PENYESALAN SEORANG SUAMI

PENYESALAN SEORANG SUAMI
PART 111 AKU DATANG


__ADS_3

Sebulan sudah setelah Narita dan Bagas pulang dari kota B kemarin. Dan setelah itu komunikasi antara bari dan Bagas memang sangat cair dan biasanya akan di akhiri dengan bicara sama maminya, hal yang paling di sukai oleh bari akhir - akhir ini, ketika bisa bicara dengan Narita maminya Bagas tanpa kekakuan dan seperti menjaga jarak.


Semenjak itu juga, hidup bari kembali hidup bukan seperti sebelumnya hanya tubuhnya yang hidup tapi hatinya sepertinya sudah mati.


Awal - awal bari selalu telepon Narita agak sungkan memang, tapi karena hampir tiap hari telepon dan bicara akhirnya Narita juga jadi terbiasa.


Siang ini akan ada rapat di kantor bari, dan rapat ini dihadiri oleh pimpinan pusat dan bari sudah bertekad untuk mengajukan permohonan pindah dengan alasan mau melanjutkan pendidikan. Jika memungkinkan bari pindah ke kantor pusat yaitu Jakarta, otomatis bari akan bisa sering bersama Bagas dan Narita.


Memang sih agak jarang karyawan daerah di tarik ke pusat, tapi Tiada hal yang mustahil, apalagi alasan bari masuk akal, demi melanjutkan pendidikan , bari harus berusaha dulu sekuat tenaga, apa pun caranya demi untuk lebih gampang mendekati Narita.


Mungkin sudah jalanNya ataukah alam juga mendukungnya, karena melihat prestasi bari selama ini pimpinan mengabulkan permintaan bari untuk ke kantor pusat. Apalagi alasan bari untuk lebih mencari pengalaman kerja dengan lingkungan baru dan bari juga masih ingin melanjutkan kuliahnya.


Bari jelas sangat bahagia. Dia sudah membayangkan di kantor baru dia akan menjadi orang baru, dan lingkungan baru. Dan yang paling pertama dan utama Dia akan mendekati Narita, pacaran lagi dengan Narita, dan berkunjung ke rumahnya seperti seorang pemuda mendatangi rumah pacarnya.


Bari akan mulai semuannya dari awal, bagaimana prosesnya mendekati seorang wanita.


Sudah banyak hal yang akan bari bayangkan. Yang jelas dia harus pindah dari kota ini, demi kenyamanan rumah tangganya nanti. Dan dia berharap semoga Narita jangan terlalu sulit di dekati.


Sampai di rumah, bari segera menyampaikan ke inginannya kepada papa dan mamanya. Bari hanya berharap semoga mamanya mengerti dan jangan berbuat aneh - aneh lagi atau pun memerankan drama tentang tema anak durhaka, yang selama ini menggoyahkan pertahanan bari.


"baru pulang bar" tanya pak Rudi yang sudah lebih dulu sampai rumah.


"iya pa, tadi agak lembur dikit, banyak kerjaan yang harus bari kejar"


"ohhh ya sudah mandi sana" ucap pak Rudi


"ntar dulu deh pa, masih cape" ujar bari


"ohhh iya pa, ma, bulan depan aku sudah pindah kerja" ucap bari sebagai pembuka

__ADS_1


"pindah kerja" tanya ibu Marlina jelas kaget, sementara pak Rudi hanya diam dulu tanpa memberi reaksi.


Bari terlihat membenarkan posisi duduknya, lalu lanjut bicara.


"iya ma, aku akan pindah ke kantor pusat di Jakarta" ucap bari.


deg


Jakarta


Pak Rudi terlihat menatap bari, apa ini juga salah satu rencana anaknya untuk mendapatkan Narita lagi? Tapi apapun itu pak Rudi yakin kalau anaknya sekarang sudah bisa menentukan sikapnya.


Ibu Marlina sudah tidak bisa bicara apa - apa, karena pasti juga tidak akan berpengaruh dengan keputusan bari. Jadi lebih baiklah dia mendukung aja apa keputusan bari.


"Tadi bapak pimpinan sudah setuju pa, dan aku juga di sana ingin kuliah lagi kok" ucap bari lagi.


"aku ingin bisa berkembang lagi, demi anakku Bagas, aku ingin dia bangga samaku pa" ujar bari sambil senyum - senyum. Sekarang bari memang terlihat lebih bersemangat, dan hidupnya juga lebih bergairah. Dari cara pakaiannya juga dia sudah lebih perhatikan, bukan seperti waktu bersama Eva, semua bodo amat dan terlihat asal - asalan.


Sementara mamanya bari hanya bisa diam menunduk. Dia juga tidak yakin apakah mereka membutuhkan pendapatnya dalam masalah ini.


"Terus kapan rencanannya kamu berangkat"? tanya pak Rudi


"akhir bulan Pa, karena awal bulan aku sudah masuk kantor baru. Jadi aku minta waktu tiga hari untuk mempersiapkan segala sesuatunya termasuk tempat tinggalku." ujar bari


"terus rencanannya kamu mau ngontrak di sana"? tanya pak Rudi lagi


"iya pa, katanya dekat kantor itu ada kok apartemen yang bisa kita sewa" tutur bari karena sudah banyak bertanya memang sama teman - temannya saking antusiasnya ingin ke Jakarta. dan yang paling bikin bari senang adalah jarak antara tempat tinggal Narita dan bari nantinya tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu setengah jam naik mobil.


"iya, biasanya sih memang banyak lah apartemen di Jakarta yang bisa di sewa, apalagi itu dekat kantor besar." ujar pak Rudi

__ADS_1


"iya pa" ucap bari ngga bisa menyembunyikan rasa bahagianya, membuat ibu Marlina semakin diam. Dia bisa melihat betapa bahagiannya putranya yang akan bertemu dengan anak dan istrinya. Bahkan bari sampe tersenyum begitu manis ketika mereka membicarakan tentang Jakarta yang nota bene tempat tinggal Narita


"apa kamu sudah kabarin Narita dan Bagas"? tanya pak Rudi lagi


"belum pa, niatnya aku kasih kejutan aja buat Bagas setelah aku sampai Jakarta" tuturnya lagi.


"Ya sudah, baguslah, tatalah masa depanmu dengan baik. Nanti usaha kolam pancing kita akan aku kelola dan hasilnya aku selalu transfer" ucap pak Rudi.


"iya bar, mama juga akan jual usaha kolam ikan mama, soalnya mama udah ngga kuat mengelolanya. Nanti hasilnya itu buat kamu kuliah atau beli rumah"! ucap ibu Marlina serius.


"ngga usah ma, papa masih ada simpanan dari hasil usaha pemancingan itu selama ini, sangat cukup kok untuk biaya kuliah bari lagi sampai lulus" ucap pak Rudi


"tapi mama juga sudah malas untuk meneruskan usaha itu pa, mama ingin tenang dan istirahat tanpa memikirkan kerjaan lagi, cukuplah uang yang papa kasih aja" ujar ibu Martina serius. Dia memang sudah memikirkannya matang - matang, dia sudah tidak mau usaha lagi, dia ngga usah ada tanggung jawab lagi, dia sudah cape, ingin istirahat. Toh suaminya juga masih selalu memberikan gaji setiap bulannya.


"iya kalau karena mama sudah cape ya sudah, over aja, tabung aja duitnya buat nanti kita tua atau bari ingin beli rumah di sana nanti" ujar pak Rudi serius.


'terserah papa aja kalau begitu, yang pasti aku ingin over kolam itu" ujar ibu Marlina


"ya sudah ma, nanti coba kita cari pembeli tertinggi, jangan buru - buru kan toh juga nggada yang urgent" ujar pak Rudi


Setelah cukup lama berbincang bari ingin masuk dulu meninggalkan kedua orang tuannya.


"hahhh syukurlah bari sudah menemukan kebahagiaannya, saya ngga ke bayang kalau bari jadi mayat hidup kayak kemarin, kasian dia" ujar pak Rudi sambil menerawang entah kemana pandangannya, dan ibu Marlina juga sependapat kali ini dengan suaminya.


Hallo semua


dukung terus ya


like, coment dan vote

__ADS_1


Terimakasih🙏


__ADS_2