PENYESALAN SEORANG SUAMI

PENYESALAN SEORANG SUAMI
PART 140 JIKA BOLEH


__ADS_3

Keesokan harinya bari dan Narita bangun kesiangan. Baru langsung lompat begitu dengar ketukan di pintu kamar mereka. Saat menyingkap selimut mereka baru baru sadar kalau istrinya belum memakai baju. Dia akhirnya menutupnya lagi dengan selimut dan berjalan membuka pintu.


"bar, nari mana angel haus nih" ujar ibu Marlina di depan pintu


"ohhh lagi mandi ma, kami kesiangan, sebentar ya" ujar bari sambil berusaha meraih baby angel.


"ohhh tunggu maminya aja, kamu juga mandi dulu aja, biar mama yang gendong angel" ucap mama Marlina.


Setelah selesai mandi, bari dan Narita langsung mencari baby angel. Ternyata ibu Marlina dan pak Rudi sudah mengatasi dengan beberapa sendok air putih.


Narita merasa sangat bersalah putrinya ngga minum semalaman, di tambah dia bangun ke siangan.


Baby angel langsung minum dengan rakusnya ketika Narita mulai menyusui di belakang. Bari yang melihat putrinya begitu ikut senyum.


"aduh putri papi haus banget ya, soalnya tadi malam kita gantian gel, maaf ya sayang papi kebablasan" ujar bari sambil mengusap kepala putrinya.


"papi sih ngga malu, ngga ingat umur" ujar Narita menirukan suara anak kecil.


"maaf sayang, papi sudah sangat kangen mamimu hanya milik papi" ucapnya santai


"ihhh bang bari" ujar Narita jelas malu.


Setelah selesai minum seperti biasa bari akan membereskan bekas minum baby angel dan memberikan air hangat untuk di minum istrinya lagi.


Ternyata papa dan mamanya bari sedang bercanda di depan bersama Bagas. Bari dan Narita serta baby angel bergabung lagi di sana.


Ibu marlina sengaja menggelar kasur kecil dilantai terasnya yang lebar untuk tempat baby angel mutar bolak balik.


Baby angel terlihat menggemaskan apalagi di tambah sering di godain Bagas.


"coba aja kalian bisa tinggal di sini tiap hari" ujar pak Rudi sendu. Adia membayangkan dua hari lagi mereka pulang, rumahnya akan kembali sepi.


"ya elah pa, selagi kami di sini nikmatin aja, kalau tiap hari juga papa sama Mama nggada waktu tidurnya, momong terus" canda bari.


"ya ngga apa - apa bar, justru papa sebenarnya kangen hal yang begitu, bermain bersama cucu sepanjang waktu. Apalagi bentar lagi papa sudah ingin pensiun" ujar pak Rudi sedikit sendu.


"ya papa doain bari aja pa, dapat rumah dekat sini, biar papa bisa dekat dengan cucu papa" ucap bari tegas

__ADS_1


Pak Rudi terlihat bingung dengan ucapan bari, dia memandang bari sambil menganga apa kupingnya yang salah atau anaknya ini yang salah ngomong.


"maksudmu" tanya pak Rudi ragu juga sambil berharap kupingnya tidak salah dengar.


"Aku dan nari ingin mencari rumah di sini pa, nanti kalau sudah saatnya di sini biar kami bisa menempati rumah sendiri, syukur - syukur sih bisa dekat sama mama papa" ujar bari


"kalian mau balik tinggal disini"? tanya pak Rudi serius


"nanti pa, kalau rumah kami sudah ready di sini" ucap bari lagi


"kenapa harus cari rumah bar, apa rumah ini kurang besar untuk kita. Nanti papa rombak lagi" ujar pak Rudi semangat


"bukan kurang besar pa, tapi aku ingin kami hidup mandiri dengan hasil kami sendiri dan di rumah kami sendiri" ujar bari menatap istrinya dan anak - anaknya.


Pak Rudi tidak berani lagi memaksa bari, karena pak Rudi juga pernah merasakan menjadi kepala keluarga, Bari benar mereka harus mandiri.


"kapan kalian akan pindah, papa akan segera cari rumah" ujar pak Rudi semangat tapi ibu Marlina kembali sedikit sedih.


Pasti keputusan bari ini tidak lepas dari perilakunya di masa lalu.


"Belum tahu pa, tapi yang pasti aku sambil cari rumah dulu, rumah yang bagus untuk anak - anak juga" ucap bari mantap.


Setelah lama bermain akhirnya mereka akan sarapan, selesai sarapan mereka kembali bermain bersama baby angel dan Bagas. Baby angel terus ketawa - ketawa lucu membuat kakek dan neneknya makin semangat.


Siang harinya bari dan Narita berkunjung ke kantor lama bari, sementara Bagas dan baby angel tinggal bersama kakek dan neneknya.


Bari langsung menemui bosnya dulu di kantor ini dan memberitahu tentang kuliahnya yang tinggal wisuda. Sang bos menyambutnya antusias banget.


"syukurlah kamu sudah lulus, aku mau pensiun, peganglah pimpinan di sini" ujar bosnya.


'waduh kok bisa pas banget ya, Tuhan mempermudah semua rencanaku, tadinya aku baru mau mengajukan permohonan untuk di pindahkan ke sini lagi' batin bari


"iya pak, saya juga bersyukur kok" ujar bari


"kapan kamu bisa balik ke sini, biar saya telepon pimpinan pusat" tanya bosnya itu


"yah mungkin nunggu urusan saya di kampus kelar pak" ujar bari

__ADS_1


"oke, kalau kamu sudah siap balik telepon saya aja ya" ujar pimpinannya senang. Bukan tanpa alasan bapak itu senang, dia sudah tahu kinerja bari dan dia yakin bari akan sangat mampu mengelola kantor cabang ini.


Setelah puas berbincang dengan bosnya dan juga beberapa temannya bari dan Narita sudah harus pulang lagi, karena pastinya baby angel sudah haus.


Sebelum pulang mereka mampir dulu untuk membeli buah dan juga makanan untuk di rumah.


Melihat kedatangan bari dan Narita Bagas sangat senang begitu juga baby angel, seolah - olah dia tahu bahwa itu sudah datang asupan makanannya.


Bari dan Narita segera bergabung dengan papa dan mamanya.


"tadi anak - anak rewel ngga pa" tanya bari


"ngga bar, mereka semua anteng kok" jawab pak Rudi


"baguslah, itu baru anak pintar" ujar bari


"kalian tadi kemana aja" tanya pak Rudi


"ngga kemana - mana pa, cuma ke kantor doank mampir" tutur bari


"ohhhhhh" ucap pak Rudi, dia berharap bari segera pindah ke kota ini, supaya dia bersama cucunya setiap hari. Walaupun bari ingin mereka pindah rumah tapi paling tidak mereka masih di satu kota.


Narita langsung meraih baby angel dan membawanya ke dalam diikuti oleh bari.


"kami ke dalam bentar pa, angel minum dulu" ucap bari yang di angguki pak Rudi dan ibu Marlina.


Sementara Bagas masih sibuk dengan mainannya yang dia buat bersama kakeknya tadi, mobilnya yang terbuat dari batang pisang. Bukan karena bagusnya tapi menurut Bagas ini mainan paling unik yang pernah dia temui.


Tanpa terasa dua hari sudah berlalu, hari ini bari sekeluarga akan pulang ke Jakarta. Sedih pasti, pak Rudi dan ibu Marlina merasa sangat sedih karena mereka akan kembali dalam kesepian mereka. Tapi sedikit memberi harapan bahwa bari akan kembali ke kota ini kalau sudah membeli rumah di sini.


Pak Rudi dan ibu Marlina akan fokus mencari rumah yang pantas untuk bari dan Narita beserta cucu mereka.


Hallo semua pembaca setiaku


Jangan bosan ya


Dukung terus author untuk menulis

__ADS_1


like, coment dan vote


Terimakasih🙏


__ADS_2