PENYESALAN SEORANG SUAMI

PENYESALAN SEORANG SUAMI
PART 130 SEDIKIT FLASHBACK


__ADS_3

Bari masih suasana suka cita sampai istrinya itu sudah pulang ke rumah dari rumah sakit dan bari harus kembali bekerja.


Bari bahkan berat meninggalkan putrinya dan Narita hanya untuk berangkat bekerja.


Bari harus menitipkan istrinya paling tidak kepada ayu atau kak Ida selama dia kerja. Handphone Narita sebentar - sebentar berbunyi, ada telepon dari bari, ayu kak Ida dan juga mertuanya. Semua silih berganti telepon memastikan keadaan Narita.


Narita merasa seperti ratu yang di sayang semua orang. Narita juga bersyukur di kelahiran anak keduannya ini, dia tidak dipenuhi beban, bahkan mungkin tanpa beban, karena setiap apa yang dia inginkan dan pikirkan sepertinya bari sudah bisa ambil alih dari pundak Narita.


Semakin hari kehidupan rumah tangga mereka semakin indah. Tumbuh dengan penuh kasih sayang. Bari sangat menyayangi anak dan istrinya sementara Narita juga selalu berusaha untuk menyenangkan suaminya. Karena Narita sangat sadar suaminya itu sangat cape, cape kerja, kuliah lalu lanjut lagi dengan mengurus dia dan angel kalau malam.


Sekarang usia angel sudah dua bulan, Narita sudah bisa beraktifitas seperti biasa sebenarnya. Tapi bari tidak pernah mengizinkan istrinya itu terlalu cape, takut berpengaruh kepada asi putrinya angel.


Pokoknya Narita itu fokus dulu kepada angel, yang lainya akan bari handle Sedaya mampunya, walaupun cape.


Bari selalu terlihat bahagia dan penuh sukacita, baik di kantor maupun di kampus dan di rumah.


Bari dan Narita juga bersyukur karena perkuliahan bari tinggal sebentar


Tidak terasa bari hampir satu setengah tahun sudah kuliah di Jakarta.


"Bang libur sekolah ini kita pulang kampung Yo" ajak Narita


"tumben sayang"


"iya bang, kayaknya ingin pulang" ujar narita


"emank kamu sudah siap sayang, sudah kuat" tanya bari


"sudah bang, aku sudah sangat kuat"


"terus gimana kalau nanti tidak seperti harapanmu sayang"


"maksudnya" tanya Narita


"takutnya mama berulah lagi"


"kan kita hanya sebentar di sana bang, baru balik lagi, aku ingin jiarah bang" ujar Narita


"abang kan harus kerja, jadi kita juga ngga bisa lama - lama kan"? ujar narita lagi karena terlihat suaminya itu sedang berpikir.


"nanti coba Abang pikirkan dulu dek" ucap bari langsung bangkit berdiri karena putrinya mulai merengek menangis, entah itu haus entah itu dia ngompol.

__ADS_1


Bari langsung menggendong putrinya itu dan menina bobokkannya sambil menyanyikan sebuah lagu. Terlihat bibir putrinya seperti komat Kamit, sepertinya pertanda haus.


"ini sepertinya angelku haus sayang, kasih minum dulu" ujar bari sambil meletakkan angel di pangkuan Narita dengan posisi untuk minum asi.


"emank anak gadis mami sudah haus ya, sudah ingin minum" goda Narita sambil menyiapkan posisinya untuk memberikan asi. Sementara bari langsung menyiapkan air hangat untuk Narita minum, konon katanya wanita menyusui harus banyak minum air hangat juga untuk stock persediaan ASI-nya.


Saat anaknya sedang minum dengan lahap, bari sudah masuk dengan segelas air hangat di tangannya.


Bari langsung mendekati anak dan istrinya yang sedang berbagi asupan makanan itu.


"angel, papi bagi deh punya papi itu buat kamu, harusnya itu hanya milik papi" ujar bari sambil menowel pipi putrinya.


"angel cuma pinjam papi, cuma dua tahun" ucap Narita menirukan suara anak kecil.


Bari terlihat memandang Narita yang sedang membenarkan topi anaknya.


"Emank nanti angel minum asi dua tahun sayang" tanya bari sambil memandang Narita.


"lihat nanti bang, tapi Bagas dulu aku kasih Asi dua tahun, makanya badanya kuat. Disamping itu dulu biar irit jangan sampai beli susu formula" ucap Narita sambil senyum.


"kasian dulu kamu ya sayang" ujar bari sambil bangkit memeluk dan mencium pucuk kepala istrinya.


"ngga apa - apa bang, sudah lewat toh" ucap Narita berusaha tersenyum.


"paling tidak kita masih mengakui kalau jodoh kita sangat kuat bang" ujar Narita juga


"iya, apapun yang terjadi aku tidak mau kehilangan kalian lagi, tak akan mau" ujar bari yakin


"siapapun tidak mau kehilangan orang yang di cintainya bang, aku juga sebenarnya ngga mau kehilangan Abang sampai maut memisahkan kita." ujar Narita serius.


"kamu memang hebat sayang, istri yang sangat bijaksana, hanya aku saja dulu kurang berani mengambil keputusan, mungkin anak kita sudah besar sekarang, sedangkan Bagas aja anak kita sudah besar sekarang, dan kita akan mantu" ucap bari senyum kecil.


"sudahlah bang, tidak ada yang harus di sesali, semua sudah terjadi. Tapi sekarang ingatlah prioritas kita bang"


"iya sayang"


Setelah putrinya selesai minum, berikutnya tugas bari untuk menggendong anaknya itu karena baru minum.


Sementara Narita setelah minum air hangat dia menaruh kembali gelasnya ke dapur. Lalu dia kembali ke kamar lagi.


Tidak berapa lama terlihat putrinya sudah bobo di gendongan bari.

__ADS_1


"sudah bobo bang, tidurin di kasur aja" bisik Narita


"iya sayang, kamu bobo duluan aja"


"hmmmm"


Narita langsung naik ke tempat tidur, sementara bari sedang mengatur posisi putrinya untuk bobo enak tidak terganggu.


Setelah memastikan putrinya bobo, bari juga menyusul istrinya yang sudah di tempat tidur.


Bari langsung memeluk istrinya itu.


'Kamu pasti sangat cape' batin bari melihat istrinya itu sudah tidur pulas.


'Coba dulu aku tidak bertemu kamu lagi, aku ngga tahu apa jadinya hidupku' gumam bari mengelus pipi istrinya.


'Terimakasih sayang, sudah menghidupkan hidupku lagi'


'Terimakasih sudah menjadi ibu yang baik untuk kedua anakku'


'Tetimakasih sudah menjadi istri yang sangat baik untukku'


'Terimakasih untuk semuannya kebaikanmu malekatku, bahkan kamu memberiku seorang malaikat kecil lagi' gumam bari masih menatap istrinya.


Bari jadi sedikit teringat ke masa lalu mereka, dimana bari dulu pernah menampar Narita karena aduan ibunya, sehingga Narita pergi dari rumah selama berbulan - bulan. Sampai akhirnya bari menemukan Narita saat hamil tua, dimana anaknya harus pergi karena ulah mamanya.


Tidak hanya itu, bari juga ke ingat setiap ucapan mamanya ke Narita. Dan biasanya bari tidak pernah bertanya gimana perasaan Narita, bari hanya perduli perasaan mamanya, karena dia lihat Narita baik - baik saja. Padahal itu hanya luarnya doank, dalamnya Narita sangat menderita.


Tapi Narita tetaplah Narita yang sangat baik dan gampang memaafkan. Bahkan setelah bari menyakitinya begitu dalam Narita masih bisa memaafkannya dengan sangat gampang.


Tapi kebodohan bari masih berlanjut, sampai dia bisa berhubungan lagi dengan Eva yang nota bene di komporin mamanya juga. Kembali bari menyakiti Narita sangat dalam, tanpa bari sadari karena menurut bari Narita pergi demi kebahagiaannya yang sudah dia rencanakan, padahal Narita pergi atas ulah Eva.


Masih banyak lagi penyesalan - penyesalan bari yang lain, yang membuatnya malu sendiri jika ingat semua itu. Penyesalan bari ini adalah penyesalan seorang suami yang menyakiti istrinya tanpa ia sadari.


Hallo guys


Merdeka Merdeka Merdeka


Dukung terus ya guys


like, coment dan vote

__ADS_1


Terimakasih🙏


__ADS_2