
Bari dan pak Rudi hanya bisa menunduk di kursi tunggu rumah sakit itu mendengar ucapan Risma.
Jujur bari memang sangat marah sama mamanya, marah banget, tapi untuk melaporkan ke polisi juga sepertinya masih jauh dari pikiran bari.
Lalu harus gimana?
Sementara pak Rudi lebih realistis lagi, dia memang tidak ingin istrinya masuk penjara, tapi kalau nantinya memang itu yang terjadi mau apa lagi. Mungkin harus begitulah yang dilalui oleh istrinya, karena itu juga akibat dari ulahnya.
Akibat ucapan Risma tadi membuat sedikit ada ketegangan di antara mereka bertiga, tidak lagi seakrab biasanya. Tapi juga karena mereka masih sibuk dengan pikiran masing - masing tentang Narita yang belum sadar dan bayinya yang masih kritis.
Beberapa waktu disana mereka bertiga hanya terdiam tanpa ada percakapan. Sampai ketika Risma ingin beranjak menuju ruangan Risma aja, terdengar beberapa petugas medis buru - buru masuk ke ruangan NICU itu. Mereka sedikit terlihat panik.
Risma masih terbengong dengan orang - orang itu, tidak berapa lama seorang dokter yang tadi memanggil bari juga terlihat buru - buru keluar dan lalu masuk lagi.
Mau ngga mau bari dan pak Rudi yang sangat penasaran langsung bertanya.
"kenapa dokter" tanya bari serius. Terlihat dokter itu terdiam sejenak lalu bicara lagi dengan pelan.
"maaf pak, keadaan bayi bapak semakin men..." belum sempat dokter ucapkan kata menurun seorang perawat langsung memanggil dokternya buru - buru dan membisikkan sesuatu.
"maaf pak" ucap dokternya langsung masuk.
Bari dan pak Rudi serta Risma sudah berdiri di depan pintu ruangan itu. Ketiganya tidak ada pembicaraan hanya sibuk dengan pikiran masing- masing. Bari bahkan mungkin otaknya sudah tidak bisa berpikir tentang apa pun, dia hanya melihat ke pintu ruangan itu. Mau kabar baik atau kabar buruk dia ngga berani berpikir lagi. Dia hanya diam.
Dan...ketika pintu ruangan itu terbuka terlihatlah dokter dan dua perawat yang menemaninya keluar dengan wajah lesu.
Dokter hanya menatap bari sepintas dan langsung ngomong to the point aja.
__ADS_1
"maaf pak, kami sudah berusaha melakukan yang terbaik, tapi Tuhan berkata lain, bayi bapak sudah......" ucapan dokter itu akhirnya tidak sampai tapi bari sudah bersujud dilantai rumah sakit itu sambil bicara untuk diri sendiri.
"kamu meninggalkan papa juga nak" ucapnya teriak sambil meremas rambutnya. Dia sepertinya menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian anaknya. Dia tidak perduli lagi ini rumah sakit, dia benar - benar menangis. Biarlah dia di bilang cengeng.
Pak Rudi yang melihat kehancuran bari jadi ikut menangis juga, dia belum sempat memangku anaknya tapi sudah pergi meninggalkan mereka. Pak Rudi sangat mengerti perasaan anaknya sebagai seorang papa.
"maaf pak, kalau begitu kami pamit dulu, untuk jenazah bayi anda sedang di bereskan sebentar" ujar sang dokter
"makasih dok" ujar pak rudi
Pak Rudi mengangkat anaknya bangkit berdiri, dia semakin bingung sekarang mau pikir dan mau urus yang mana dulu.
Dia sebenarnya masih ingin menemani anaknya, menghibur anaknya, sekalipun dia sendiri juga sangat terpukul dengan kejadian ini. tapi jenazah cucunya juga harus segera di urus, belum lagi menantunya yang belum siuman.
Ingin rasanya pak Rudi teriak mau urus yang mana dulu. Atau ingin teriak siapa yang bisa membantunya atau di ajak bicara sekarang untuk mencari solusi. Sementara minta pendapat istrinya tidak mungkin, mereka masih bersebrangan pendapat sekarang. Bahkan kalau boleh di bilang saat ini yang paling pak Rudi sedihkan setelah kehilangan cucunya adalah tindakan jahat istrinya, jadi gimana bisa di ajak bicara.
Risma berpikir beda lagi, setelah mendengar dari dokter tadi tentang kematian bayi Narita, Risma langsung ingat semua cerita Narita dulu waktu awal - awal mereka tinggal bersama..dia masih berpikir kalau mamanya bari yang sengaja membunuh bayinya Narita. Akhirnya dia teriak kepada bari yang masih menangis.
"puaskan, ya pasti puaslah , ...dia tidak menginginkan Narita punya anak, makanya dulu dia terus menekan Narita biar jangan hamil, dan kalau hamilpun , anaknya Narita tidak dia izinkan hidup katanya hehehe," ujar Risma setengah teriak sambil menangis mengingat perjuangan Narita
dulu.
" benar - benar ya,... mamamu itu bukan manusia, padahal Narita tidak menyusahkan kalian, Narita berjuang sendiri" teriaknya lagi sambil masih menangis.
Bari menatap kak Risma dengan sedih.
'apa benar mamanya ingin membunuh anak kami '
__ADS_1
'apa benar sejauh itu tujuan mama'
'tapi kalau dilihat kejadiannya, mama mungkin memang sengaja menekan Narita sampai dia pingsan'
Bari masih bengong memikirkan perkataan Risma sambil masih menatap risma, pak Rudi juga menyimak setiap ucapan Risma.
'kalau benar itu tujuanmu ma, kamu sudah menghancurkan anakmu sendiri, itu sama aja kamu menghancurkan dirimu sendiri' batin pak Rudi.
'tapi apa iya, istriku, yang sudah lama mendampingiku sampai berbuat kejahatan sejauh in'
Ahhh pikiran pak Rudi jadi tambah pusing mikirin itu,istrinya memang selama ini belum pernah berbuat jahat, tapi semua kejadian memang seolah membenarkan ini ulah istrinya, dan dari dulu dia memang tidak suka sama Narita. Jadi mungkin aja kan rasa benci membuat orang sampai senekad itu.
Tapi masalah itu kesampingkan dulu deh, mendingan urus jenazah cucunya dulu, dia ingin membawanya ke kota dan dikuburkan dengan acara doa di kota tempat tinggal pak Rudi, supaya dia bisa jiarah sewaktu - waktu.
Akhirnya pak Rudi bicara dengan sedikit bijak, dia juga tidak ingin membantah ucapan Risma karena itu bisa menimbulkan pendapat baru lagi dari pandangan Risma, sementara selama Narita tidak ada yang memperhatikan, rismalah yang berada di barisan depan mengurus dan menjaganya. Bahkan Risma terlihat sudah menganggap Narita seperti adik kandungnya.
"Nak Risma, kami minta maaf kalau kami ngga bisa menjaga Narita dan cucuku. Kalaupun ini ulahnya mamanya bari, Tapi untuk sekarang mendingan kita urus jenazah cucu saya dulu, belum lagi, Narita belum sadar" ujar pak Rudi bijak sebagai orang tua
"Belum lagi sekarang sudah tengah malam nak" ujar pak Rudi pasrah dengan pendapat Risma juga. Karena pak Rudi sangat yakin memang Risma sangat sayang sama Narita.
Bari masih bengong, tapi sekarang dia menatap papanya. Dia seperti belum percaya dengan semua kejadian ini. Dia masih menganggap seperti mimpi. Pikirannya benar - benar blank.
"Bar, papa ingin bawa jenazah cucu papa ke kota, biar dimakamkan disana besok ya" ujar pak Rudi pelan takut ada yang berbeda pendapat juga sambil menatap bari dan Risma bergantian.
Bari masih bengong belum jawab ya atau tidak atau hanya sekedar menganggukkan kepala. Dia hanya menatap papanya dengan tatapan kosong. Kembali airmatanya menetes di pipi mengingat istri dan anaknya.
Hai semua, tarik nafas dulu ya
__ADS_1
like, coment dan vote ya
Terimakasih 🙏