
Waktu cepat berlalu, kehamilan Narita sudah melewati trimester pertama, dimana sangat menguras kesabaran bari dan juga menguras tenaganya. Karena Narita jelas - jelas lemas dan mual terus sehingga butuh perhatian ekstra dari bari setiap pagi.
Masuk Minggu ke duapuluh kehamilan Narita sudah lebih aman. Bari semakin semangat mengerjakan pekerjaannya dan juga kuliahnya. Kerja pagi, kuliah malam, sangat cape memang tapi bari sangat senang. Dia tidak pernah mengeluh. Memang benar kata orang bijak, kalau suatu pekerjaan kita lakukan dengan senang hati pasti akan bisa di kerjakan dengan baik dan gampang.
Semakin hari bari semakin bahagia dengan keluarga kecilnya. Bari benar - benar ingin menjadi ayah yang baik untuk Bagas dan calon anaknya dan ingin menjadi suami yang baik untuk Narita.
Sekarang bertambah satu kebiasaan bari kalau malam hari, membuatkan susu hamil untuk istrinya. Bari tidak pernah lupa untuk membuatkan susu untuk Narita dan mengawasinya sampai di minum habis. Setelah itu barulah bari mengerjakan pekerjaannya.
Saking terlenanya bari dengan kebahagiaan itu membuat dia lupa telepon papa dan mamanya. Padahal pak Rudi sudah sangat kangen dengan bari dan juga Bagas cucunya.
Bagas adalah semangat hidup pak Rudi saat ini. Tapi mau telepon Bagas takut dia sekolah, kalau siang kadang dia sedang bobo siang kalau malam kadang tidak diangkat dan malah diangkat oleh bari, paling hanya bilang kami lagi jalan - jalan, nanti aja teleponnya. Dan pak Rudi pun maklum, dia tidak ingin mengganggu cucunya itu. Di a ingin memberi ruang dan waktu yang sangat lebar untuk bari bersama putranya itu.
Tapi hari ini pak Rudi sudah tidak tahan. Dia kangen banget sama bari dan cucunya. Sepintas terbersit dalam hati pak Rudi untuk telepon cucunya itu, tapi ini jam sekolah, itu sangat tidak mungkin.
Pak Rudi akhirnya urungkan niatnya itu dan akhirnya dia telepon bari yang kebetulan sedang sibuk, jadi dia pikir entar aja telepon papanya.
Pak Rudi sudah tidak tahan, dia sudah kangen banget sama cucunya. Dia tidak mampu lagi berkata - kata karena rasa kangennya ngga tersalurkan, akhirnya terpikir olehnya untuk mengajukan cuti beberapa hari untuk menginap di kolam pemancingannya bersama ibu Marlina.
Berawal dari iseng ingin mengambil cuti tiga hari, tapi ternyata bosnya memberinya izin enam hari kerja di tambah dua hari weekend membuat pak Rudi punya banyak waktu untuk libur.
'kenapa aku tidak ke Jakarta aja langsung sendiri, takutnya kalau sama mama bari tidak nyaman dengan narita' batin pak rudi
Pak Rudi seperti mendapat ide cemerlang dengan keisengannya mengambil cuti. Dia pun langsung bertekad ke Jakarta.
Tanpa membuang waktu, pak Rudi langsung telepon istrinya, untuk memberitahu dia akan ke luar kota besok pagi,ada urusan ke Jakarta. Dan dia minta tolong disiapin bajunya untuk dua atau tiga hari, karena dia juga ingin ketemu bari dan Bagas.
Pak Rudi juga minta salah satu keponakannya tidur di rumah untuk menemani ibu marlina selama dia keluar kota.
Sepanjang siang sampai sore ini hati pak Rudi sudah berbunga - bunga karena besok dia sudah bisa ketemu cucunya.
Dia sudah sibuk menyiapkan keberangkatannya besok menuju Jakarta. Mulai dari tiket dan juga oleh - olehnya untuk Bagas. Semua sudah di perhitungkan oleh pak Rudi dengan matang.
Dan ketika dia sampai di rumah, di luar perkiraannya ternyata ibu Marlina juga mendukung perjalanannya untuk bertemu bari, dan dia sendiri belum ingin ikut, takut bari curiga lagi padanya. Tapi ibu Marlina sudah menyerahkan semua uang penjualan kolamnya untuk bari dan Bagas karena mereka sama sekali belum tahu kalau bari dan Narita sudah menikah lagi di Jakarta.
Keesokan harinya pak Rudi sudah siap untuk berangkat ke Jakarta. Dua keponakannya juga sudah datang dan akan menginap di rumahnya untuk menemani ibu Marlina. Menuju bandara pak Rudi memutuskan naik travel daripada bawa mobil sendiri, karena belum tahu dia berapa hari di sana.
__ADS_1
Tidak banyak drama saat keberangkatannya karena ibu Marlina juga mendukung. Dengan perjalanan sekitar dua jam pak Rudi sudah tiba di bandara dan dia langsung check in.
Pak Rudi memang sudah lama tidak ke Jakarta, dulu pernah saat dia masih muda. Yang pasti keadaan Jakarta sudah jauh berubah. Tapi dia yakin selagi masih bisa menggunakan bahasa yang baik dia akan bisa bertanya di sana.
Dengan semangat empat lima pak Rudi memasuki pesawat ketika dia sudah melewati boarding pass dan pesawat akan segera berangkat terbang.
Selama perjalanan pak Rudi tidak bisa tidur, hatinya terlalu bahagia untuk membayangkan ketemu cucunya. Dan begitu pesawat landing pak Rudi baru telepon bari.
dddrrttt dddrrttt
"hallo pa, nanti ya pa, bari sedang banyak kerjaan" ucap bari seperti biasa.
"iya nak, ngga apa - apa. kirimkan dulu alamat rumahmu, papa ingin kirim sesuatu buat Bagas, papa kangen banget" ucap papanya langsung mematikan telepon itu supaya bari tidak banyak pertanyaan.
Walaupun sedikit bingung papanya ingin kirim apa, bari kirimkan juga alamat lengkapnya ke papanya.
Pak Rudi langsung pesan taksi online sesuai alamat tersebut. Dengan santainya dia bilang ke supir taksinya alamatnya seolah - olah dia sudah biasa ke Jakarta padahal hatinya sedikit deg - degan sih.
"sesuai map ya pak" ucapnya
Sepanjang jalan pak Rudi tidak habis - habisnya kagum dengan perkembangan pembangunan Jakarta. Dan ternyata alamat bari tidak terlalu jauh dari bandara, hanya sekitar satu jam kurang perjalanan. Dan ketika pak Rudi tiba di alamat itu, sedikit dia heran, apa benar bari tinggal di komplek ini sendirian. Bayangan pak Rudi bari itu tinggal di tempat seperti apartemen.
Walau ragu pak Rudi turun juga lalu dia menekan Bella dan keluarlah seorang wanita agak setengah baya.
"apa benar ini rumah pak barita"? tanya pak Rudi
Melihat pak Rudi bukan orang yang sering ke rumah pembantu itu akhirnya bertanya lagi.
"bapak siapa ya"
"saya pak Rudi kakeknya Bagas" ujar pak Rudi yang yakin pasti wanita ini kenal Bagas juga, pasti bari sudah pernah membawanya ke sini.
"sebentar ya pak" ucap pembantu itu masuk lagi tanpa membuka pintu.
Tidak berapa lama nongol Narita dan Bagas dari dalam rumah itu.
__ADS_1
jedarrrrr
'bapak' batin Narita yang sudah mulai terlihat hamilnya.
Sejujurnya pak Rudi sangat kaget juga ada Narita di rumah bari. Tapi dia juga yakin dan percaya kepada anaknya bari.
"papa" ucap Narita pelan
"kakek" ujar Bagas sambil berlari membuka pintu pagar.
"kakek, kakek datang ke Jakarta "? tanya Bagas berteriak.
"iya nak, kakek kangen kamu" ucap pak Rudi menciumi kepala cucunya. Setelah puas Narita mendekati mertuanya dan mencium tangannya.
"masuk dulu pa" ujar Narita sambil mengajak pak Rudi masuk dan duduk di ruang tamu.
Pak Rudi masih bingung kenapa Narita di rumah anaknya dan itu, sepertinya Narita sedang hamil atau hanya karena bajunya yang longgar. Tapi tidak, Narita sedang hamil, batin pak Rudi
'apa selama ini mereka sudah bersama lagi' ?
'berarti mereka kumpul kebo atau menikah lagi'
'kenapa bari ngga pernah cerita' batin pak Rudi lagi
Tapi karena Bagas juga antusias atas kedatangannya, akhirnya pak Rudi mengabaikan dulu keadaan Narita dan Bari.
Dia menumpahkan segala kerinduannya kepada cucu tersayangnya itu.
Hallo semua readersku yang setia
Dukung terus ya
like, coment dan vote
Terimakasih🙏
__ADS_1