PENYESALAN SEORANG SUAMI

PENYESALAN SEORANG SUAMI
PART 76 MAMA


__ADS_3

Setelah mengurus istrinya, bari langsung membersihkan dirinya sendiri. Lalu mereka menuju meja makan untuk makan malam. Sementara kopi bari yang tadi telah dia buat sudah sedikit dingin.


Jadilah mereka makan malam agak kemaleman. Tapi karena hati mereka berdua sedang berbunga - bunga , tidak ada masalah untuk urusan jam makan itu.


Setelah selesai makan nari ingin mencuci piring bekas makan mereka, tapi bari melarangnya. Dia tidak ingin istrinya sakit karena banyak kena air malam hari.


"besok aja dek, pagi Abang bantu deh" ujar bari


"tapi dikit doank kok bang piring kotornya"


"kamu itu baru operasi lho, dari luar doank kamu sudah kuat, tapi di dalam organ tubuhmu itu belum kuat benar" ujar bari


"udah besok pagi aja, lagian kamu baru cape" goda bari mengedipkan matanya.


"ngga kok bang" jawab Narita asal


"ohhhhh belum cape, boleh lagi nih" goda bari membuat Narita melotot melihat suaminya.


"Abang kok jadi mesum banget ya" ucap Narita tersipu


"makanya besok pagi aja, sekarang temani Abang nonton bola bentar" bari langsung menuntun Narita ke ruang keluarga untuk nonton walaupun sebenarnya dia sedang tidak ingin nonton. Dia hanya ingin menghabiskan kopinya.


Setelah kopinya habis bari mengantar gelasnya ke dapur lalu mengajak Narita yang sedang nonton sinetron untuk tidur.


Malam ini mereka tidur dengan sangat nyaman, berpelukan satu sama lain hingga pagi.


Waktu berlalu begitu cepat, sudah hampir dua Minggu bari dan Narita selalu bermesraan, tidur berpelukan dan jangan lupakan olah raga mereka sebelum tidur setiap malam.


Sejenak mereka menikmati masa - masa menjadi suami istri yang mandiri, tanpa pengaruh siapa pun.


Tapi ternyata ujian mereka hanya berdiam sejenak dan langsung datang lagi.


Hari ini bari berangkat ke kantor seperti biasa dan tiba di kantor dengan hati bahagia. Tapi sekitar jam sepuluh pagi ada berita yang kurang menggembirakan dan bahkan mungkin sangat tidak bari harapkan, mamanya masuk rumah sakit.

__ADS_1


"mama drop kemarin terus papa bawa ke dokter dan di anjurkan untuk dirawat" ucap pak Rudi di telpon itu.


Bari masih diam, bukanya dia ngga sayang mamanya tapi dia masih bingung menghadapi mamanya. Dia masih belum terima kepergian anaknya karena kehadiran mamanya yang tiba - tiba di rumah mereka, entah apa tujuannya yang pasti karena itu nari jatuh dan anak mereka meninggal.


"Bar aku tahu kamu masih marah dan belum terima dengan kejadian kemarin, tapi papa juga ngga mau kamu jadi anak durhaka. Selama kamu diamkan terlihat sekali mama sangat tertekan, jadi datanglah ke rumah sakit, jenguk mama" saran pak Rudi kepada anaknya yang dari tadi hanya diam.


"iya pa, nanti aku usahakan datang, tapi hanya aku sendiri, aku belum ingin cerita apapun sama Narita" ucap bari


"iya, baiklah papa mengerti" ucap pak Rudi. Pak Rudi juga sangat mengerti hati dan perasaan anaknya bari, bahkan mungkin kemarin pak Rudi yang lebih emosi sampai mendiamkan ibu Marlina beberapa hari, pulang ke rumah hanya untuk tidur.


Tapi ketika ibu Marlina terlihat kacau dan jatuh sakit, hati pak Rudi sedikit iba, biar bagaimana pun ibu Marlina sudah mendampinginnya selama bertahun - tahun.


Tapi pak Rudi tidak ingin memberitahu bari anaknya, dia tidak ingin anaknya itu terbeban dan sedih.


Sampai akhirnya istrinya itu drop dan harus di rawat di rumah sakit. Pak Rudi akhirnya mau ngga mau telepon bari, siapa tahu juga kehadiran bari bisa sedikit membantu penyembuhan istrinya.


Pak Rudi kembali ke ruang rawat istrinya setelah telepon bari.


Papanya selama ini sangat mengerti bari, jadi tidak mungkin bari mengabaikan perkataan papanya.


Seharian bari bekerja dengan gelisah, sampai tiba waktunya makan siang. Akhirnya bari memutuskan untuk ke rumah sakit sebentar. Biar bagaimana pun itu adalah mamanya, dan kata orang jangan sampai kita mengabaikan orang tua kita, mumpung mereka masih hidup. Karena kita tidak tahu kapan orang tua kita akan pergi untuk selamanya.


Dengan mengendarai mobilnya bari menuju rumah sakit setelah terlebih dahulu telepon papanya, karena dia tidak mau sendirian nanti waktu bertemu mamanya, karena bari belum tahu harus bersikap bagaimana nantinya.


Begitu tiba di rumah sakit, bari langsung menuju ruangan yang telah di kasih tahu papanya.


Dengan langkah cepat bari langsung menemui papa dan mamanya. Begitu masuk ruangan itu terlihat bari sampai meneteskan air mata melihat mamanya berbaring lemah dan cairan infus tergantung di sana. Mamanya terlihat lebih kurus sekarang. Sudah lebih dua bulan bari tidak bertemu mamanya, karena tidak ingin marah kepada mamanya.


"pa" sapa bari kepada papanya yang sedang mengupas buah jeruk untuk mamanya, sehingga mereka tidak memperhatikan bari masuk.


"ohhh kamu sudah datang nak" ucap pak Rudi


"hmmmm"

__ADS_1


Bari langsung mendekati mamanya. Ibu Marlina langsung menangis melihat anaknya itu datang.


"bari" gumamnya menjulurkan tangannya untuk meraih bari. Bari langsung menunduk sambil meneteskan air mata.


"ma" ucapnya pelan sambil mencium tangan mamanya.


Ibu Marlina malah semakin menangis dan mengusap kepala putranya. Dia sangat terharu dengan kedatangan putra semata wayangnya, yang sangat dia rindukan beberapa bulan ini.


"maafkan mama bar" ucap ibu Marlina pelan.


Bari masih terdiam, namun airmatanya kembali menetes menunjukkan betapa sedihnya hatinya.


"sudahlah ma, ngga usah di ingat lagi" ucapnya asal, karena sebenarnya itu hanya di bibirnya saja, dia masih sangat sedih mengingat anaknya dan juga istrinya.


Pak Rudi tahu kegalauan bari sehingga dia mendekati anaknya itu setelah menaruh jeruk yang tadi dia pegang.


"bar, aku tahu ini berat, tapi mama sudah menyesal. Dan mama sudah merasa bersalah dari kemarin, sampai - sampai dia sakit dan drop" ucap pak bari memberitahu anaknya. Biar bagaimana pun bari juga pasti masih sayang sama mamanya. Pak Rudi cukup tahu sifat anaknya itu, kesalahan fatal Marlina adalah membuat Narita jatuh sehingga bari harus kehilangan anaknya. Walaupun Marlina bilang tidak mengganggu Narita, tapi kenyataanya kedatangan Marlina lah penyebab Narita jatuh. Dan itu tidak bisa di pungkiri oleh siapapun.


"iya pa" jawab bari pendek. " terus apa kata dokter pa" tanya bari kepada papanya.


"mama harus istirahat, mama hanya kebanyakan pikiran" ujar pak Rudi lesu. Biar bagaimana pun dia sudah gagal sebagai suaminya, dia gagal membimbing istrinya dan dia ngga mau sampai gagal membimbing anaknya.


"ohhhh, syukurlah" ujar bari.


Hai semuannya


Terimakasih ya, sudah setia mengikuti karyaku ini


Tetap like, coment dan vote


Terimakasih🙏


"

__ADS_1


__ADS_2