
Bari sudah bingung sekarang, dia sudah tidak bisa berpikir normal. Apa yang harus dia lakukan, apakah dia akan membiarkan Bagas pergi begitu aja atau apakah yang bisa dia lakukan supaya Narita dan Bagas tidak pergi. Beberapa hari ini Bagas terlena dengan kebahagiaannya bersama Bagas, tapi dia lupa bahwa suatu saat mereka akan pulang ke Jakarta, dan bari tidak pernah memikirkan itu sebelumnya.
Biasanya saat galau seperti ini bari hanya bisa bercerita kepada papanya, memecahkan masalahnya bersama papanya.
"ada apa bar" tanya pak Rudi masih ngantuk membuyarkan lamunan Bari.
"Bagas pa" ujar bari langsung sambil menarik tangan papanya untuk duduk di ruang tengah.
Mendengar nama cucunya, pak Rudi yang sedang ngantuk juga langsung melek. Dia langsung bicara serius kepada bari sambil menatap bari yang terlihat sangat galau.
"ada apa dengan Bagas"? tanya pak Rudi
"itu pa, katanya besok pagi mereka pulang ke Jakarta"! ucap bari ngga sabaran.
"apa"???
"kamu siapa yang bilang"? tanya pak Rudi
Sementara ibu Marlina yang dari tadi mengikuti di belakang mereka, mendengar ucapan bari, dan bisa menyimpulkan tadi Bagas telepon kakeknya untuk menyampaikan bahwa ia akan pulang.
"pa, tadi ada telepon Narita masuk ke handphonemu, karena kamu tidur aku angkat. Ternyata bukan Narita tapi seorang anak laki - laki, cucu kita" ujar ibu Marlina sedih.
"terus"
"dia nanya kakeknya terus aku bilang masih tidur, terus dia bilang maaf salah sambung" ujar ibu Marlina.
"kenapa kamu ngga bangunin aku" bentak pak Rudi membuat ibu Marlina makin menunduk.
"maaf" hanya itu yang bisa di sampaikan oleh ibu Marlina. Sementara bari sudah tahu ceritanya dari Bagas barusan tadi, jadi dia cuek aja.
"sudahlah pa, sekarang gimana ini, besok pagi mereka sudah jalan" tutur bari kepada papanya.
"iya iya kamu benar"? ujar papanya
"ma tolong ambilkan handphoneku di kamar" ujar pak Rudi
Ibu Marlina langsung masuk kamar dan mencari handphone suaminya.
"ini pa" pak Rudi menerima handphonenya dan langsung telepon Narita. Dan beruntungnya Narita sudah balik dari beli oleh - oleh.
dddrrttt dddrrttt dddrrttt
"hallo nar"
__ADS_1
"hallo pa" ujar Narita di sebrang
"nar emank benar kalian besok pulang"? tanya pak Rudi serius
"iya pa maaf, tadi siang itu kak Ida sekeluarga sudah pulang, terus dia tanya tiket lagi promo, ternyata besok pagi ada promo pa, hampir setengah harga, makanya kami langsung ambil" cerita Narita terdengar sedikit senyum.
'ya ampun nar, hanya karena tiket promo aku langsung kehilangan cucuku' batin pak Rudi yang sebenarnya tidak kekurangan uang.
"nar, tiket promo itu banyak, kenapa harus dadakan begini, kapan lagi kami bisa ketemu Bagas coba" ujar pak Rudi agak kesal tapi ngga bisa.
"maaf pa, tapi besok papa bisa kok ketemu Bagas di kota S jam 5, karena kami diantar oleh keluarga kak Risma lewat kota S" ujar Narita lagi.
Pak Rudi sudah kehabisan kata - kata, dia tidak tahu lagi mau ngomong apa. Akhirnya dia menyudahi panggilan itu aja.
"ya sudah, kalau sudah mau jalan kabarin papa" ujarnya
"iya pa"
"udah ya"
"iya pa"
Setelah menutup panggilan itu pak Rudi langsung menatap bari.
"emank benar besok pagi mereka pulang pa"? malah bari bertanya lagi.
"ya, katanya ada tiket promo, makanya dia buru - buru ambil. Kasian dia sampai segitu ngiritnya" ujar pak Rudi di depan anak dan istrinya. Bari terlihat makin merasa bersalah, karena semua derita Narita itu, adalah karena bari suaminya yang tidak bisa menjaga keluarganya.
"Ya sudah bar, sekarang kamu siap - siap, kita jalan. nanti kita gantian nyetirnya. Besok pagi biar kita aja yang antar ke bandara, tidak usah Risma kasian dia sedang hamil besar" ucapnya sambil bangkit masuk kamar.
Ibu Marlina mengikuti suaminya masuk kamar tidur mereka.
Dia terlihat membuka lemarinya dan mengeluarkan sejumlah uang cash yang ada di sana.
"pa, boleh ngga, tolong berikan ini untuk Narita." ucapnya pelan sambil menyodorkan banyak uang ratusan ya.
Pak Rudi terlihat heran, dia menatap istrinya bingung.
"kamu lagi sakit atau sedang merencanakan sesuatu"? tanya pak Rudi
"ngga pa, saya ngga sakit. Setidaknya kalau saya mati sekarang pun saya sudah pernah memberikan cucu saya jajan" ucapnya
"tumben kamu mau akui Bagas cucumu"
__ADS_1
"tidak usah di bahas pa, mama tahu mama salah, dan ini adalah hukuman untuk mama. Tapi tolong berikan ini untuknya, bilang aja hasil tabungan papa" ujar ibu Marlina pasrah.
"ngga usah ma, bari yang akan membiayai anaknya, biar gimana pun bari berhutang banyak. Narita sudah mengurus Bagas sampai sebesar ini, sementara bari ngga pernah kasih sepeserpun, mulai sekarang harus bari yang tanggung." ucap pak Rudi tegas.
"iya pa, mama setuju, tapi apa ngga boleh ya, mama kasih ini buat Bagas" ujar Bu Marlina penuh harap.
"papa bilang aja itu dari papa, jangan dari aku" ujarnya lagi seperti penuh penyesalan.
Pak Rudi yang melihat istrinya berubah, merasa sedikit tenang. Tapi tidak serta Merta dia percaya kalau istrinya sudah berubah, takutnya itu tipu muslihat doank.
"ya sudah nanti aku berikan" ujarnya sambil memasukkan uang itu ke dalam amplop dan masih memegangnya Spain mereka keluar kamar.
"sudah bar"? tanya pak Rudi melihat bari sudah berdiri di depan kamarnya
"sudah pa"
"bar, ini kata mama untuk jajan Bagas, nanti tolong kamu kasihkan, lumayan buat biaya hidup mereka disana" ujar pak Rudi sambil menyodorkan amplop ke pada bari.
Sama dengan pak Rudi tadi, bari juga menanyakan kepada mamanya kenapa ingin kasih uang jajan Bagas.
"tumben ma, mama tidak sedang merencanakan sesuatu kan"? tanya bari karena masih kurang percaya dengan ketulusan mamanya kepada Bagas.
Sejujurnya hati ibu Marlina sangat sedih dan hancur. Anak yang dia banggakan dan juga suaminya selalu menganggapnya ingin berbuat jahat kepada cucunya. Padahal ibu Marlina kali ini sudah sangat tulus, entah apa penyebabnya, yang pasti rasa marahnya kepada Narita juga sudah hilang lenyap berganti dengan rasa takutnya kehilangan cucunya.
Tapi ibu Marlina juga sadar, ini adalah buah dari perbuatannya selama ini. Perbuatan yang selalu menyusahkan Narita selama jadi menantunya.
"mama hanya ingin ngasih jajan Bagas, tidak lebih" ujarnya akhirnya dengan raut wajah yang sangat sedih.
Pak Rudi yang melihat kesedihan istrinya akhirnya mengambil jalan tengahnya, karena dia juga ngga tega kalau dalam posisi terpojok begitu istrinya di pojokan lagi, doakan saja semoga dia benar - benar sudah bertobat.
"sudah bar, ambil aja, mungkin mama sudah bertobat, tidak ada yang tidak mungkin kan, apalagi wajah seorang cucu seperti Bagas, pastilah bisa mengubah dunia bar" ujar pak Rudi tersenyum tipis.
"ya sudah ma, semoga nanti mereka terima" ucap bari.
"amin" ujar Bu Marlina sedikit tersenyum
Hai semuanya
Tetap dukung author ya
like, coment dan vote
Terimakasih🙏
__ADS_1