
Karena hari semakin malam, kak Risma dan ibu may ingin mencari makan dulu diluar, nanti kalau memungkinkan ibu may ingin pulang ke rumahnya. sehingga yang tinggal di ruangan itu hanya bari dan juga pak Rudi.
"Bar, kamu jangan begitu terus, kamu duduk disini dulu bentar, biar badanmu sedikit rileks, dari siang kamu begitu terus lho" ucap pak Rudi yang sangat kasian sama anaknya.
"iya pa, ngga apa - apa kok" ucap bari sopan, karena papanya itu satu - satunya tempat dia bertukar pikiran termasuk tentang ibunya.
Mengingat perilaku ibunya, Akhirnya bari bangkit berdiri juga dan mendekati papanya. Dengan lesu dia duduk dekat papanya.
"pa, kenapa mama tega melakukan ini sama Narita dan anakku pa" akhirnya pertanyaan yang dari tadi dia tahan meluncur juga dari mulutnya ketika mereka hanya berdua di ruangan ini dengan papanya.
"hahhhh" terlihat pak Rudi menarik nafas sangat berat.
"maafkan papa bar, papa ngga bisa jaga mama kamu sama Narita" ucap pak Rudi lesu
Bari hanya menarik nafas panjang juga, dia juga yakin kelakuan mamanya di luar kendali papanya.
"saya hanya ngga habis pikir pa, kenapa mama sampai berbuat sejauh ini" ucap bari sangat sedih.
"hahhhhhh, menurut mamamu dia tidak berbuat apa - apa bar, nari langsung jatuh di hadapannya" ujar pak Rudi menjelaskan.
"katakanlah begitu pa, tapi kenapa mami ngga langsung tolongin Narita pa"? ujar bari.
"yahhh papa juga ngga yakin dengan cerita mamamu bar, tapi sekalipun benar ceritanya, benar katamu kenapa dia ngga langsung tolongin Narita" tutur pak Rudi menatap ke satu arah.
Baru aja mereka sibuk dengan pikiran masing - masing terdengar panggilan dari pengeras suara milik rumah sakit.
'perhatian kepada orang tua atau saudara dari bayi nyonya Narita diharap segera ke admin ruang nicu segera'
Bari dan pak Rudi saling pandang lalu memandang bed Narita yang masih belum sadarkan diri juga.
"kamu harus segera ke sana bar, pasti ada yang penting" ucap pak Rudi.
"ya sudah papa disini dulu, aku ke ruang NICU" ujar bari langsung bangkit berdiri.
__ADS_1
Bari keluar dari ruang rawat Narita dan langsung menuju ruang NICU tempat bayinya di rawat.
Sementara bari menuju ruangan NICU ternyata kak Risma juga mendengar panggilan tadi. Dia dan Bu may langsung bergegas masuk ruangan Risma lagi.
Ternyata yang disana tinggal pak Rudi, bari sudah menuju ruangan dokter NICU.
"pak tadi ada panggilan kan"? tanya kak Risma
"iya nak, bari sudah menuju ke sana karena disini tadi ngga ada yang jagain Risma jadi bapak disini dulu" terang pak Rudi
"temanin aja bari om, takutnya karena gugup dia malah ngga tahu apa yang mau di tanyakan" jelas Risma, sehingga pak Rudi langsung bangkit dan menyusul bari.
Sementara bari baru aja sampai di ruangan dokter itu.
"selamat malam dok, saya suaminya ibu narita, gimana keadaan anak saya dok" tanya bari to the point
"Maaf pak bari, saya harap bapak jangan berkecil hati dulu, setiap kemungkinan masih ada harapan, tapi kami tetap harus sampaikan ini" ujar sang dokter bersamaan dengan pak Rudi yang datang ke ruang NICU menyusul anaknya bari.
Pak Rudi mulai deg - degan mendengar dokter berkata 'harus menyampaikan ini' karena biasanya itu pasti berita kurang bagus.
"maaf pak, bapak ini siapa"? tanya sang dokter
"maaf dokter, saya kakek dari bayi itu, mertua dari ibu Narita, papanya bari" jelas pak Rudi sambil memegang pundak bari yang terlihat kembali tambah kacau.
"Begini pak, jujur kami sudah berusaha melakukan yang terbaik, kami sudah observasi selama beberapa jam ini, tapi kondisi bayi bapak bukanya membaik malah tambah menurun. Kami hanya menyampaikan ini supaya keluarga siap dengan segala kemungkinan terburuk, karena semua upaya sudah kita lakukan", tutur sang dokter pelan dan sudah siap untuk di pelototi keluarga pasien karena ini sudah umum, keluarga pasien pasti minta lakukan yang terbaik lagi.
"dan sekarang kondisi bayi bapak sedang kritis" ucap sang dokter pelan tapi menggelegar di batin bari dan pak Rudi.
"jadi tidak ada lagi yang bisa di lakukan dok" tanya bari sudah berlinang air mata.
"tetap ada pak, kami tetap usahakan, dan kami juga mengharapkan keluarga untuk berdoa demi kesehatan bayi ini, jika Tuhan mengizinkan segala sesuatu bisa terjadi pak" ujar dokter itu lagi.
Tangis bari pecah di ruang dokter itu.
__ADS_1
"Sabar bar, segala sesuatu masih bisa terjadi bar, kamu berdoa aja terus ya" ujar sang papa juga sudah meneteskan airmata.
Dia seorang ayah yang tidak bisa mengurangi kesedihan anaknya. Itulah kesedihan pak Rudi yang paling dalam, ketika melihat anaknya hancur hati.
"baik pak, bisa tunggu di luar lagi supaya kami bisa melakukan observasi lagi" ujar dokter itu.
Bari dengan lemas bangkit berdiri dan ingin keluar dari ruangan itu. Hatinya benar - benar hancur mendengar kenyataan itu. Dia harus bagaimana sekarang? Apa dosanya sampai Tuhan menghukumnya sedemikian?
"kami permisi dokter" akhirnya pak Rudi yang bicara dengan dokter itu karena bari terlihat sudah sangat hancur.
Begitu mereka keluar dari ruang dokter itu ternyata kak Risma juga sudah berdiri di depan pintu menunggu mereka.
"gimana bar" langsung tanya Risma tambah kalut melihat bari meneteskan air mata begitu juga papanya terlihat sangat sedih.
"anakku kritis kak" ucap bari sambil mendongak ke atas seolah menatapi plafon rumah sakit itu.
"apahhhhh" teriak Risma juga reflek ngga bisa menahan keterkejutannya.
"iya nak Risma, menurut dokter kondisi cucuku terus menurun" tutur pak Rudi juga mengikuti bari duduk di kursi tunggu ruangan itu.
Sementara Risma yang masih berdiri menghadap pintu ruang NICU itu sangat geram akhirnya menerima kenyataan ini.
"ini semua gara - gara mama kamu bar," ucapnya terlihat sangat marah tanpa menoleh ke bari dan pak Rudi.
"aku akan laporkan mamamu ke polisi kalau sampai terjadi sesuatu dengan Narita dan anaknya. Mamamu harus tanggung jawab. Padahal Narita sudah tidak mengusiknya, Narita sudah menjauh dari kalian, kenapa mamamu sangat jahat, sangat jahat" ujar Risma kencang membuat bari dan pak Rudi seolah baru tersadar ada Risma yang merupakan bagian dari perjuangan Narita, yang bisa saja keberatan dengan semua tindakan mamanya.
Kalau Risma membawa kasus ini ke jalur hukum, bisa jadi memang mamanya kena pidana.
Tapi kalau Narita dan anaknya segera membaik bari yakin Narita tidak akan mempermasalahkan itu lagi, tapi gimana kalau yang terjadi sebaliknya.
Bari semakin kalut hatinya. Ruwet banget, bingung mau mengatasi yang mana dulu dan memikirkan yang mana dulu. Karena semua yang kak Risma ucapkan tadi juga bisa aja terjadi.
Hai readersku
__ADS_1
like terus ya, coment dan vote juga
Terimakasih🙏