PENYESALAN SEORANG SUAMI

PENYESALAN SEORANG SUAMI
PART 53 TANTE MARLINA


__ADS_3

Dokter Eva sudah sangat yakin untuk menemui Tante Marlina, dia harus bicara dengan ibunya bari itu. Dia harus tahu cerita yang versi ibu Marlina juga.


Berkendara sekitar satu jam dokter Eva tiba di rumah Tante Marlina.


tok tok tok


'iya' terdengar sahutan dari dalam.


ceklek


"sia..." ucapan ibu Marlina menggantung ketika melihat ternyata yang datang dokter Eva.


"heiii ada dokter cantik nih, ayo nak Eva masuk" ujar Bu Marlina senang.


"iya Tante, Tante apa kabar"? sapa Eva ramah dan memeluk ibu Marlina.


"baik nak, ibu baik" ujar ibu Marlina


"ayo duduk dulu, duduk" ucapnya lagi sambil mengarahkan ke sofa ruangan itu.


"iya Tante"


Mereka akhirnya duduk di sofa ruangan itu untuk ngobrol banyak. Ibu Marlina terlihat sangat antusias menerima kedatangan Eva.


"tapi nak Eva, ngomong - ngomong, aku mimpi apa nih di kunjungi sama dokter cantik ini" tanya Bu Marlina terlihat antusias.


"ahhh Tante bisa aja, berlebihan itu Tan" ujar dokter Eva merendah.


"ngga lah, dokter Eva sudah cantik , dokter lagi, coba aja aku punya menantu kayak dokter Eva, mungkin hatiku sudah tenang tanpa beban" ujar ibu Marlina sangat semangat.


"ahhh Tante, tiap orang punya kelebihan sendiri Tan"


"iya sih, tapi kamu kelebihannya sangat banyak. Dasar bari aja yang bodoh, atau persisnya di bodoh - bodohin" ujar Bu Marlina lagi.

__ADS_1


"ahhhh Tante, kayaknya Tante sangat benci sama istrinya bari"? selidik Eva


Ibu Marlina terlihat berpikir sebentar, lalu dia mengatakan isi hatinya.


"sebenarnya bukan benci nak, tapi prilaku dia dan keluarganya yang bikin ibu muak dan sangat tidak suka" ujarnya lesu.


"perilaku, memangnya sifat mereka yang seperti apa Tan, yang Tante ngga suka"?


"mereka itu sangat mata duitan," ucapnya cepat.


Eva terlihat mengamati wajah Tante Marlina dengan seksama dan sepertinya ibu Marlina mengatakan itu sesuai hatinya, tidak sedang membohongi diri sendiri. Lalu dia menarik nafas panjang.


"saya sudah bertemu bari kemarin Tan, kita makan siang bareng dan banyak cerita juga tentang kehidupan kita masing - masing" cerita Eva.


"ohhhh iya, apa kamu sudah coba bujuk dia untuk menceraikan istrinya" tanya Bu Marlina antusias.


"justru itu Tan, gimana aku mau ngomong, aku lihat bari sangat memuja istrinya , dan aku sendiri belum kenal istrinya bahkan lihat fotonya aja belum pernah, gimana mau kasih pendapat sama bari Tan" ucap dokter Eva lagi.


Lalu dokter Eva menarik nafas panjang dan bertanya lagi sama ibu Marlina.


"Tante ngga tahu nak, Tante ngga tahu" ujarnya sedih karena anak dan suaminya seolah sengaja menyembunyikan keberadaan Narita dari dia.


"memangnya bari ngga kasih tahu orang tuannya tinggal dimana mereka sekarang"?


"ngga nak, makanya itu ibu makin kecewa sama istrinya. Dia seolah sengaja ngumpet dan menjauhkan bari dari kami dan bodohnya anakku mau aja lagi" ujar ibu Marlina sendu seolah - olah dia lah yang paling terzolimi dalam masalah ini.


"kok bari bisa begitu ya, sama orang tuannya sendiri. Padahal biar bagaimana pun orang tua kita yang sayang sama kita, yang menerima kita apa adanya dan selalu memaafkan kita, kalau pasangan kita mah baru kita kenal dan kadang itu yang paling menyakiti kita" ujarnya lagi.


"nah itu dia nak, semenjak sama istrinya bari itu sangat berubah. Ngga mau dengarin orang tua. bahkan kamu tahu ngga, ketika istrinya berbulan - bulan keluar dari rumah dan pergi entah kemana, bari tetap kirimin duit ke istrinya itu, gila ngga" ujar ibu Marlina barapi - api.


"maksudnya"


"ya bari tetap kirimin gajinya ke rekening istrinya itu, katanya biar dia jangan sampai kelaparan, dimanapun dia berada gila ngga"? ujar Bu marlina

__ADS_1


"segitunya bari sama istrinya Tan" Eva sampai melongo.


"nah kamu sendiri ngga percaya kan, itulah bari, terlalu baik sama istrinya" ucap ibu Marlina seolah - olah menunjukkan bahwa dia sangat benar.


"apa Tante ngga coba ngomong sama bari waktu itu" tanya dokter Eva


"ngga di dengar nak Eva sama bari, makanya sampe ibu pikir waktu itu , bari itu sudah di guna - guna oleh istrinya" tuturnya lagi.


"waduhhh ngga masuk akal juga sih Tan kalau bari yang sudah di tinggal istrinya malah mengirimin duitnya ke wanita itu, itu sih gila" ujar dokter Eva, karena jujur dokter Eva tidak tahu kejadian sebenarnya. Dia hanya mendengar cerita yang kadang memang klop dengan kejadian, padahal tidak sesuai dengan yang di alami orangnya sendiri. Seperti kata orang bijak kadang apa yang kita lihat belum tentu begitu yang sebenarnya terjadi, karena bisa jadi banyak hal yang mempengaruhinya.


Ibu Marlina bisa bilang bari gila, karena mengirim duit ke istrinya yang pergi meninggalkannya, tapi orang lain kan tidak tahu kenapa istrinya itu sampai pergi dan apa yang di alami istrinya sehingga bari khawatir jangan sampai dia kehabisan uang.


Waktu itu hanya bari dan papanya yang tahu bahwa Narita istrinya pergi karena ingin tenang menjalani kehamilannya tanpa campur tangan orang lain seperti mamanya bari.


Terus apakah tidak wajar jika bari khawatir sama calon anak dan istrinya , apalagi saat itu Narita istrinya tidak pada posisi punya penghasilan.


"tapi sih ponakan Tante kan pernah Tante suruh mengikuti bari, biar tahu mereka tinggal dimana? katanya mereka tinggal di kota B , di pinggiran kota' jelas ibu Marlina.


"terus bari kerja tiap hari dari sana gitu, bolak balik" tanya Eva lagi.


"ya iya nak, coba bayangkan pengorbanan bari itu, apa ngga terlalu dalam. Memperjuangkan apa coba, anaknya itu, iya kalau itu anaknya bari, kalau bukan berarti bari berjuang demi anak orang lain kan"? ujar Bu Marlina terus memprovokasi Eva.


"iya ya Tan" Eva setuju dengan ibu Marlina


"makanya ibu sangat tidak setuju mereka bersatu, mending pisah aja deh" ujarnya lagi.


"iya sih Tan, daripada bari punya beban seumur hidup, mending dia lepas sekarang, dia harus punya keberanian itu. berat memang, aku akui sangat berat, tapi kalau ngga begitu ya kita siap sengsara seumur hidup" ujarnya lagi.


"makanya itu nak Eva, bantu ibu cari solusinya gimana cara memisahkan mereka. harus dipisahkan pokoknya" ujarnya lagi.


"tapi kalau bari masih sangat sayang sama istrinya kita tidak bisa berbuat apa - apa Tan" ujar Eva menyerah.


"bisa nak Eva, pasti ada cara. karena aku ngga ingin mereka tetap bersatu, dan aku tidak akan bisa menerima istrinya lagi sampai kapan pun"

__ADS_1


Ibu Marlina terlihat sangat benci sama istrinya bari menantunya. Tapi mungkin dia lupa bahwa jodoh, maut dan rezeki ada di tangan Tuhan, bukan di tangan manusia sekalipun itu ibunya.


__ADS_2