
Setelah jam makan siang hampir berakhir dan mamanya terlihat tidur setelah minum obat, bari ingin kembali ke kantornya.
Baru aja bari ingin keluar dari rumah sakit itu, terlihat mobil dokter Eva baru masuk dan menurunkan dokter Eva di lobby sehingga mau ngga mau bertatap muka dengan bari.
"hai bar, tumben Lo disini" tanya Eva yang pede kalau bari sedang menunggunya.
"mamaku sakit" ucapnya biasa aja
"oh iya, Tante Marlina sakit? dirawat di sini? di ruangan mana? kok ngga ngabarinsku sih"? cerocos Eva.
"baru sih , baru tadi pagi" ujar bari tetap tenang dan tak berniat untuk menitipkan menjaga mamanya juga atau sering mengunjungi mamanya. Semenjak bari tahu Eva dan mamanya sering ketemu, bari jadi menjaga jarak, karena dia takut akan membuat Narita salah paham lagi.
"oh iya sudah , nanti aku berkunjung deh ke ruangan Tante Marlina" ucap Eva dengan pedenya.
Bari hanya senyum kecil tanpa mengucapkan apa - apa lagi.
"terus sekarang kamu mau kemana"? tanya Eva sok akrab
"mau ke kantor, kerjaanku tadi nanggung" ujarnya sambil mau melangkah
"hati - hati bar" ucapnya sok bijak.
Sementara bari hanya diam tak menanggapi lagi, karena dia malas banyak basa basi dengan Eva jadinya.
Entah kenapa hati bari tidak bisa di bohongi, hanya bersama naritalah dia bahagia. Padahal mungkin kalau dari segi fisik Eva jauh lebih cantik dan dari segi kerjaan Eva bahkan masih di atas bari penghasilannya. Tapi setiap bersama Eva ada kekurang nyamanan di hati bari, mungkin juga karena bukan istrinya.
Sementara kalau bersama Narita bari bisa menemukan ketenangan, apalagi seperti akhir - akhir ini, Narita sangat memanjakan dan mengurus bari, begitupun sebaliknya. Sangat terasa kehangatan dari keduannya.
Saking sibuknya dengan pikirannya, bari merasa sangat cepat nyampe di kantornya.
Dia langsung membereskan kerjaannya, terus nanti niatnya pulang lebih awal untuk menjenguk mamanya dan setelah itu langsung pulang.
Dan tepat pukul empat sore bari sudah tiba di rumah sakit, bersamaan dengan dokter Eva yang masuk ruangan ibu Marlina
"hai bar" sapa dokter Eva, tapi bari biasa aja sambil matanya mencari papanya.
"nak Eva" ucap ibu marlina lemah
__ADS_1
" iya Tante, kok Tante bisa sakit" tanya Eva sok akrab.
"iya nak, kemarin itu Tante lagi pusing" ujarnya pelan.
Sementara pak Rudi sedang mencari kopi di luar, karena dari pagi dia belum ngopi. jadi bawannya ngantuk.
Begitu pak Rudi kembali ke ruangan istrinya, dia heran di sana ada bari dan Eva sedang berbincang dengan istrinya.
"ohhh ada nak Eva"! ujar pak Rudi kurang bersahabat. siapapun yang mencoba menghancurkan rumah tangga anaknya akan dia jauhkan dari istrinya.
"iya om, tadi pas aku dan bari masuk tidak ada orang, Tante Marlina sendiri" ucap Eva
"tadi om beli kopi sebentar ke bawah" ucapnya asal
"ohhh"
Sementara bari yang baru juga sampai agak menjaga jarak, dia memilih duduk di sofa ruangan itu daripada di dekat mamanya dimana sedang duduk dokter Eva.
Melihat dokter Eva masih berbincang dengan istrinya, pak Rudi juga memilih menemani anaknya bari duduk di sofa sambil minum kopinya.
"kalau papa tahu kamu di sini tadi, papa beli dua kopinya" ucap pak Rudi senyum tulus kepada anaknya.
"ohhhh gitu, ngga usah, kamu kalau mau pulang, ngga apa - apa, kasian nari nungguin kamu" ucap pak Rudi pelan dekat telinga bari.
Bari yang mengerti maksud papanya pun mengangguk senyum.
"tapi mama hanya butuh istirahat kan pa" bari memastikan lagi diagnosa dokter.
"iya katanya mama agak terlalu stress" ujar pak Rudi.
Sementara dokter Eva yang mengamati interaksi antara pak Rudi dan bari, dimana bari sangat banyak tersenyum, membuat hatinya kembali berbunga - bunga melihat senyum bari.
Niatnya untuk memiliki bari semakin besar.
'Saya ngga mau gagal untuk kedua kalinya untuk memiliki mu bar' batin dokter Eva
Bari melirik jam tangannya, dan sebelum pulang dia masuk ke kamar mandi dulu. Setelah keluar dari kamar mandi, bari tidak sadar sedang di foto oleh dokter Eva. Dia langsung meraih kunci mobil dan handphonenya, yang tadi dia letakkan dekat meja di depan papanya.
__ADS_1
Setelah pamit kepada mama papanya dan Eva, bari langsung keluar dari ruangan itu.
Dia berjalan sangat cepat ke parkiran, dan hanya satu niatnya sekarang, dia akan langsung pulang dan bertemu dengan istri lembutnya.
Selama perjalanan hati bari sudah berbunga - bunga. Dia sudah lupa sejenak dengan mamanya yang sedang di rumah sakit, karena kata dokter juga tidak ada yang mengkhawatirkan, mamanya hanya perlu istirahat.
Sementara sambil nyetir bari sudah membayangkan senyum malu - malu istrinya, apalagi kalau langsung dia ajak untuk mandi bersama, pasti wajah nari langsung memerah, seperti malu - malu.
Dan biasanya bari akan terus menggoda istrinya itu sampai mereka akhirnya berakhir di kamar, persisnya di tempat tidur, barulah mereka makan malam atau hanya sekedar minum kopi.
Setelah beberapa waktu lalu, Narita kembali hangat, tidak diam lagi, hati bari selalu berbunga - bunga. Tiap malam mereka seperti pengantin baru yang sedang hangat - hangatnya.
Seperti hari ini, Narita yang merasa seluruh tubuhnya lelah tetap berusaha menyambut kepulangan suaminya itu.
"Abang sudah pulang" ucapnya sambil mendekati mobil bari dan meminta tas kerjanya bari.
"iyalah, ngapain Abang lembur di kantor, cape dan sepi, mending gua lembur di rumah" goda bari. Dan seperti tebakannya wajah istrinya itu sampai memerah karena godaan bari tadi.
"ihhh Abang, mesumm terus" ujar Narita tersipu malu sambil melangkah masuk. Bari mengikuti langkah istrinya, dan saat tiba di ruang televisi saat istrinya menaruh tasnya di meja kerja suaminya, bari sudah memeluknya dari belakang.
"itulah yang selalu aku rindukan dek, ketika aku melihat wajahmu yang memerah" ucapnya masih memeluk istrinya dari belakang. Tapi entah kenapa kok Narita malah pusing dan hampir jatuh.
"bang aku agak pusing nih" ucap Narita pelan
"apa" bari langsung membalikkan wajah istrinya dan menuntun istrinya itu ke kamar.
Bari masih menuntun istrinya itu untuk naik ke kasur. Dan setelah nari tidur telentang di kasur ada hal aneh dari kebiasaan Narita.
Narita langsung menci.m bibir suaminya itu. Bahkan bertahun - tahun mereka menikah, tidak pernah Narita seagresif ini. Bari jelas sangat bahagia.
"sekarang kamu yang menggodaku ya, apa pusing tadi hanya akal - akalanmu saja" goda bari yang di angguki oleh Narita, padahal sejujurnya tadi dia benar - benar pusing.
Narita tersenyum manis membuat bari tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk bermesraan dengan istrinya ini. Apalagi kali ini sepertinya istrinya juga sangat mendambakan sentuhannya.
Hai semua pembaca setiaku
dukung terus ya
__ADS_1
like, coment dan vote
Terimakasih🙏