
Ibu Marlina semakin takut ketika melihat suaminya terlihat sangat sedih. Dia melihat suaminya sedang memikul beban yang sangat berat. Tapi untuk bertanya banyak dia tidak punya nyali lagi dan akhirnya Dia hanya berani menunduk dan diam. Menunggu apa yang akan disampaikan oleh suaminya.
"apa rencanamu dengan Eva"? tanya pak Rudi datar.
Marah juga tiada gunannya kalau istrinya masih betah diam, batin pak Rudi. Sehingga dia menurunkan sedikit volume suaranya walaupun tetap dengan tekanan yang sama.
Jelas ibu Marlina sangat kaget, kenapa suaminya tahu tentang dokter Eva.
"ngga ada" jawabnya takut - takut
"terus tadi pagi untuk apa kalian ketemu"? tanya pak Rudi to the point.
"ya...." ibu Marlina bingung mencari alasan apa lagi, membuat pak Rudi kembali terlihat emosi. Pak Rudi emosi karena sekarang dia melihat istrinya itu sudah seperti orang asing, orang yang tidak punya hati.
Itu berarti pak Rudi gagal sebagai suami untuk membimbing istrinya itu ke jalur yang seharusnya.
"kenapa sih ma, tak ada pertanyaan papa yang bisa mama jawab dengan benar, selalu gugup. apa semua yang kamu rencanakan dan lakukan sudah tindak pidana"? tanya pak Rudi tegas, membuat ibu Marlina terdiam.
"apa semua yang kamu rencanakan hanya akan membuatku marah" lanjutnya belum puas.
Melihat istrinya hanya betah diam, pak Rudi akhirnya mengeluarkan ultimatumnya.
"Kalau kamu tidak mau cerita atau menjawab pertanyaanku dengan baik, tidak apa - apa, asal mama jangan menyesal. aku akan membiarkan kamu membusuk di penjara. Mungkin itu yang terbaik buat kamu, supaya kamu kembali ke jalan yang benar. Aku sebagai kepala rumah tangga sudah gagal membimbingmu. Ingat ma, Narita itu sekarang bukan Narita yang dulu, yang bisa kamu perlakukan sesukamu. Sekarang ada orang dibelakangnya, yang tidak terima dengan tindakanmu perlakuanmu. Dan kamu tidak akan bisa mengelak dari tuduhan pembunuh anaknya dan bahkan bari pun tidak bisa membantumu sama sekali, kamu tahu kenapa? karena mereka menganggap bari juga bersekongkol denganmu dan itulah yang membuat bari sangat terpukul. Ternyata anaknya mati di tangan mamanya. kamu pembunuh" ucap pak Rudi geram karena ibu Marlina seperti tetap merasa di atas angin. Mungkin sedikit lebih di perjelas dan di sadarkan supaya ibu Marlina sedikit sadar apa dampak dari perbuatannya.
Ibu Marlina sangat kaget dan takut mendengar kata penjara dan ada orang di belakang Narita yang tidak terima. Ibu Marlina juga ngga terima di bilang pembunuh, karena dia tidak melakukan apa - apa.
__ADS_1
"tapi aku tidak melakukan apa - apa pa, begitu dia buka pintu dia langsung pingsan dan memanggil pembantunya" ujar Bu Marlina akhirnya membuat pak Rudi tersenyum miring. Akhirnya kamu ngomong sendiri, batin pak Rudi.
"lalu kenapa kamu tidak segera menolongnya, kamu sengaja supaya anaknya tidak tertolong dan kamu akan jodohkan bari dengan Eva, begitu kan" ujar pak Rudi penuh tekanan.
Ibu Marlina kembali hanya bisa menunduk, sebenarnya kemarin malah rencanannya tidak sejauh itu, dia hanya ingin melihat Narita yang sekarang memang, untuk sementara hanya itu. Tapi yang terjadi malah di luar kendalinya dan di luar dugaannya.
"yaaa karena aku juga kaget" ucapnya membela diri. Tapi jawaban itu sama sekali tidak masuk akal buat pak Rudi.
"ohhh iya, sampai berapa lama kamu kaget, sampai setengah jam atau bahkan sehari sampai kamu ngga sadar sudah sampai di rumah ini, gitu" tanya pak Rudi penuh ejekan.
"ingat ya ma, ini terakhir aku katakan kepadamu, stop urusin rumah tangga bari, atau rumah tangga kita yang bubar. aku tidak bermimpi punya istri seorang narapidana karena keegoisannya" ucap pak Rudi mantap sambil menatap tajam ibu Marlina.
"Dan kalau kamu tetap berusaha memisahkan bari dan Narita, akulah yang akan menyerahkan mu ke polisi, dan pernyataan itu sudah di tandatangani bersama pihak Narita, ingat itu" ujar pak Rudi mengancam ibu Marlina walaupun dengan sedikit kebohongan.
"oh iya, sampaikan juga kepada dokter Eva mu itu, percuma dia dekatin bari, cintanya bari sudah utuh untuk Narita, tidak akan berhasil dia ganggu gugat, jadi dia hanya buang - buang waktu mencoba memisahkan mereka" ucap pak Rudi.
Ibu Marlina sudah tidak berdaya lagi sama sekali. bahkan sekarang dia sudah sangat ketakutan bahkan hanya untuk bertanya dimana jenazah cucu mereka sekarang, atau keadaan Narita gimana?
Dia hanya bisa menunduk di hadapan suaminya, dan akhirnya pak Rudi memutuskan untuk masuk kamar dan membawa dua stel pakaiannya, dia ingin mampir ke kantornya sebentar lalu pulang ke kota B dimana menantunya di rawat.
Setelah memasukkan ya ke ransel kecil, pak Rudi keluar dengan pakaian rapi seperti biasa mau ke kantor. Dia hanya berlalu dari depan ibu Marlina yang masih duduk di sofa ruang keluarga itu.
"papa mau kemana" ibu Marlina memberanikan diri untuk bertanya.
"ke kantor" jawab pak Rudi pendek karena niatnya memang dia mau ke kantor dulu baru nanti ke kota B dan menginap di rumah bari.
__ADS_1
"tapi kok bawa...?"
"bawa baju kerja besok, aku ngga pulang, supaya kamu bebas berpikir jernih dulu dan menyadari apa yang sudah kamu lakukan. Toh cucuku juga sudah tiada"! ucap pak Rudi sangat sendu langsung memotong pertanyaan ibu Marlina.
"berarti papa...."? ibu Marlina bertanya sambil bangkit berdiri.
"aku ngga pulang, sampai mama sadar, aku ingin jauh dulu dari mama, aku belum siap melihat wajahmu setiap saat dan takut aku khilaf mengingat derita anakku akibat ulahmu" ucap pak Rudi datar sambil berlalu dari hadapan istrinya.
Ibu marlina sangat sedih mendengar suaminya tidak akan pulang karena perbuatannya. Biar bagaimana pun tidak ada istri yang mau di tinggal oleh suaminya saat dia punya masalah, apalagi ditengah - tengah kegalauan ibu Marlina sekarang ini kecuali masalahnya karena suaminya. Tapi ini beda, ibu Marlina lah yang buat masalah.
Sementara anak semata wayangnya bari juga tidak mungkin sebagai tempat curhatnya sekarang. Lalu kemana ibu Marlina bisa bertukar pikiran atau sharing.
Ke dokter Eva,? sepertinya dia tidak punya keberanian lagi menghubungi Eva setelah ultimatum dari suaminya tadi. Yang ada ntar nambah masalah buat dia dan juga bari serta dokter Eva.
Ibu Marlina akhirnya stress sendiri. Sementara suaminya sudah berlalu dari rumah mereka dengan mobil bari.
Lalu apa yang harus dia lakukan sekarang?
Di rumah pun hatinya tidak akan tenang. Dia pasti tidak bisa tidur.
dukungannya ya guys
like, coment dan vote
Terimakasih🙏
__ADS_1