
Tepat jam enam pagi ibu Marlina sudah berada di depan rumah sakit tempat Eva bekerja. Dia menunggu Eva di warung kopi sebrang rumah sakit.Dia sudah tidak perduli dengan yang lainnya lagi, karena dia sangat bingung dan stress sekarang. Padahal kemarin dia masih sangat percaya diri dan arogan.
"pagi Tante" tanpa dia sadari ternyata Eva sudah ada di depannya.
"pagi, kamu sudah sampai"
"Tante melamun ya, aku sudah dari sana senyum kayaknya, Tante nggada respon sama sekali" ujar Eva serius sambil melirik arah kedatangannya.
"iya nak, Tante lagi bingung"
"emank kenapa Tan"
"apa kamu cukup waktu untuk dengar curhatan Tante"
"cukup Tan, aku jadinya shift siang, aku minta temanku gantian"
"ohhh, baguslah" ucap Bu Marlina sambil membenarkan duduknya dan meminum teh yang di depannya.
"emanknya ada apa Tante, kayaknya urgent banget" tanya dokter Eva serius.
"aduh gimana ya, Tante sepertinya dalam masalah nak Eva, Tante bingung harus gimana"? ujar ibu Marlina terlihat gelisah.
"Tante tenang dulu, coba ceritakan siapa tahu aku bisa bantu atau minimal kasih pendapat Tan" tutur Eva lembut
"itu nak Eva, kemarin Tante ke tempat istrinya bari, ke rumahnya di kota B, tapi baru aja Tante ketuk rumahnya dan di buka oleh istrinya, dia langsung jatuh pingsan nak Eva," ujarnya serius.
"tapi sure ibu ngga ngapa - ngapain dia, baru aja pintu di buka, aku lihat dia dan juga sebaliknya, dia sudah pingsan nak" ucapnya lagi.
"kok bisa" tanya dokter Eva asal.
__ADS_1
"justru itu nak Eva, aku jadi bingung, karena gugup dan takut aku malah melihatnya dulu ngga langsung menolongnya. Tante jadi sedikit takut nak Eva, pasti bari akan mengira aku mengapa - apain istrinya" ucapnya terbata - bata. Terlihat sekali kalau ibu Marlina sangat gugup dan ada ketakutan di sana.
"iya itu mungkin saja terjadi Tante, bari pasti mengira kalau Tante itu melakukan sesuatu. Terus gimana keadaannya sekarang Tante" tanya dokter Eva
"nah itu dia aku yang mau minta tolong nak, tolong telepon bari, tanya gimana keadaannya, kamu pura - pura ngga tahu aja tentang semua ini" ucap ibu Marlina.
"apa ngga sebaiknya Tante aja yang telepon, atau om Rudi aja gitu" saran dokter Eva. Dokter Eva belum tahu ceritanya kalau om Rudi sedang di rumah bari juga untuk menghibur bari.
"om Rudi juga sejak kemarin sudah di kota B nak Eva, pasti dia sangat marah sama Tante. makanya Tante ngga tahu lagi mau cerita sama siapa, makanya Tante telepon kamu" ujar ibu Marlina sudah tidak bisa menahan tangis. Dia bukannya tenang setelah cerita dengan dokter Eva malah semakin galau.
"Tante ngga tahu harus gimana sekarang" ujarnya di sela - sela tangisnya.
"Bagaimana kalau ternyata anak dan istrinya bari tidak selamat, pasti bari dan om akan sangat marah sama Tante" ujarnya lagi
Melihat ibu Marlina sampai menangis, dokter Eva bingung juga. Dia mengerti ketakutan ibu Marlina, tapi inikan masalah keluarga, dan Eva belum bagian dari keluarga itu. Dia takut nantinya bari menganggap Eva sekongkol dengan mamanya. Dan terlalu ikut campur dengan urusan keluarganya.
"Tante, maafkan Eva, mungkin saya tidak bisa membantu Tante dalam masalah ini, karena Eva ngga tahu masalah detailnya, tapi satu yang pasti Tante kalau nanti bari dan om Rudi marah sama Tante , Tante boleh cari Eva. Saya akan siap jadi pendengar setia Tante." ujar dokter Eva memberikan dukungan sama ibu Marlina. Dokter Eva menempatkan dirinya sebagai anak yang berusaha menghormati orang tuanya, karena biar bagaimanapun Tante Marlina itu sudah orang tua.
Dokter Eva juga bingung harus mengatakan apa. Terlalu dini dia memberikan pendapat, karena dia baru aja dengar cerita dari Tante Marlina, belum ada sumber lain. Eva takut nantinya malah terjebak dengan pendapat yang dia berikan.
Belum lagi dokter Eva memberikan pendapat, masih bingung untuk beberapa saat, handphone ibu Marlina berdering, dan ternyata dari suaminya.
dddrrttt dddrrttt dddrrttt
Tertulis disana papa calling...
Ibu Marlina awalnya ragu untuk mengangkat, tapi dokter Eva membisikkan lebih baik di angkat biar tahu kondisi mereka, sekalipun di marahi pasti tidak main kasar karena hanya lewat telepon.
"hallo pa"
__ADS_1
"dimana kamu"? tanya pak Rudi terdengar tidak bersahabat.
"emang kenapa"? tanya ibu Marlina, tadinya dia mau bilang di rumah, tapi dia takut kalau suaminya sudah tahu dia sedang tidak di rumah.
"dimana kamu" suara pak Rudi makin tinggi. Ibu Marlina ciut mendengar bentakan itu, apalagi posisi dia sedang pada posisi bersalah.
"lagi di rumah temanku sebentar, ada yang mau kami kerjakan buat hari Minggu" ucapnya berbohong.
Tapi kebohongan ibu Marlina malah jadi Boomerang buatnya, karena pak Rudi menilai kalau istrinya itu sedang senang dan memberitahukan ke temannya bahwa cucu yang dia tidak akui sudah meninggal.
'Anakmu sedang sangat hancur hati, tapi kamu bisa bersenang - senang Marlina, kau belum sadar dengan semua tindakanmu bisa aja kamu di penjara.' batin pak Rudi.
'Jika saja kamu tidak egois, sekarang bari sudah sangat bahagia menggendong anaknya dan hidup tenang bersama istrinya'
Tapi pak Rudi tidak mengatakan itu semua kepada ibu Marlina. Dia sedang tidak ingin bicara dengan istrinya itu terutama mengenai masalah bari dan istrinya. Dia hanya mengatakan itu dalam hatinya.
Tanpa berkata apa - apa lagi pak Rudi mematikan sambungan telepon ibu Marlina.
Hatinya memang sangatlah marah, tapi sekarang pak Rudi ingin segera kembali ke tempat menantunya di rawat. Dia ingin mendampingi anak semata wayangnya untuk melewati masa - masa sulit dalam hidupnya ini.
Pak Rudi membawa beberapa potong pakaiannya dan memasukkan ke dalam tas ranselnya biasa kalau ke luar kota. Pak Rudi takut Narita nanti ada masalah yang membuatnya tidak bisa meninggalkan mereka lagi, di tambah lagi karena sekarang pak Rudi malas dan belum siap ketemu istrinya.
Setelah dirasa cukup pak Rudi langsung keluar dan mengunci lagi pintu rumahnya. Pak Rudi langsung masuk mobil dan melihat bari tertidur,mungkin saking capeknya semalaman. Tapi yang bikin pak Rudi sedih adalah terlihat bari sangat hancur, hancur hatinya dan harapannya, sehingga dia terlihat sangat rapuh bahkan dalam posisi tidur sekalipun.
Pak Rudi tidak mengganggu anaknya bari lagi, dia langsung menaruh tasnya di jok belakang dan langsung menstarter mobilnya dan berlalu dari rumahnya tersebut.
Sungguh memang hidup kadang jauh dari yang kita harapkan, tapi apapun itu kita harus berusaha menjalaninya dengan penuh ke ikhlasan dan penuh rasa syukur dan percaya bahwa nafas hidup kita sangat berharga.
Hallo readersku semua
__ADS_1
like, coment dan vote ya
Terimakasih🙏