
" kak, terus gimana ceritanya aku bisa sampai kesini" Narita kembali buka suara setelah diam beberapa saat.
Risma menarik nafas panjang, lalu mulai menceritakan apa yang terjadi kemarin.
"persisnya kakak juga ngga tahu dek, tapi yang pasti ibu may telepon kakak, terus kakak langsung ke rumah dan bawa kamu ke rumah sakit" Risma memulai ceritanya pelan - pelan.
Narita terlihat masih diam dan menatap langit - langit rumah sakit itu.
"Sepertinya kamu menyimpan sesuatu, apa sebenarnya yang terjadi dek sebelum kamu pingsan" tanya Risma pelan dan sangat hati - hati. Dia tidak ingin Narita terpaksa mengingat itu lagi semua, yang membuatnya sedih lalu drop lagi. tapi biar gimana juga Risma juga tetap harus tahu cerita sebenarnya.
"maaf nar, tadinya kakak pikir kamu hanya jatuh di rumah, tapi begitu sampai rumah sakit, ibu may menceritakan semuannya kalau ada seorang wanita yang datang ke rumah dan berada dekat pintu saat ibu may menemukan kamu pingsan" ujar Risma dengan sabar sambil mengelus tangan Risma.
Sepertinya Narita mulai tertarik, dia mulai menoleh ke kak Risma dan perlahan mengangguk.
"Tadinya kami ngga tahu kalau itu ibu mertuamu, Tapi Setelah bari dan bapa mertuamu tiba di sini, di rumah sakit ini, barulah kami tahu kalau ternyata itu adalah ibu mertuamu, setelah ibu may menunjukkan fotonya" tutur Risma masih dengan lembut dan penuh penyesalan.
Narita masih diam, tapi dia melihat kak Risma dengan seksama. Mungkin dia masih bingung untuk menceritakannya, takutnya kak Risma malah marah sama barita dan keluarganya.
Dan benar saja kan, kak Risma akhirnya meneruskan ceritanya.
"Dek, kalau kamu sudah siap cerita, tolong ceritakan sama kakak ya, apa yang terjadi sebenarnya. Jujur kemarin begitu tahu itu mertuamu dan dia tidak segera membawa kamu ke rumah sakit, malah menunggu saya datang, aku sangat marah sama bari, bahkan aku bilang aku ingin melaporkan ibu mertuamu ke polisi" ujar kak Risma lagi.
Mendengar ucapan Risma yang ingin melaporkan ibu Marlina ke polisi, Narita sepertinya kurang sependapat.
"tidak usah kak, ibu tidak berbuat apa - apa. Aku hanya kaget melihat ibu datang" ujar Narita perlahan dan pasrah.
"Tapi sekalipun begitu, dia harusnya bawa kamu ke rumah sakit dek, bukannya malah nonton doank lalu pergi" kak Risma terlihat sedikit lebih emosi.
Terlihat Narita menarik nafas lalu berkata kepada kak Risma.
"Anakku sudah tidak ada kak, apa gunannya melaporkannya, biarkan saja, mungkin itu juga lah tujuannya" ucap nari pasrah.
Saat mereka sedang berbincang itu terlihat dokter datang untuk visit, dua orang perawat langsung membantu Narita mengukur tekanan darahnya dan juga nadinya.
"selamat pagi Bu nari, gimana Bu masih merasa sakit, sabar ya Bu, nanti semoga langsung ada pengganti dedeknya" sapa dokter itu ramah.
"iya dok"
__ADS_1
Setelah memeriksa Narita, dokter itu berpesan, jangan terlalu banyak pikiran ya Bu, karena nanti akan memperlambat pemulihannya.
Setelah rombongan dokter itu keluar, ada bunyi dering handphone. Kak Risma langsung mencari handphone yang bunyi tersebut dan ternyata ada dilaci lemari dekat Narita.
"ini handphone siapa nar" tanya kak Risma
"bang bari kak" jawabnya pelan
"berarti bari kelupaan ini tadi malam karena fokus ke bayi kalian" ucap kak risma
"ini nar siapa tahu penting"? kak Risma langsung menyodorkan handphone itu ke Narita.
"tapi ini pake pasword nar" lanjut kak Risma.
"aku tahu kok paswordnya" ujar narita bersamaan dengan masuknya pesan baru lagi.
Perlahan Narita memasukkan tanggal pernikahan mereka, karena memang itulah pasword handphone bari.
Narita mulai membuka handphone suaminya, terlihat chat dari pak Rudi dan teman kantornya.
Dan yang baru masuk ternyata adalah chat dari dokter Eva, yang terus di rayu ibu Marlina untuk menanyakan kabar bari dan dimana posisinya sekarang.
"Pagi bar, gimana pagi ini"
"kamu pasti sedang otw kantor ya"
"have a nice day ya"
Pesan manis yang masuk ke handphone bari malah sangat menusuk dada Narita. Membuat emosinya sedikit meningkat dan akhirnya perutnya terasa agak nyeri.
"aduhhhhh" keluh Narita bersamaan dengan lepasnya handphone bari dari tangan Narita ke tempat tidur itu.
"kenapa nar" tanya kak Risma panik lalu langsung pencet Bell rumah sakit.
"ada apa Bu" tanya seorang perawat yang baru masuk.
"adek saya mengeluh perutnya sakit sus" ucap kak Risma khawatir.
__ADS_1
Perawat itu menekan perut Risma pelan lalu menutupnya kembali.
"tidak apa - apa Bu, itu biasa mungkin ibunya lagi kepikiran sesuatu. Tolong di jaga dulu emosinya ya Bu Narita, takutnya terjadi pendarahan lho Bu kalau ibu kebanyakan pikiran" ucap perawat itu sambil membenarkan posisi infusnya lagi.
"iya sus"
Sepeninggal suster itu, Narita kembali meneteskan air mata. Dia menatap kak Risma dan seolah mohon sesuatu.
"ada apa nar, kenapa kamu tiba - tiba begitu tadi" tanya kak Risma yang masih memegang handphone bari tapi belum baca chatnya.
"aku harus gimana sih kak"? tanya Narita malah menangis. Kak Risma jadi bingung juga, barusan aja perawat bilang jangan banyak pikiran, tapi sekarang Narita menangis, gimana ini?
"dek jangan menangis, nanti kamu pendarahan dek, kakak ngga mau kamu kenapa - Napa" ujar Risma serius dan sedih banget melihat Narita menangis lagi.
"kak apa arti chatnya itu ya"? tanya Narita pelan
"chat apa sh" Risma langsung ingat handphone bari di tangannya. Kak Risma langsung baca chat Eva yang masih sedang terbuka tadi sama Narita. Terlihat Risma serius membaca chat tersebut. Dan begitu sampai bawah Risma sedikit emosi juga.
"Dek sepertinya bari punya hubungan spesial dengan cewek ini. lihat aja chatnya have a nice day lah" ujar Risma emosi. Lalu dia mendekati bed Narita lagi dan menaikkan posisi kepala bed Narita supaya mereka bisa bicara tenang.
"Maaf ya dek, kalau bari sudah mulai main api dengan Eva itu, yang mantannya, yang katanya seorang dokter dan kenal dengan mertuamu, aku yakin ibu Marlina akan terus menggunakan segala cara untuk menyatukan mereka."
"tapi bang bari kan sudah bilang tidak ada perasaan kak" Narita masih mencoba memaklumi suaminya.
"tapi coba lihat di bawahnya nar, bari minta maaf atas ucapannya, dia tidak ingin menyakiti hati Eva, kenapa coba kalau dia ngga punya perasaan, biarin aja Eva tersinggung" jelas kak Risma lagi.
Melihat Narita semakin sedih akhirnya Risma sadar akan keadaan Narita lagi sekarang.
"sudah dek, jangan pikirin apa - apa dulu, kamu istirahat dulu biar cepat pulih ya. Bahkan dulu posisi kamu hamil, kamu kuat kok hidup tanpa bari di sampingmu, kakak yakin kamu sangat kuat, kamu wanita strong" ucap kak Risma menguatkan Narita.
Hai semua, dukung terus ya
jangan bosan-bosan
like, coment dan vote
Terimakasih🙏
__ADS_1