulu Naritanya, biar kita langsung sarapan" ujar Bu Marlina sambil terus membereskan makanannya.
"iya ma" jawab bari, lalu dia kembali ke kamar untuk menemui istrinya. Baru aja bari masuk kamar Narita sudah malu.
"bang kok aku bisa kesiangan banget begini ya, aduh malu banget" tutur Narita
"ngga apa - apa sayang, kemarin kamu kan cape banget jadi wajar kalau tidurnya pulas banget" ujar bari
"minum dulu sayang biar nanti baby angel ada stock asi" ujar bari
Narita langsung minum air putih yang di berikan oleh bari sampai habis. Setelah itu barulah bari bersiap untuk mandi, biar bisa gantian dengan Narita.
Ketika bari kelar mandi, dia langsung menyiapkan air mandi untuk baby angel, karena sudah cukup dipangku Narita.
Baby angel kali ini mandi sama papinya, sehingga maminya menyiapkan semuanya keperluannya setelah mandi.
Akhirnya acara drama bangun telat pun usai, sekarang mereka sudah ngumpul di meja makan. Jujur Narita sangat malu karena tinggal makan tanpa membantu apa - apa.
"maaf ma, saya kesiangan banget" ucap Narita tulus
__ADS_1
"sudah tidak apa - apa, mama juga pernah punya bayi kok, kamu pasti sangat cape, jadi wajar telat bangun" ujar Bu Marlina tersenyum ramah. Dari hatinya memang ibu Marlina tidak marah atau apalah karena Narita bangun siang, justru dalam hatinya dia berharap anak dan menantunya itu nyaman di rumahnya, jangan tertekan.
"iya nar, kamu itu harus banyak istirahat juga , nanti pengaruhnya ke angel lho" tambah pak Rudi juga
"iya pa, aku juga bilang ngga apa - apa" canda bari juga.
"memangnya kalau bangun telat di suruh pulang tanpa makan, ya inggalah," ujar bari enteng sambil ketawa lebar. Pak Rudi juga ikut ketawa kecil mendengar candaan bari.
"kalaupun iya makan di restoran kita, tenang aja" canda bari lagi membuat Narita malu.
"kamu fokus dulu ke angel aja selama di sini nar, masalah masak ma gampang" ujar ibu Marlina.
"atau kalau kamu merasa ngga enak ibu yang masak, besok mama minta tolong ibu yang tukang masak di pojok itu" ujar ibu Marlina serius
"ngga usah ma, kita masak sendiri aja" ujar Narita.
"aku setuju tuh dek, minta tolong ibu itu aja ma, nanti dia ngga enak terus, padahal malam dia sudah begadang, apalagi kalau baby angel lagi rewel" tutur bari
"ya sudah nanti ibu bilangin ya" ujar ibu Marlina tulus.
Akhirnya mereka sarapan dengan suasana yang sedikit lebih rileks. Ditambah lagi baby angel yang kadang teriak dan ngomong sendiri dengan bahasa bayinya.
Setelah sarapan mereka akhirnya berangkat ke makam. Di mulai dari makam keluarga bari dimana disana juga makam anak pertama bari. Setelah itu barulah mereka bersama - sama mengunjungi makam keluarga Narita.
Di pusara putranya hati Narita kembali sedih, sepenggal ingatannya ke masa lalu yang sangat pahit. Walaupun berusaha dia kuburkan tapi ternyata tidak segampang itu, dia tetap harus ingat sepenggal kisahnya ketika mengingat putranya itu.
Bari tidak jauh beda, hatinya sangat sedih mengingat kisah tentang anaknya. Dimana dia harus kehilangan anaknya yang telah lama dia tunggu, tidak hanya itu dia juga harus kehilangan istrinya Narita yang mendiamkannya walaupun mereka tinggal satu atap. Hidup bari rasanya sangat hancur kala itu.
Dan ketika istrinya kembali dengan segala cintanya, malah timbul problem baru , yaitu pertemuannya dengan dokter Eva yang membawa dampak sangat buruk, bahkan sampai terjadi pernikahan itu. Walaupun hanya di bawah tangan terbukti bisa merenggut semua kehidupan bari.
Ketika itu bari sudah jadi manusia robot, yang bergerak sesuai yang memberi perintah tanpa perduli baik dan buruk perintah itu.
Sampai akhirnya Tuhan mengirimkan kembali berita tentang Narita lewat teman papanya. Dan yang lebih di syukuri ternyata bari sudah menjadi seorang ayah alias punya anak.
Semua kenangan itu membuat bari tidak bisa menahan air matanya.
__ADS_1
Pak Rudi langsung menghibur anaknya dan juga menantunya.
"sudahlah, biarkan dia tenang di sana" ujar pak Rudi
Sementara ibu Marlina juga ikut menangis sedih, karena dialah penyebab cucunya itu meninggal, walaupun tidak langsung dulu, tapi kedatangannya lah yang menyebabkan Narita jatuh dan shock.
"maafkan mama bar, mama lah yang salah dengan kematian cucuku ini" ujar ibu Marlina sambil mengusap Nisan cucunya.
"mama lah yang membuat semuanya terjadi, tapi jujur mama ngga sengaja, mama khilaf" ujarnya lagi sambil menangis sesenggukan.
Pak Rudi juga ikut meneteskan air mata, tapi pikirannya masih normal sehingga dia masih bisa berpikir bijaksana.
"bari, nari, sudahlah kalian jangan membuat dia ngga tenang disana. Biarlah dia sudah bahagia di sana, tidak usah di ungkit lagi. Kalian sudah langsung dapat dia lagi. Lihatlah Bagas sama angel" ujar pak Rudi lembut
Akhirnya Narita menghapus air matanya. Begitu juga bari, dia membersihkan makam putranya dari daun - daun kering yang berguguran.
Pak Rudi juga membujuk istrinya yang masih terus menangis. Jelas dia merasa paling bersalah di sana. Melihat mertuanya begitu Narita akhirnya tidak tega. Dia langsung membantu mertuannya bangkit berdiri. Dia akhirnya memeluk mama mertuanya.
"sudahlah ma, biarkan dia bahagia di sana, aku sudah ikhlas ma" ucapnya Narita.
Bari juga memeluk mereka berdua, dan masih meneteskan air mata.
"semoga kedepannya kita jangan terpisah - pisah lagi. bukankah lebih enak kalau kita bersama ma, saling sayang" ujar bari
Ibu Marlina makin menangis, dia seperti kecil sekali di banding anak - anaknya. Masa dia harus di ajarin anaknya tentang filosofi hidup.
"sekali lagi tolong kalian maafkan mama, mama pernah salah dan mama menyesal" tutur ibu Marlina.
Semua mereka mengangguk tanda setuju di atas pusara anak pertama Narita.
Hai semua pembaca setiaku
dukung terus ya
like, coment dan vote
__ADS_1
Terimakasih🙏