PENYESALAN SEORANG SUAMI

PENYESALAN SEORANG SUAMI
PART 63 BINGUNG


__ADS_3

Karena melihat anaknya masih bengong dan sangat hancur, akhirnya pak Rudi tidak bertanya lagi sama bari, dia akhirnya bicara dengan Risma aja.


"menurut nak Risma gimana nak? Kalau cucuku di kubur di sini nanti dia jauh sendiri, sementara kami mulai dari kakekku sudah di makamkan disana semua" ujar pak Rudi minta persetujuan.


Risma bukan tidak memikirkan pemakaman anaknya Narita, tapi yang dia pikirkan lebih berat adalah Narita.


"Kalau mengenai itu saya terserah om aja, yang saya pikirkan sekarang, gimana nanti cara kasih tahunya ke Narita setelah dia sadar, dia pasti akan terguncang om" ucap Risma sambil menangis lagi.


"iya nak, om juga berpikir begitu, nanti dia pasti terguncang" ujar pak Rudi mangut - manggut.


Mendengar nama istrinya disebut kak Risma dan papanya kembali bari menangis sesenggukan dengan menunduk lagi.g


'kenapa orang - orang yang di cintain ya pada menderita' batin bari


Pak Rudi dengan sabar menghibur anaknya bari.


"sabar bar, mungkin ini cobaan buat kita semua nak" ujar pak rudi


"nak Risma, bukannya om tidak memikirkan Narita, tapi jenazah ini harus segera di makamkan nak. Jadi nanti kalau urusan disini sudah kelar, bentar lagi subuh saya dan bari akan membawa jenazah cucuku dengan mobil bari aja" ujar pak Rudi


"nanti kalau urusan pemakaman kelar, kami akan langsung balik ke sini nak mengurus Narita" ujar pak Rudi.


"om atur aja, saya setuju aja, " ujar Risma


"tapi selama kami ke kota sama bari tolong jaga Narita dan kabari kami kalau ada perkembangannya ya nak" mohon pak Rudi.


"iya om" ujar Risma


Ketika itu juga seorang petugas membawa jenazah itu ke ruang jenazah, dan bari beserta pak Rudi dan kak Risma mengikuti dari belakang.


Sepanjang menuju ruang jenazah, airmata bari tiada hentinya, sementara kak Risma dan pak Rudi sedikit lebih tenang walaupun diliputi kesedihan yang dalam.


"nak Risma, om minta tolong sebentar, tolong urus dulu semua administrasinya ya, om mau telepon teman om dulu untuk pemakaman besok pagi"

__ADS_1


"iya om"


"ini kartu ATM om,.PINnya nanti chat aja"


"iya om"


Risma mulai mengurus semua administrasi bayinya Narita, mulai dari lahir malam tadi sampai dini hari saat ini.


Risma benar - benar tidak menyangka bahwa anak Narita langsung pergi, padahal dia sudah membayangkan untuk menggendong ponakan.


Setelah selesai semua administrasinya malam menjelang subuh itu bari dan ayahnya menuju kota kelahiran bari. Sepanjang jalan bari memangku jenazah bayinya. Bukannya mereka tidak mau pakai ambulance tapi bari ingin anaknya merasakan naik mobilnya, karena mobil ini bari beli juga mengingat anaknya sudah mau lahir.


Pak Rudi sudah telepon temannya pemuka agama untuk membantu dan mendoakan cucunya besok pagi karena ini bayi masih baru lahir. Jadi harus langsung segera di kuburkan.


Temannya cukup terkejut, pak Rudi telepon tengah malam bahkan hampir subuh. Tapi setelah diceritakan diapun akhirnya mengerti.


Pagi sekali bari dan papanya sudah tiba di pemakaman itu, dan anaknya bari di makamkan di samping ayahnya pak Rudi. Memang tidak banyak yang datang, hanya beberapa orang yang di ajak temannya pak Rudi.


Setelah selesai pemakaman, dan bicara sedikit dengan para temannya yang ikut ke pemakaman pak Rudi janji suatu saat akan menghubungi mereka atau sekedar berkumpul dengan mereka, tapi sekarang mereka masih harus mengurus menantunya yang belum siuman dulu.


Sebenarnya pak Rudi ingin pulang dulu ke rumahnya untuk mandi atau sekedar ganti baju, karena baju yang dia pakai sudah dari sejak kemarin. Dia juga sebenarnya sudah tidak betah lagi dengan pakaiannya.


Tapi pak Rudi mengurungkan niatnya, karena dia takut ngga bisa menahan emosinya nanti ketika melihat sang istri di rumah.


Tapi karena bari mengingatkan papanya untuk mampir dulu dan ganti baju, akhirnya pak Rudi membelokkan mobilnya ke rumahnya dulu. Dia sudah berdoa dalam hatinya untuk di beri kesabaran menghadapi istrinya. Karena kalau mengikuti emosinya bisa jadi sekarang dia sudah main kasar sama istrinya, bahkan bisa jadi menyeretnya ke polisi.


Tapi begitu sampai rumah, anehnya keadaan rumah di luar dugaan pak rudi. Rumah terlihat sepi dan mobil mereka tidak ada di garasi, hanya ada motor bari.


'apa sepagi ini mama sudah keluar rumah, kemana, ke pasar, kalau ke pasar mama ngga pernah bawa mobil' batin pak Rudi.


Pak Rudi mencari kunci rumah yang ada sama dia lalu berniat masuk rumah dan ganti baju. Sementara bari hanya tidur di mobil, mungkin karena kecapean dari kemarin dan semalaman banyak menangis membuatnya langsung tertidur di mobil itu sementara papinya mandi.


Sementara ibu Marlina yang dari tadi malam di rumahnya benar - benar tidak tenang juga. Dia tidak bisa tidur dan sangat gelisah. Entahlah dia sendiri tidak tahu, apakah dia gelisah karena takut menghadapi suaminya besok atau karena Narita dan anaknya sudah meninggal.

__ADS_1


Sejujurnya ibu Marlina sudah berusaha untuk tidur, biar dia melupakan segalanya. Tapi masalahnya ibu marlina tidak bisa memejamkan matanya. Mau telepon teman tengah malam sungguh ngga pantas tapi mau tidur tidak bisa akhirnya Bu Marlina memencet - mencet handphonenya doank tanpa ada yang dilakukan, karena dia jarang juga buka media sosial selain chat atau telepon.


Akhirnya ibu Marlina hanya berjalan mondar mandir, kadang duduk sebentar dan menyalakan tv, tapi hatinya tidak tenang juga, dia tetap gelisah.


Akhirnya saat terdengar azan subuh dia memutuskan untuk chat dokter Eva. Ehhh gayung bersambut, dokter Eva juga mau dinas pagi, sehingga jam empat biasanya dia sudah bangun dan berolah raga kecil.


Mendengar notifikasi pesan di handphonenya, dokter Eva langsung buka dan baca pesan tersebut.


"Tante Marlina" ucapnya untuk dirinya sendiri


'nak Eva, ibu mau ketemu, ibu ingin ketemu kamu pagi ini, ibu sedang tidak bisa tidur' isi pesan dari ibu Marlina membuat dokter Eva senang, karena semakin banyaklah peluangnya untuk bisa dapatin bari.


'emanknya kenapa ngga bisa tidur tante' pancing dokter Eva


'karena papanya bari sedang keluar kota'


'ohhhhh'


'apa aku bisa datang ke rumah sakit nak'


'ohhh iya Tante bisa, datang aja nanti kita bicara di depan rumah sakit' ujar Eva antusias, dia lihat jamnya, masih memungkinkan minta tolong temannya untuk ganti shift. Dokter Eva ingin ketemu dengan ibu Marlina tanpa di buru - buru. Dia ingin santai dan banyak waktu untuk bicara.


'oke va, jam enam aku pasti sudah di depan rumah sakit' balas ibu Marlina


'oke tan'


Setelah membalas pesan ibu Marlina dokter Eva masih berpikir kenapa ya, Tante Marlina kayaknya ngebet banget ingin ketemu? yahhh semoga aja kabar baik, batinnya.


Huhhhhh


Hai para pembaca setiaku


like dan vote terus ya

__ADS_1


Terimakasih🙏


__ADS_2