PENYESALAN SEORANG SUAMI

PENYESALAN SEORANG SUAMI
PART 104 CUCUKU


__ADS_3

Setelah saling terdiam untuk beberapa saat, akhirnya pak Rudi bertanya juga untuk istrinya.


"gimana ma, kamu mau mendukung bari atau tetap menentangnya, jawab dengan jujur dari hatimu. Jangan sampai kamu pura - pura setuju supaya bari tidak bisa menentukan langkahnya keluar kota. Ingat ma kalau kebahagiaan anak itu adalah yang utama buat orang tua yang tidak egois. Jadi jangan sampai egoismu itu membuat bari sengsara seumur hidup" ujar pak Rudi sangat serius.


Ibu Marlina terlihat berlinang air mata, entah dia menyesal, entah dia pura - pura cari perhatian, hanya dialah yang tahu.


"tidak perlu menangis ma, karena aku masih hidup. Aku hanya ingin mama tulus menerima Narita, jangan pura - pura. aku takutnya usahaku sia - sia seperti selama ini. Aku berusaha mendapatkan Narita tapi mama berusaha memisahkan kami" ujar bari jujur dan to the point.


"kalau nanti aku bisa mendapatkan Narita dan mama berusaha memisahkan kami lagi, ingat ma, mama tidak hanya kehilangan Narita tapi juga akan kehilangan aku, aku serius" ujar bari yakin


Selama ini memang itulah yang terjadi, bari mengejar Narita mati- Matian tapi mamanya memisahkan mereka mati - matian juga.


Ibu Marlina masih betah dalam diamnya. Dia bingung harus bagaimana juga. Akhirnya dia hanya bisa menangis dan minta maaf sama bari. Mungkin untuk saat ini hanya itu yang bisa dia lakukan.


"maafin mama bar" hanya itu yang bisa dia ucapkan, karena airmatanya sudah mengalir deras. Pak Rudi dan bari juga membiarkan ibu Marlina menangis sepuasnya, mereka terdiam beberapa saat lamanya sambil menunduk dengan pikiran masing - masing. Barulah setelah ibu Marlina menghapus air matannya bari kembali bicara.


"maaf ma, bari selalu kok memaafkan mama. Tapi apa mama juga tahu, karena menurut sama mama berapa hati yang sudah tersakiti ma" ujar bari lagi.


Lalu dia membuka galeri handphonenya dan menunjukkan foto seorang anak yang sangat tampan, yang di foto bari saat mereka keluar dari hotel SS dan juga dekat pemancingan, yaitu foto Bagas.


"mama lihat anak ini" ujar bari sudah menangis.


Ibu Marlina melihat foto anak itu dan merasakan satu getaran dalam hatinya. Belum sempat dia bertanya bari sudah menjelaskan lagi.


"Dialah anakku yang baru aku tahu setelah umurnya lebih dari enam tahun ma" ujar bari sudah meneteskan airmata.


degggg


'cucuku' gumam Bu marlina

__ADS_1


"mama tahu bagaimana perasaanku begitu mengetahui ini ma, mulutku langsung terbuka untuk menangis, untuk ketawa dan untuk bertanya, benarkah aku sudah punya anak"? ujar bari dengan tetesan airmata. Lalu dia diam sejenak, setelah itu barulah dia teruskan mengutarakan perasaannya.


..."bapak seperti apa aku ma" teriak bari sambil menangis dan menepuk dadanya....


...Ibu Marlina masih terlihat shock dan tak percaya, ini seperti mimpi baginya, tapi sangatlah nyata dan juga di ucapkan anaknya bari....


Ibu Marlina masih mematung di tempatnya, tapi airmatanya sudah tidak dapat di bendung, makin deras mengalir. Dia bingung mau ngomong apa juga sekarang, ternyata selama ini dia sudah punya cucu yang tanpa dia ketahui.


Lalu ibu dan nenek seperti apakah dia sebenarnya?


"Karena keegoisanmu ma, kamu lihat berapa banyak hati orang yang tersakiti. Bagas cucuku kehilangan figur ayah selama enam tahun, dulu bari kehilangan anaknya sampai bari kehilangan semangat hidup dan kebahagiaannya, Narita kehilangan anak dan suaminya, dan aku ma, aku kehilangan senyum anakku dan cucuku. Gimana ma, kamu dapat apa ma? kesenangan apabyang kamu dapatkan dengan Eva? kesenangan yang bagaimana yang kamu dapat dari seorang menantumu yang dokter dan kaya raya itu? kebahagiaan apa yang kamu dapat dengan penderitaan bari yang mencintai gadis miskin tapi kaya hati seperti Narita?" teriak pak Rudi juga mengeluarkan semua uneg - unegnya yang selama ini dia pendam karena percuma juga ngomong sama istrinya yang keras kepala itu.


"Narita sampai pergi jauh demi menyelamatkan anaknya dari keganasan nenek anak itu" geramnya lagi


Terlihat pak Rudi juga meneteskan airmata, tapi dia berusaha menutupinya dengan memandang langit - langit rumah mereka.


"apa kamu ngga pernah berpikir ma, bahwa apa yang bari katakan tadi semua benar. Keegoisanmu telah merusak hidup bari, yang kebetulan juga tidak bisa bersikap tegas sama kamu, karena kamu adalah ibunya." ujar pak Rudi lagi.


"bar, sekarang lakukan sesuai hati nuranimu, lakukan tanggung jawab dan kewajiban mu." ujar pak Rudi yakin


Bari mengangguk - anggukkan kepalannya. Dia kembali melihat - lihat foto yang ada di galery handphonenya. Melihat foto - foto Bagas membuat dia bisa kembali tersenyum.


Lalu bari menyeruput kopinya sambil mengganti profil di handphonenya menjadi Narita dan Bagas.


"saya tidur dulu pa, saya sangat cape" ujar bari. Setelah menaruh gelasnya ke tempat cucian piring, diapun berlalu ke kamarnya.


Walaupun cape bari masih sempat merapikan kamarnya yang baru di acak - acak oleh Eva. Dengan sabar bari membereskan semua pakaiannya di dalam lemari.


Bari jadi seperti punya semangat baru lagi untuk berbenah, dia berharap suatu saat nanti Narita dan Bagas ada bersama dia di kamar ini. Supaya kamar ini tidak sepi lagi.

__ADS_1


"ya sudah, tidurlah, besok aku juga harus kerja" ucap pak Rudi ke arah ibu Marlina lalu menyeruput kopinya lagi.


Setelah itu diapun berlalu ke dalam kamarnya. Di dalam kamarnya pak Rudi juga membayangkan kalau Bagas datang mengganggunya dan memanggilnya untuk di ajak bermain.


Membayangkan itu membuat pak Rudi jadi tersenyum sendiri.


Sementara ibu Marlina yang masih duduk di ruang tamu masih betah di tempat duduknya dan dalam diamnya. Hanya matanya yang kadang meneteskan airmata tanpa bisa dia bendung.


Ibu Marlina kembali terbayang dengan semua yang dia lakukan di waktu lalu.Mencoba memisahkan bari dengan Narita dengan segala cara. Bahkan sampai dia kehilangan cucunya.


'sekarang kamu puas Marlina, cucumu yang pertama sudah pergi, dan yang kedua ini hidup tanpa ayah, hebat kamu Marlina, hebat kamu' kata hati ibu Marlina dari satu sisi


Tapi masih ada sisi hatinya yang berisi pembelaan akan kejahatannya.


'pasti Narita itu sengaja datang saat - saat bari dan Eva sedang ada masalah kan' kata hati sebelahnya


'emank kapan bari dan Eva terlihat bahagia, kapan? saat seperti apa? bahkan sebelum menikah dengan Eva, bari itu sudah seperti mayat hidup gara - gara di tinggal Narita' kata hatinya sebelahnya


'ahhh itu bisa - bisanya bari aja' kata hati yang selalu ingin merusak rumah tangga bari.


Ibu Marlina terlihat bingung dengan kata hatinya yang saling bertentangan itu. Tapi dia ingat lagi sebagian kata - kata pak Rudi tadi.


"kebahagiaan anak adalah hal utama bagi orang tua yang normal dan tidak egois" ucap pak Rudi tadi


Ibu Marlina stress sendiri, dia menggaruk kepalannya yang tidak gatal dan juga menarik rambutnya sendiri. Ingin rasanya dia teriak sekarang, entah teriak apa yang pasti melampiaskan semua rasa sesalnya.


Hai semua dukung terus ya guys


Like, coment dan vote

__ADS_1


Terimakasih🙏


__ADS_2