
Tiada hal yang tidak pak Rudi syukurin selama berada di Jakarta. Sepertinya semuannya di luar bahkan lebih indah dari perkiraannya.
Dari awal dia sudah terbayang akan bertemu cucunya dan juga bari. Mereka akan menghabiskan waktu bersama selama di Jakarta. Tapi ternyata malah bisa bersama Narita juga dan yang paling bahagia ternyata bakal ada calon cucunya.
Pak Rudi juga berpikir kalau bari itu tinggal di rumah yang kecil, yang cocok untuk hidup sendiri, tapi ternyata anaknya bari sudah tinggal di komplek yang lumayan oke dan hidup bahagia bersama istrinya.
Apalagi pak Rudi melihat bari itu semakin baik hidupnya. Tubuhnya segar dan wajahnya juga terlihat bahagia dan banyak senyum serta selalu ceria.
Malam ini pak Rudi ingin menyerahkan uang hasil pemberian istrinya Marlina. Sekitar pukul delapan malam bari baru tiba di rumah.
Mereka makan malam bersama dan setelah itu baru kumpul di ruang televisi dekat kamar Bagas.
"Pa, papa mau kemana aja di Jakarta, tapi bari cuma bisa antar hari Sabtu pa, karena bari ngga enak lagi harus izin. soalnya kemarin kan pas awal - awal Narita hamil ada beberapa kali aku izin karena dia ke rumah sakit" ujar bari lagi
"ohhh iya bar, tenang aja, papa bersama Bagas aja masih betah bar" ujar pak Rudi
"ohhh, ya sudah pa, pokoknya besok aku belum bisa temanin. Sabtu baru kita jalan - jalan seharian, itupun semoga nari nggada keluhan ya dek" ujar bari ke arah istrinya
"iya bang, semoga nggada drama lagi" ujar Narita senyum.
"emank kehamilanmu ini banyak keluhan nar, apa kalian sudah tanya dokter itu ngga bahaya" ujar pak Rudi
"sudah pa, katanya ngga apa - apa selagi Naritanya masih banyak makan atau minum, yang bisa masuk dan ngga mual" ujar bari
"apa dulu hamil Bagas kamu begitu juga"? tanya pak Rudi
"ngga pa, dulu Bagas itu anteng banget. Aku hanya sedikit mual saat turun dari pesawat awal ke Jakarta" ujar Narita senyum mengingat masa lalunya.
"berarti dia bukan anak yang manja" ujar pak Rudi mengusap kepala cucunya yang tidur di pangkuannya.
"memang bukan pa, dia itu sangat mandiri dan tahu diri" ujar Narita.
Setelah berbincang sampai lama pak Rudi pun mengantar cucunya ke kamar.
"udah pa, bari aja yang angkat Bagas, papa ntar ngga kuat" ujar bari melihat papanya ingin angkat Bagas ke kamar.
"bisa bar, kalian tunggu bentar ya" ucapnya
Bari dan Narita akhirnya duduk di sana menunggu pak Rudi.
__ADS_1
Tidak berapa lama pak Rudi pun nongol di depan bari dan Narita lagi. Dia terlihat membawa satu dompet.
"bar, dan kamu nak Narita, ini ada titipan dari mamanya bari, tolong kalian terima ya" ujar pak Rudi sambil menyerahkan dompet tersebut.
"ini apa pa"? tanya bari ragu - ragu
"bukalah" ujar pak Rudi
Bari langsung membuka dompet yang berisi beberapa kertas tersebut.
Disana ternyata ada buku tabungan dan ATM serta sejumlah uang cash. Bari bingung dengan semua ini.
"ini maksudnya apa pa"? tanya bari
"mama sudah menjual usaha kolamnya bar, karena dia sudah tua katanya. Dia ingin istirahat di rumah dan cukup menerima gaji papa aja" ujar pak rudi
Terlihat bari dan Narita saling tatap, entah apa yang mereka pikirkan.
"terus ini.." bari masih bingung
"itu mama pesan kemarin untuk di kasih buat belanja Bagas, karena mama belum tahu kalau kalian sudah menikah" ujar pak Rudi
Lagi - lagi Narita dan bari saling pandang, dan sedikit ada keraguan di mata bari. Tidak mungkin semudah itu dia percaya sama mamanya setelah berulang kali ingin memisahkannya dengan Narita.
"tapi kami belum memerlukan ini pa" ujar bari meletakkan dompet itu kembali di meja.
"papa tahu bar, papa juga yakin kok kalau kamu bisa mengurus rumah tanggamu dengan baik. Tapi kalau boleh kalian terimalah pemberian mama ini, sekarang dia sudah benar - benar sadar." ujar papanya bari
"tapi pa" sanggah bari
"papa tahu ada keraguan di hati kalian, tapi kamu masih percaya papa kan? Papa tahu sekarang mama itu sudah benar - benar sadar. Bahkan mama pernah ziarah ke makam anak kalian dan juga ke makam orang tua Narita, dan papa lihat mama benar - benar sudah sadar" ujar pak Rudi lagi
"Dan kemarin ketika cerita aku ingin ke Jakarta, papa pikir mama akan main drama ingin ikut, tapi ternyata tidak, dia malah memberikan ini untuk papa sampaikan terus minta papa buatin video sama Bagas untuk dia lihat nanti saat papa pulang. Dia juga merasa kok, kalau sampai minta ikut pasti Narita tidak akan nyaman, dan yang ada Bagas tidak bebas bermain" tutur pak Rudi lagi.
Bari dan Narita kembali saling pandang. Terus terlihat Narita menganggukkan kepalanya tanda setuju ucapan papanya bari.
"kalau kalian belum butuh sekarang, simpan aja bar, atau buatkan deposito untuk Bagas." ujar pak Rudi lagi
"baiklah pa, aku akan urus ini untuk tabungan Bagas nantinya" ucap bari akhirnya.
__ADS_1
"baiklah, sekarang kita tidur aja, Narita juga harus istirahat, tidak baik seorang wanita hamil begadang" ujar pak Rudi lagi
"baik pa, kami ke kamar dulu"
"Iyah" pak Rudi melempar senyum untuk anak dan menantunya.
Bari langsung cekatan bangun berdiri untuk membantu Narita bangun. Sejak kehamilannya jelas Narita tidak bebas bergerak seperti dulu, bahkan sekarang cenderung sedikit malas.
Pak Rudi sangat bahagia melihat kebahagiaan putranya.
'Akhirnya kamu menemukan kebahagiaanmu nak, papa akan selalu mendukungmu dan keluarga kecilmu' batin pak Rudi lalu masuk juga ke kamar cucunya, karena dia tidak mau tidur di kamar tamu, dia mau tidur sama cucunya.
Sudah tiga hari pak Rudi berada di Jakarta, dan kemarin mereka sudah mengelilingi Jakarta. Pak Rudi sudah memiliki banyak foto dan video bersama cucunya Bagas.
Besok pak Rudi sudah ingin pulang kampung lagi. Hari ini waktunya mereka berburu oleh - oleh untuk pulang. Tidak lupa Bagas selalu bergandengan tangan dengan kakeknya, dan pak Rudi juga seolah tidak mau melepaskan cucunya.
Keesokan harinya, saat masih subuh mereka sudah akan berangkat ke bandara. Sesungguhnya Narita ingin ikut ke bandara tapi dia takut nanti mual dan muntah, sehingga dia memutuskan tidak usah ikut.
"pa, maaf ya pa, nari ngga bisa ikut ke bandara, Narita takut mual pa kalau cuaca agak dingin" ucapnya saat mereka sudah ngumpul di depan, dan bari masih memeluk lengannya erat untuk memberi dukungan.
"ngga apa - apa nar, kamu sudah merawat anak dan cucu papa dengan baik papa sudah sangat berterimakasih" ujar pak Rudi sedih.
"iya pa, mereka bagian dari hidup nari" ucap Narita sambil menyalami pak Rudi dan mencium punggung tangannya.
"Berjuanglah kalian untuk keluarga kecil kalian ya nak" ucap pak Rudi meneteskan air mata dan mengusap kepala Narita yang sedang menunduk.
"baik pa" jawab Narita meneteskan air mata juga.
Pak Rudi dan bari serta Bagas langsung menuju mobil bari yang akan membawa mereka ke bandara.
Hai semua pembaca setiaku
jangan bosan - bosan ya
dukung terus ya
like
koment
__ADS_1
vote
terimakasih🙏