PENYESALAN SEORANG SUAMI

PENYESALAN SEORANG SUAMI
PART 117 SAH


__ADS_3

Walaupun sepertinya tidak masuk akal dan merasa belum percaya, tapi Narita juga tidak menolak tindakan bari. Atau mungkin dia merasa ini semua hanyalah mimpi, bukan nyata. Jadi dia masih merasa berada di Awang - Awang.


Bari merasa senang Narita tidak ada penolakan, walaupun dia juga tahu Narita belum terlalu yakin, bahkan mungkin masih gamang. Tapi bari sudah bertekad dalam hati bahwa dia akan meyakinkan Narita dari tindakannya. Soalnya Narita itu selalu banyak pertimbangan untuk suatu hal.


Terlalu memikirkan perasaan orang lain di banding perasaan dia sendiri.


"sudah, kita lengkapi isi rumah ini dulu aja. apa kamu ada yang ingin di tambahkan, di kamar Bagas atau di dapur" ujar bari berjalan ke arah dalam. Dia tidak ingin berdebat apapun sekarang dengan Narita, karena semua sudah di rencanakannya dengan matang bersama kak Ida sekeluarga. Dia takut Narita merengek minta pengertiannya lagi, dan akhirnya dia sendiri goyah. Bari sudah bulat dengan keputusannya. walaupun terkesan egois dan dadakan, tapi sesungguhnya bari sudah pertimbangkan semuannya.


"sudah cukup bang" ucap Narita asal dan jujur masih ingin bertanya, tapi langsung di potong lagi oleh bari.


"oke, sekarang kita langsung jemput Bagas dulu di sekolah, mumpung aku libur hari ini" bari langsung menutup pintu rumahnya karena belum ada art dan penjaga.


Kalau mengenai art bari takut nanti Narita ngga setuju, makanya biarlah Narita yang mencarikannya nanti jika di perlukan.


Narita hanya bisa mengekor di belakang, karena sepertinya bari memang sengaja tidak memberikan acces bagi dia untuk bicara dan bertanya.


Begitu masuk mobil, bari langsung nyetel lagu nostalgia dan fokus nyetir.


Narita seperti di dalam mimpi hanya mengikuti semua kemauan bari. Narita bahkan bingung juga apa yang mau dia tanyakan lagi. Bari juga sebenarnya tahu Narita bingung, tapi bari sudah siap handle semuannya.


Begitu sampai sekolah Bagas, bari yang turun untuk menjemput Bagas. Lalu mereka pulang ke rumah kak Ida. Ternyata di sana sudah ada beberapa orang yang tidak Narita kenal.


Singkat cerita menjelang sore Narita sudah di suruh kak Ida untuk mengganti baju dengan satu kebaya sederhana. Bingung dan bingung, tapi Narita tetap mengikuti perintah mereka sampai semuanya kelar terlaksana.


pernikahan itu SAH dimata agama.


Apalagi pemuka agama yang menikahkan mereka sudah di ceritakan tentang kisah asmara Narita dan barita sampai mereka menikah dulu lalu berpisah. Dan menurut dia mereka memang berjodoh apalagi di tambah dengan lahirnya anak.


Wejangan yang dia sampaikan kepada kedua mempelai juga adalah prioritaskan rumah tangga. Karena sekarang di luar itu adalah orang ketiga.


Setelah semua selesai bari merasa lega dan sangat senang dan bahagia. Dia tidak perduli apapun kata orang, yang pasti sekarang Narita sudah sah menjadi istrinya lagi. Dalam hati dia, dia hanya perlu Narita dan Bagas ada di sampingnya untuk memberi semangat hidupnya.


Biarpun hanya keluarga Ida dan temannya yang jadi saksi, tanpa kehadiran orang tua mereka, bari tetap bahagia. Tak terlihat raut sedih lagi di wajahnya. Mungkin kalau dulu dalam situasi ini, dia akan memilih di hadiri kedua orang tuannya, tapi sekarang tidak. Kenyataannya kesalah pahaman mamanya telah menghancurkan kebahagiaan bari selama ini.

__ADS_1


Sore harinya, setelah acara semua selesai di rumah kak Ida, bari langsung pamit ke kak ida.


Untuk syukuran besok juga semua sudah beres di urus oleh kak ida.


Dan malam ini bari tidak menginap di rumah kak Ida lagi, dia akan bawa anak dan istrinya ke rumah barunya, dimana besok di adakan syukuran untuk dua hal, rumah baru dan pengantin baru.


Narita hanya bisa menuruti kemauan suaminya, walau dia sendiri bingung dan seperti mimpi, tapi ada rasa haru juga dalam hatinya karena bari sampai segitunya memperjuangkan pernikahan mereka, sampai harus pindah kota. Tapi tidak bohong kalau masih ada rasa khawatir juga, takutnya mertuanya tahu dan datang lagi.


Tapi sekarang, kembali Narita pasrah dan ikhlas sambil berdoa, semoga kedepannya lebih baik lagi.


Begitu sampai rumah baru mereka, memang masih banyak perabot yang kurang, tapi cukup lumayanlah untuk keluarga kecil.


Bari menunjukkan kamar Bagas yang di sambut anaknya dengan antusias. Sementara Narita bari suruh langsung beresin kamar mereka.


"nah Bagas, sekarang ini kamar Bagas, bagus ngga"? ujar bari setelah membuka pintu kamar Bagas perlahan.


"nanti Bagas tidur sendiri di sini Pi" tanya Bagas polos karena biasanya di rumah kecilnya dia tidur bersama maminya dan mba ayu.


"ohhh iya Pi, Bagas sudah besar memang" ucapnya semangat.


"nanti kamar Bagas di kasih gambar Cars ya Pi" ucapnya sambil lompat - lompat.


"emank Bagas suka gambar Cars" tanya bari


"suka Pi" ucapnya masih lompat - lompat di kasur empuknya.


"ya sudah Bagas tata kamarnya sendiri dulu, papi mau ngomong sama mami dulu"


"oke papi"


Bari langsung keluar dari kamar Bagas tanpa menutup pintunya. Dia langsung mencari Narita istrinya yang ternyata sedang berada di kamar mereka dan menatap sekeliling kamar itu.


"kamu sedang lihat apa"? tanya bari sudah memeluk Narita lembut dari belakang.

__ADS_1


Narita yang sudah tidak terbiasa dengan pelukan bari jelas kaget dan deg - degan. Bahkan kecepatan detak jantungnya mungkin sudah seperti habis berlari berkilo - kilo meter jauhnya.


Dia akhirnya mematung di tempatnya. Sementara bari yang mengerti Narita gugup berusaha mencairkan suasana.


"Apa kamu ingin menambahkan sesuatu di kamar kita ini" ucapnya masih memeluk erat perut Narita dari belakang dan dagunya di pundak Narita.


"ngga bang, sudah cukup" ucap Narita sambil menggeser kepalanya berusaha lepas dari bari.


"kenapa" goda bari, dia sama sekali tidak marah atau tersinggung Narita terkesan menghindarinya, karena dia sudah cukup tahu sifat Narita, malu - malu.


"takut Bagas masuk bang, dia sudah besar lho" ujar Narita


"oh iya, aku lupa" ucap bari sambil senyum dan melepaskan Narita. Narita menarik nafas lega.


'Syukurlah bang bari lepasin, aku sampai tidak bisa bernafas tadi gara - gara gugupnya' batin Narita.


'Narita kok kamu seperti ABG sih, dia itu suamimu, bahkan sudah pernah jadi suamimu dulu, gimana sih kamu' kata hati narita


Tapi tetap aja Narita ngga bisa tenang, hatinya tetap deg - degan.


"oh iya sayang, kamu duluan aja yang mandi, aku mau main dulu sama Bagas sambil membereskan kamarnya ya" ucap bari yang tahu Narita sangat grogi, makanya dia kasih waktu buat Narita untuk rileks dulu.


cup


Bari tiba - tiba mengecup kening Narita dengan tenang seolah tanpa beban, padahal dia sendiri sedikit grogi. Tapi dia tidak perlihatkan di depan Narita. Dia ingin Narita terbiasa dan rileks, tidak kaku. Dan bari yakin semua itu butuh proses.


Hallo guys


Jangan bosan ya


like, coment dan vote


Terimakasih🙏

__ADS_1


__ADS_2