
Setelah menelepon bari, kak Risma kembali mengurus semua keperluan Narita. Sebenarnya pertolongan pertama sudah dilakukan dokter untuk menyetop pendarahannya, tapi sepertinya darah yang keluar juga sudah terlalu banyak. Jadi Narita tidak bisa menunggu lama, harus segera di bawa ke rumah sakit yang fasilitasnya memadai. Dan itu harus berpacu dengan waktu mengingat banyaknya darah yang sudah keluar.
Risma mengurus semuannya bersama Bu may sampai Narita dibawa ambulance menuju rumah sakit terdekat. Ibu may beserta seorang perawat ikut ambulance yang membawa Narita sementara kak Risma mengikuti dari belakang.
Sementara bari yang sudah akan pulang tiba - tiba ingat papanya. Biar gimana pun papanya selalu membantunya.
dddrrttt dddrrttt
"halo bar" tanya papanya di sebrang masih tenang.
"pa, Narita pa, Narita " hanya itu yang sanggup bari ucapkan.
"nari kenapa bar"? suara pak Rudi mulai meninggi mendengar nama menantunya yang sedang hamil besar dan bari seperti sedih.
"nari..., tadi kak Risma..." bari tidak bisa lagi melanjutkan ucapannya karena dia sudah menangis. Menangis karena dia tidak bisa menjaga istrinya.
"bar..kamu tenang dulu, tenang ya, sekarang kamu dimana"?
"ini sudah mau pulang pa, masih di kantor"? jawabnya lesu
"nyetir sendiri" tanya pak Rudi khawatir
"hmmmmmm"
"ngga ngga bar, kamu ke kantor papa sekarang ya, sekarang" ujar pak Rudi. Dia ngga mau anaknya menyetir sendiri dalam keadaan kacau.
"iya pa" jawab bari pasrah
Setelah mematikan sambungan telepon itu, pak Rudi langsung menghubungi Risma temannya Narita. Untung aja dulu pak Rudi minta nomornya ketika ke rumah bari.
dddrrttt dddrrttt dddrrttt
"hallo"
"hallo nak Risma, ini Rudi mertuannya Narita" ucap pak Rudi
"ohhh iya om, Narita harus ke rumah sakit, jadi kita sedang otw rumah sakit nih om"
"sebenarnya apa yang terjadi nak" tanya pak Rudi.
"panjang ceritanya om, yang pasti Narita jatuh pingsan dan mengeluarkan banyak darah"
__ADS_1
"hahhhh, ya sudah, nak Risma tolong usahakan yang terbaik untuk menantu dan cucu om ya, kami dan bari akan segera tiba" ujar pak Rudi mantap.
"baik om"
Pak Rudi jadi ikut gelisah seperti bari, hatinya sama sekali tidak tenang. Bagaimana nanti kalau cucunya kenapa - Napa.
Pak Rudi tidak tahu dimana keberadaan istrinya, karena jam segini biasanya paling sedang di kolam ikannya. Dia hanya kirim pesan chat bahwa dia keluar kota mungkin pulang malam.
Tidak berapa lama barita nyampe di kantor papanya, dan papanya ternyata sudah menunggu di lobby kantornya. Ketika melihat mobil bari, dia langsung keluar dan masuk mobil bari.
Pak Rudi bisa lihat betapa hancurnya wajah bari saat ini, masih terlihat sisa air mata disana.
"sini papa aja yang nyetir, kamu duduk dan tenangkan diri ya"
"iya pa" bari langsung bergeser ke kursi penumpang di sebelah supir.
Dia langsung mengambil handphonenya dan telepon ibu may.
Tapi karena ibu may juga sedang ikut di ambulance sementara tasnya tadi ketinggalan di mobil Risma. di kursi belakang mobil Risma sehingga Risma pun ngga dengar kalau handphone Bu may berdering.
'ihhhh kok ngga diangkat sih' gumam bari di sebrang.
Pak Rudi yang melihat kegelisahan anaknya mencoba meredakan gelisah bari.
"apa pa, harus di rujuk"? hati bari makin kacau dan makin tidak bisa lagi menahan gejolak hatinya. Dan dia tidak bisa mengerti kenapa dia tidak bisa menjaga anak dan istrinya.
Melihat bari makin kacau sebenarnya papanya juga ngga tega, tapi pak Rudi juga ngga bisa berbuat apa - apa selain menghibur anaknya.
"sabar bar, kamu tenang dulu, yang bisa dan harus kamu lakukan sekarang adalah berdoa, berdoa untuk anak dan istrimu bar" ucap pak Rudi berusaha menenangkan bari. Biar bagaimana pun dia bisa merasakan perasaan bari, karena dia juga seorang ayah.
"iya pa" ujar bari lalu terdiam, entah dia lagi berdoa dalam hati atau sedang merenungi nasibnya atau sedang membayangkan anak istrinya, yang pasti dalam diam itu airmatanya sampai menetes.
Sementara ibu Marlina yang masih berada di kota B makin bingung. Sebenarnya tadi dia masih mengikuti mobil yang membawa Narita ke klinik. Tapi dia tidak tahu bagaimana keadaan Narita lagi.
Keponakannya yang menyupiri ibu Marlina juga bingung dengan ulah tantenya. Dari tadi pertanyaannya tidak ada yang terjawab. Dari semenjak mereka di depan rumah bari dan Narita tadi.
"tadi katanya Tante mau ke rumah kak Narita dulu, kok malah balik dan ngga jadi masuk" tanyanya karena pas kejadian tadi di depan rumah bari dia sedang minta izin ke ibu Marlina ke warung depan gang untuk beli rokok. Dan dia datang ketika sudah banyak orang dan tantenya ibu Marlina terlihat shock.
"ngga..ngga jadi, kita jalan aja" ujar Bu Marlina dan melihat mobil Risma datang dan orang - orang sibuk mengangkat Narita masuk ke mobil itu.
'mobil siapa ini, apa mobil bari' batinnya, tapi tunggu, ini bukan mobil bari, karena yang turun seorang perempuan bukan bari, dan bari juga kan kerja di kota S, butuh waktu menuju ke sini' batinnya.
__ADS_1
"lho itu rumahnya rame orang kenapa Tan, kita lihat dulu takutnya ada apa - apa Tan" ujarnya.
Ibu Marlina sedikit gugup, karena dia sendirilah penyebab terjadinya keramaian ini, dia yang membuat Narita kaget dan pingsan.
"ngga usah, itu narinya sedang sakit kayanya, sudah di bawa ke mobil itu, tuh" tunjuknya ke mobil Risma.
Tidak berapa lama mobil Risma pun berlalu dari rumah bari dan Narita setelah Risma menitipkannya ke tetangga.
"ini kuncinya, takutnya suaminya ntar ke rumah dulu" ujar kak Risma ke tetangga itu.
Mobil Risma segera berlalu dari tempat itu.
"ikuti mobil itu dulu"
"mau ngapain sih Tan, kayak detektif aja" canda keponakannya yang tidak mengerti dengan ke khawatiran tantenya.
"kamu ikutin aja" teriak Tante Marlina membuat keponakannya hanya bisa diam dan tidak bertanya lagi.
Dan disinilah mereka sekarang di depan klinik yang menangani Narita, padahal ibu Marlina tidak tahu kalau Narita sudah di bawa ambulance lewat pintu belakang. Yang dia lihat hanya Risma yang naik mobilnya dan pergi dari klinik itu.
Ibu Marlina masih berpikir kalau Narita masih di tangani di dalam.
'apa aku harus masuk ke dalam melihat ke adaannya, dia kan tadi pingsan, jadi ngga tahu donk kalau aku datang' batin Bu Marlina
'tapi bagaimana kalau bari juga langsung datang' batinnya lagi.
'ngga ah, ngga mau cari mati. aku ngga mau bari tahu aku ke kota ini dan ketemu istrinya'
' tapi gimana kalau nanti istrinya cerita setelah sadar' gumamnya
'kita cari aja alasan lain, bilang aja dia terlalu trauma' batinnya lagi.
"ahhhhhhh" teriak ibu Marlina akhirnya
Hai readersku yang terbaik
dukung terus ya
like
coment
__ADS_1
vote
terimakasih🙏