PENYESALAN SEORANG SUAMI

PENYESALAN SEORANG SUAMI
PART 93 PERTEMUAN


__ADS_3

Setelah banyak berbincang dengan Risma, dan sudah mengetahui semuanya bari dan pak Rudi memilih untuk pamit pulang. Karena benar kata suaminya Risma, bari harus berpikir matang - matang apa yang harus dia lakukan sekarang.


Pak Rudi dan bari, tidak kembali lagi ke pemancingan dengan alasan ada urusan keluarga mendadak, tapi mereka malah kembali ke kota. Sepanjang perjalanan bari dan pak Rudi banyak bertukar pikiran.


"pa, apa yang harus bari lakukan ya pa"? tanya bari yang memilih duduk di sebelah papanya yang memegang kemudi.


Pak Rudi terlihat buntu juga, harus bagaimana sekarang. Karena ini semua memang salah bari juga.


"bar, papa juga bingung nak, apa yang harus kita lakukan. Jadi mintalah petunjuk sama yang Maha kuasa, supaya kamu di berikan jalan keluar yang terbaik" ujar pak Rudi.


"betapa bodohnya bari ya pa"? ujar bari sambil menyandarkan tubuhnya di jok mobil itu dengan nada putus asa.


"jangan terus menyalahkan diri sendiri bar, bukan waktunya lagi untuk itu. Sekarang sebaiknya kamu berjuang untuk masa depan Bagas. Nari bisa jadi mantan istrimu bar, tapi Bagas tidak pernah menjadi mantan anakmu" ujar pak Rudi bijak.


"iya pa" ucapnya penuh keraguan dengan kemampuannya.


"berdoalah bar, semoga kita segera di beri jalan terbaik" ujar pak Rudi pasrah .


"kok sepertinya bari sudah hopeless ya pa"


"kamu tidak boleh begitu bar, pernah berbuat salah itu berarti membuat kamu makin dewasa seharusnya, jangan malah membuat putus asa"


"entahlah pa, tapi jujur bari juga bingung. Benar kata kak Risma tadi, kalau aku perjuangkan Bagas, entah dengan cara apa pun, atau dengan pengacara terbaik, mungkin Bagas tidak akan bisa aku raih pa. Dan kalaupun bisa, apa aku bisa bahagia in Bagas seperti Narita pa"? ujar bari sedih.


Sekarang dia seperti makan buah simalakama, perjuangkan Bagas sama aja buat Narita menderita, membiarkan mereka barilah yang menderita.


"Bar, bagaimana kalau kamu perjuangkan Narita lagi"? ujar pak Rudi


"aku takut pa"?


"takut apanya"


"aku takut malah membuat Narita nantinya makin menderita pa"


"anggap aja kamu mulai dari awal bar" ucap pak Rudi


"maksud papa, sekarang kamu dan Narita sudah pisah, kalau kamu ingin bersatu lagi kalian harus menikah lagi. Anggaplah cintamu belum di terima, berusahalah supaya cintamu di terima oleh Narita dan Bagas" tutur pak Rudi


"bagaimana dengan mama"

__ADS_1


"ya kamu juga harus minta restu, usahakan supaya mama merestuimu, mungkin dengan menggunakan Bagas" ujar pak Rudi.


"maaf pa, aku ngga ngerti maksud papa"


"kamu berusaha dulu cari Narita dan Bagas, setelah itu kamu bicara dengan Narita untuk minta restu mamamu, dan kalau mamamu tidak merestui juga, papa yang akan merestui kalian, kamu bisa bawa Narita jauh dari kota ini" ujar pak Rudi." Dengan begitu mamamu tidak akan bisa mengganggu kalian lagi"


"terus Naritanya aku cari dimana pa"?


"kalau itu sih , tergantung cara kamu berusaha bar" ujar pak Rudi.


Bari terlihat berpikir, entah apa yang dia pikirkan. Tapi memang jadi ada tekad dalam hatinya.


'Aku harus menemukan Narita dan Bagas, besok aku akan datangi kak Risma lagi dan lagi sampai aku bisa ketemu Narita dan bagas' batinnya.


**


Sementara Narita di Jakarta sedang sibuk packing karena anaknya Bagas tetap ngotot untuk ikut ke kampung Ida dan keluarganya.


Narita juga ingin nyekar ke makam kedua orang tua dan neneknya.


Sepertinya nanti mereka menginap di hotel aja di kota. Begitulah rencana Narita dari Jakarta.


Narita sengaja tidak bisa di hubungi hari ini setelah tadi pagi telepon Ida, dia ingin buat kejutan buat kak Risma. Nanti Narita akan minta di jemput dari kota aja.


Untunglah anaknya Bagas adalah anak yang sangat penurut dan gampang di atur. Sehingga Narita tidak terlalu kerepotan.


Bagas sudah terlihat ganteng dengan stelan kemeja kotak kecil dan celana Levis serta sepatu santainya.


Begitu turun dari pesawat mereka masih harus naik bis sekitar dua jam menuju kota S. Barulah setelah itu mereka menuju hotel.


Ketika sampai di kota S ternyata hari sudah siang menjelang sore. akhirnya Narita memutuskan mereka jiarah besok pagi aja setelah itu langsung cek out.


Tapi karena sudah terlalu kangen dengan kedua orang tuannya Narita memutuskan sekarang aja dia jiarah.


Akhirnya setelah cek in dan simpan barang, Narita dan Bagas langsung naik taksi menuju pemakaman.


Pemakaman itu sudah banyak berubah, sehingga Narita harus mencari - cari dulu dimana letak makam kedua orang tuannya.


Untungnya penjaga makam itu baru bangun tidur siang, sehingga Narita bisa bertanya.

__ADS_1


Bersamaan dengan Narita bicara dengan penjaga makam terlihat satu mobil masuk area pemakaman. Terlihat bari dan pak Rudi ingin jiarah juga, terutama bari, entah kenapa dia ingin sekali ke makam anaknya sore ini. Dia ingin mengadu di sana seperti biasa, mengeluarkan semua uneg - unegnya dan kenangannya bersama Narita. aneh memang, tapi itulah bari.


Semenjak kepergian Narita, bari hanya bisa mendatangi makam anaknya kalau dia rindu sama Narita.


Narita terlihat mengarahkan pandangannya ke arah pemakaman yang di jelaskan oleh penjaga makam, sehingga bari tidak terlalu memperhatikan narita. Apalagi Narita sekarang sangat cantik, badannya sedikit lebih berisi, bukan kurus seperti dulu waktu bersama bari.


Sampai suatu insiden kecil terjadi, dimana Bagas yang tadi menunggu mamanya di samping pemakaman ketika Narita bertanya pada penjaga makam, melihat ulet kecil mendekatinya langsung berteriak menangis.


"mami" teriak Bagas sudah tidak berani bergerak hanya diam mematung.


Bari yang baru turun dari mobilnya mendengar teriakan Bagas dan menatap Bagas yang sedang ketakutan sambil menatap ulat yang mendekat.


"kenapa nak" tanya bari


"itu pak, itu" tunjuk Bagas ke ulat yang tadi mendekatinya. Terlihat Bagas sudah ketakutan sampai meneteskan airmata. Bari langsung mengangkat Bagas secara reflek menjauh dari ulat itu.


Sementara Narita yang baru mendekati Bagas karena teriakannya tadi, kaget bukan kepalang sampai ngga bisa berkata apa - apa.


'bang bari' dia hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Sementara bari yang tadi menggendong Bagas masih membelakangi Narita. Dia merasa bahagia bisa menyelamatkan anak ini dari ketakutannya.


Panggilan pak Rudi yang baru turun dari mobil akhirnya menyadarkan mereka yang sempat terdiam.


"Narita" ujar pak Rudi membuat bari langsung menoleh ke belakang dan betapa kaget dan senangnya dia melihat Narita ada berdiri di belakangnya.


Kembali bari bengong sambil menurunkan Bagas dan mengucek matanya, karena dia takut ini mimpi.


Belum kelar rasa kagetnya sudah datang rasa yang lain ketika begitu diturunkan bari dari gendongannya, Bagas langsung berlari ke arah Narita sambil teriak mami.


"mami ada ulat besar" ujarnya langsung memeluk maminya.


Bari dan pak Rudi kaget luar biasa bocah itu ternyata anaknya Narita, yang berarti itu adalah anaknya bari juga, cucu pak Rudi.


Ada rasa haru yang susah di jelaskan sampai beberapa waktu mereka semua hanya bisa diam mematung dengan pikiran masing - masing.


Hallo semua


masih setiakan?


Tetap dukung ya

__ADS_1


like, coment dan vote


Terimakasih🙏


__ADS_2