
Ternyata ucapan kak Ida tidak hanya bualan. Begitu Risma membawa surat yang sudah di tanda tangani oleh Narita pulang kampung, entah gimana caranya , semua di atur oleh pak Dion , pengacara sekaligus kakak tertuanya Ida.
Bari terpana dengan kehadiran orang yang tidak dia kenal ke kantornya, yang mengaku sebagai tamunya. mau ngga mau bari langsung menemuinya dan mempersilahkan masuk ruangannya.
"selamat siang pak barita" ucap Dion
"selamat siang, silahkan" ujar barita untuk mempersilahkan tamunya duduk
"perkenalkan pak, saya Dion, saya utusan dari ibu Narita untuk mengurus surat perceraian" tutur Dion
deg Narita..dimana dia?
Tak bisa di bohongi ternyata jantung bari masih berdetak sangat kencang hanya mendengar nama itu.
"nari" tanya bari ke pak Dion sambil menatap serius dan memajukan sedikit tubuhnya.
"dimana dia sekarang pak" desak bari tak sabaran.
Untunglah Ida sudah menceritakan semuanya, jangan sampai bari tahu Narita ada dimana.
"maaf pak bari, tapi ibu Narita minta saya tidak perlu memberitahu bapak dimana beliau sekarang, yang pasti beliau hanya ingin kepastian statusnya." ujar pak Dion
Bari terlihat kecewa mendengar jawaban pak Dion.
"bagaimana kalau saya tidak mau tanda tangan sebelum saya bisa bertemu dengan nari" tantang bari. Jujur bari belum siap melepaskan nari, karena cinta dan hatinya tetap untuk Narita apapun alasannya.
Bahkan mendengar nama Narita aja, jantungnya masih berpacu lebih cepat.
"tapi saya rasa tidak ada alasan untuk bapak menahan status ibu Narita, karena bapak sendiri sudah berumah tangga sekarang" ujar pak Dion.
Bari terdiam sejenak, dia sekarang memang sudah menikah dengan Eva sesuai kemauan mamanya. Dan sejak saat itulah bari menganggap dirinya sendiri sudah mati. Dia tidak pernah ada ke inginan apa pun, bahkan hanya untuk bercinta dengan Eva yang nota bene sangat cantik. Kalaupun beberapa kali mereka berhubungan suami istri, itu karena desakan Eva, kalau bisa di bilang seperti Eva memperk.sa bari.
Bari juga tidak ingin pindah dari rumahnya atau memiliki rumah baru. Sekarang hidupnya seperti robot mamanya dan juga Eva, bari tak pernah memberontak maupun melawan. Datar.
Begitu Eva minta duit belanja bari langsung memberikan atmnya tanpa berpikir untuk dirinya sendiri.
Melihat itu sebenarnya pak Rudi jauh lebih menyesal menyuruh bari menikah dengan Eva. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur.
Anaknya itu sekarang malah seperti orang yang tidak beriman.
Sementara Eva yang di beri kebebasan dengan uang bari jelas aja tidak bisa mengontrol diri.
Setiap hari kerjanya belanja dan belanja lalu nongkrong di cafe.
Dia akan pulang ke rumah kalau dia sudah ingin tidur. Bari bahkan tidak pernah bertanya Eva habis dari mana dan kenapa pulang malam atau bahkan pernah ngga pulang karena mendadak ada kerjaan di rumah sakit.
__ADS_1
Eva yang ingin menjelaskan semuanya menjadi urung ketika temannya menyadarkannya.
"berarti suamimu ngga cinta kamu kali, buktinya kamu ngga pulang, ngga nanya dimana atau kemana gitu. atau ngapain ke rumah sakit gitu" ujar temannya becanda.
deg
Barulah Eva sadar, kalau pernikahannya dengan bari memang tidak berarti apa - apa. Tapi kenapa bari memberikan semua uangnya untuk Eva, bukankah itu berarti bari meminta Eva yang menabung masa depan mereka?
Padahal Eva salah besar!
Itu bari berikan karena bari sudah seperti orang mati yang tidak butuh apa - apa. Dia hanya perlu bernafas dan makan di rumah mamanya. Dia sudah tidak punya mimpi, sudah tidak punya harapan.
"gimana pak bari" ujar pak Dion membuyarkan lamunannya.
"pak, saya tahu, tapi saat ini Narita itu masih istri saya. paling tidak sampai putusan pengadilan. Apakah salah pak kalau seorang suami ingin melihat wajah istrinya sebentar aja pak" ucap bari memohon sambil menitikkan airmata membuat siapapun pasti trenyuh mendengarnya.
Pak Dion jadi bingung, harus menjawab apa. Pak Dion juga jelas ngga mau menanggung dosa kalau menceraikan dua orang yang masih saling mencintai.
"pak bari, boleh saya tahu alasan bapa ingin bertemu ibu Narita, mungkin akan jadi pertimbangan saya" ucap pak Dion
"saya kangen istri saya pak" ucap bari dengan tetesan airmata.
"Saya tahu dia pergi demi kebahagiaannya, dan mungkin sekarang dia sudah menemukan laki - laki lain yang mencintainya. Saya ikhlas pak. Tapi saya ingin bertemu dia sekali lagi aja, saya ngga ada maksud apa - apa pak, hanya sangat rindu"
"apa istri anda tidak akan keberatan, atau menyebabkan masalah nantinya"
"nah itu bapa tahu, bapak bari sendiri tidak bisa menjamin istrinya gimana kami bisa membiarkan klien kami kena masalah pak" ujar Dion. Tapi pak Dion sedikit penasaran gimana sih pernikahan mereka dulu versi barita, bukan hanya versi Narita dan temannya.
"iya pak, ngga usah deh" ucap bari lagi, membuat pak Dion makin bingung.
Bari terlihat menarik nafas panjang, lalu dia mengambil handphonenya di meja dan mencari kontak papanya.
dddrrttt dddrrttt dddrrttt
"hallo bar"
"pa, papa bisa ke kantor bari ngga bentar"
"ada apa bar"?
"ada pengacara nari pak, ingin mengurus surat cerai kami. Aku ngga siap pa, mending papa aja yang bicara" ujarnya pasrah.
"ya sudah, biarkan papa bicara sama beliau"
"iya pa"
__ADS_1
Bari pun memberikan handphonenya ke pak Dion.
"ini papa saya pak, bicaralah dengannya, saya lagi mumet" ucap bari
"baik pak"
"selamat siang pak, saya papanya barita"
"siang pak, saya Dion, orang yang di mintai tolong sama Bu Narita"
Mendengar nama Narita, hati pak Rudi juga jadi sedih. Menantu yang baik yang telah berkorban banyak dulu. Dan sekarang dia datang dengan surat cerai, gimana pak Rudi tidak sedih.
'aku aja sedih, apalagi bari, pasti dia sangat hancur lagi' batin pak Rudi.
"gimana kalau kita ketemu di cafe yang dekat taman bunga aja pak, sekarang, saya langsung jalan" ucap pak Rudi
"baik pak"
"sebaiknya bari tidak usah diajak dulu pak, karena dia itu sedang down" ucap pak Rudi membuat pak Dion sedikit mengerti tentang perilaku pak bari dari tadi.
pak Rudi dan pak Dion akhirnya ketemu di cafe dekat taman bunga.
"pak Rudi" sapa pak Dion
"iya pak"
"silahkan pak"
"Pak Dion, maaf sebelumnya. saya tahu bapak hanya mengerjakan tugas. Tapi sekarang keadaan anak saya sangat down pak" ujar pak Rudi
"maksudnya pak"
Terlihat pak Rudi menarik nafas panjang.
"panjang ceritanya pak, tapi intinya, bari sama nari itu sangat saling mencintai. Tapi mamanya bari selalu menentang dan berusaha memisahkan mereka. Sampai akhirnya Narita hamil dan anaknya meninggal karena tekanan istri saya. Bari sangat hancur, apa lagi Narita juga langsung pergi beberapa bulan setelah kejadian itu" tutur pak Rudi.
" sejak itu bari jadi diam, nurut dan ngga pernah mengeluarkan pendapat. dulu saya berpikir kalau dia menikah dengan Eva akan bisa merubah sikapnya, tapi ternyata salah, dia malah makin diam dan seperti patung hidup."
Pak Dion terlihat manggut - manggut.
"pantas dia ingin ketemu dengan ibu Narita dulu baru tanda tangan"
Hai semuannya
masih sabar kan menunggu kelanjutannya
__ADS_1
like, coment dan vote
Terimakasih🙏