PENYESALAN SEORANG SUAMI

PENYESALAN SEORANG SUAMI
PART 105 BAGAS


__ADS_3

Sementara di tempat lain, Narita di rumah Risma sedang bernostalgia. Mereka asyik bercerita tentang hal - hal kecil dan masalah besar sekali juga.


Risma kadang bercerita tentang rumah tangganya, anaknya dan juga suaminya.


Narita jadi banyak ketawa selama di rumah kak Risma. Narita lupa sejenak dengan keberadaan bari dan juga pak Rudi yang sedikit banyak mempengaruhi hidup mereka.


Setelah larut malam barulah Narita dan Risma masuk kamar untuk tidur.


Narita langsung tidur di sebelah Bagas anaknya. Tapi lewat tengah malam badan Bagas agak panas. Narita langsung memberikannya obat yang sengaja dia bawa takutnya sewaktu - waktu Bagas panas di perjalanan, karena keadaan cuaca yang berbeda.


Ternyata sampai pagi badan Bagas masih agak panas. Niatnya kalau panas sampai siang Narita akan membawanya ke klinik.


"sayang minum obat dulu ya, badanmu masih panas" ujar Narita penuh kasih.


"makanya hari ini kita istirahat aja ya, soalnya kamu itu kecapean, kemarin main seharian di pemancingan itu, sampai lupa minum" ujar Narita.


Baru aja mau ngasih minum obat handphone Narita sudah berdering dari bari.


dddrrttt dddrrttt


"hallo"


"hallo nar, selamat pagi" sapa bari ramah


"pagi" jawab Narita singkat.


"apa aku boleh ngomong sama Bagas"? tanya bari


"hmmm"


Narita langsung menyerahkan handphone ke pada Bagas.


"ini sayang papi mau ngomong" ucap Narita sambil mendekatkan ke kuping Bagas.


"hallo papi" ucap Bagas dengan suara sedikit serak


"lho Bagas, kok suaramu begitu"? tanya bari penasaran sambil mengalihkannya menjadi panggilan video yang langsung di sambut oleh Bagas juga.


"aku sakit papi, badanku panas" adu Bagas padahal Narita sudah menggeleng - geleng biar tidak usah cerita.


"kok bisa nak, sudah minum obat belum"? tanya bari langsung terlihat panik.


"mami mana mami"? tanya bari


"mami, papi mau bicara" terdengar suara Bagas dan gambar handphone juga sudah tidak fokus. Bagas langsung menyerahkan handphonenya lagi ke maminya, Narita.


"hallo" kembali terdengar suara Narita tapi dia tidak mau mengarahkan kamera ke arahnya.


"nar, itu Bagas kok bisa panas begitu, gimana ceritanya? sudah di bawa ke dokter belum?" tanya bari beruntun membuat Narita bingung mau jawab yang mana dulu.

__ADS_1


"tidak apa - apa, dia hanya kecapean itu kemarin, terus saking asyiknya main sampai lupa minum" ujar Narita tetap tenang.


"jangan di sepelein nar, ya sudah ntar aku ke situ biar kita bawa ke dokter" ucap bari


"udah dulu ya" ujarnya lagi dan langsung memutuskan sambungan telepon itu.


Narita jadi seperti merasa terintimidasi, baru aja kemarin kamu tahu Bagas sudah seribet ini, apa kabar kalau kamu tahu Bagas panas waktu kecil.


Narita sudah tidak perduli sama semua yang bari katakan yang membuatnya jadi pusing, padahal biasanya kalau Bagas sakit dia sendirilah yang bergerak dan mengambil keputusan.


"ayo nak, minum obat dulu" ujar Narita


"iya mi" jawab Bagas.


Sementara di tempat lain, bari langsung panik dengar Bagas sakit panas. Bari langsung keluar dari kamarnya dan mencari papanya.


"pa, papa"? panggil bari ngga sabaran


"ada apa"? ujar pak Rudi tenang


"pa" ucap bari langsung menarik papanya keluar biar jangan di dengar mamanya.


"ada apa bar" tanya pak Rudi yang yakin bahwa ini ada hubungannya dengan Bagas.


"Bagas sakit pa, katanya semalaman demam panas" cerita bari terlihat sangat khawatir


"aku ingin kesana pa, aku mau bawa dia ke dokter" ujar bari .


"iya iya, tapi kamu tenang dulu, biar kita bisa mikir" ujar pak rudi tetap bijak.


"Kamu siap - siap aja dulu, bawa pakaian siapa tahu nanti kita perlu nginap" ujar pak Rudi masuk kamar lagi sambil mikir.


Pak Rudi akhirnya mengambil handphonenya.


Dia harus bicara dulu sama Narita, gimana cerita sebenarnya.


dddrrttt dddrrttt dddrrttt


"hallo pa"


"hallo nar, katanya Bagas sakit, benar itu"? tanya pak Rudi.


"Dia hanya panas demam pa, ntar juga dia sembuh. sudah minum obat kok. Mungkin kemarin itu saking asyik main dia kurang minum pa, jadi sedikit dehidrasi. Tapi papa dan bang bari tenang aja, Bagas ngga apa - apa kok" ujar Narita.


"ohhh begitu nak, bari sudah sangat panik nih"


"ngga apa - apa pa, ngga usah panik. ini panas biasa doank. Dia ini cuma kurang minum kemarin" ujarnya lagi.


"ya sudah nar, tapi kalau nanti masih panas, tolong hubungi papa ya. Papa ini mau ke kantor dulu, niatnya siang baru papa ke sana" ujar pak Rudi.

__ADS_1


"tidak usah pa, nanti papa capek. bolak balik sini juga makan waktu dua jam loh. nanti aja papa sama bang bari ke sini kalau kami mau pulang ke Jakarta" ujar Narita tanpa sadar membuat pak Rudi sedih kalau sampai cucunya itu di bawa lagi ke Jakarta. Tapi mau bagaimana lagi, sekarang bukan waktunya untuk memikirkan apapun, karena semuannya masih gamang untuk mengambil langkah. apalagi urusan bari dengan Eva belum benar - benar clear.


"tidak nak, papa ngga cape. Ya sudah kamu urus Bagas dulu ya, nanti siang kami datang" ujar pak Rudi akhirnya.


Pak Rudi masih terlihat bengong ditempatnya ketika ibu Marlina masuk kamar.


"papa kenapa, tumben bengong, sedih"? tanya ibu Marlina sambil menatap suaminya.


"cucuku Bagas sakit" ujarnya datar


deg


' cucunya sakit, sakit apa' batin ibu Marlina


"sakit, sakit apa"? keceplosan juga ibu Marlina akhirnya.


"katanya panas" ujar pak Rudi. Lalu dia mengambil tas kerjanya dan juga kunci mobilnya, terus keluar dari kamar mereka di ikuti ibu Marlina.


"bar, bari" panggil pak Rudi


"iya pa" terlihat bari sudah keluar dengan tas ransel di tangannya. Hal itu membuat ibu Marlina takut, takut kalau bari langsung pergi dari rumah ini seperti katanya tadi malam.


"kamu mau kemana bar" tanya Bu Marlina mendekat. Bari bingung menjawabnya, akhirnya dia turunkan dulu tasnya dan mendekati mama papanya.


Tapi sebelum bari menjawab, pak Rudi sudah lebih dulu bicara.


"katanya Bagas itu hanya sempat dehidrasi ringan, karena kemarin minumnya sedikit. Dan sekarang dia sudah tidur, jadi kita tidak usah ke sana. Nanti siang aja" ujar pak Rudi.


"papa telepon narita pa, terus dia bilang apa lagi" tanya bari makin penasaran.


"memangnya kamu ngga telepon nari"? tanya pak Rudi ke arah anaknya bari.


"telepon sih pa, tapi papa tahu kan nari itu masih malas bicara sama bari pa, dia hanya akan memberikan handphonenya ke Bagas" tutur bari sedih.


"ya sudah ngga usah sedih, itu semua karena kesalahanmu juga. masih bersyukur Narita mengizinkan kita ketemu Bagas." ujar pak Rudi membuat ibu Marlina tersinggung lagi.


"emank dia bisa melarang bari bicara sama anaknya" ujar Bu Marlina membuat pak Rudi kembali berang.


Pak Rudi menatap istrinya tajam.


"kamu diam aja, ngga usah komentar tentang Narita dan Bagas. Kamu ngga suka mereka kan" ujar pak Rudi sengit membuat ibu Marlina langsung terdiam tak berkutik.


Benar juga ternyata, sekalipun penjahat sudah bertobat tidak segampang itu untuk mendapatkan kepercayaan lagi. Padahal tadi ucapan ibu Marlina juga umum bahwa tidak ada anak yang bisa dilarang ketemu papanya.


Hai semua , jangan bosan ya


like, coment dan vote


Terimakasih🙏

__ADS_1


__ADS_2