
Sore harinya bari dan pak Rudi pulang dari kota B. Sudah agak malam memang mereka baru tiba di rumah.
Begitu sampai rumah, ibu Marlina sudah menunggu mereka dengan manisnya. Dia langsung bangkit berdiri dan berjalan menuju teras rumahnya begitu mendengar deru suara mobil bari memasuki pekarangan.
"pa, bar" ujarnya
"tumben mama di sini, biasanya dah nonton" tanya pak Rudi.
Sementara bari langsung masuk rumah dan langsung ke kamarnya dan masuk kamar mandi, setelah itu dia ingin istirahat.
"gimana pa, bagasnya, sudah sehat" tanya ibu Marlina ke suaminya.
Pak Rudi terlihat melirik ibu Marlina sejenak sambil menggulung lengan bajunya.
"untuk apa mama ingin tahu" ujar pak rudi
"yahhh kata papa kan dia sakit, apa masih sakit pa"? tanyanya lagi
"sudah sehat" jawab pak Rudi pendek sambil membawa tasnya masuk ke dalam kamarnya.
Sementara ibu Marlina semakin terpojok sekarang, bahkan dia juga merasa terasing dari anak dan suaminya. Mereka sama sekali sudah tidak percaya sama ibu Marlina, terutama mengenai Narita dan Bagas.
'Seandainya saja aku dulu tidak selalu menekan Narita, mungkin sekarang aku sudah bahagia bersama cucuku, tidak akan kesepian seperti sekarang ini' batin ibu Marlina masuk dan duduk di sofa ruang tengah.
'Tapi nasi sudah jadi bubur, apalah yang bisa aku lakukan. Tidak ada lagi gunannya penyesalan. Bahkan hidup anakku bari ternyata jauh lebih hancur setelah cerai dari Narita. Dan, apa kabar Eva? ternyata dia tidak sesabar Narita juga' gumam ibu Marlina sedih sampai ada butiran air matanya yang jatuh.
'Ternyata benar kata orang bijak, yang terbaik menurut kita belum tentu itu yang terbaik buat orang lain'
Sekarang ibu Marlina hanya bisa pasrah dan terima nasib. karena dia takut kalau dia ikut campur lagi tentang Narita dan Bagas, bari akan semakin marah padanya.
Dengan lemas ibu Marlina masuk ke dalam kamarnya dan langsung merebahkan dirinya di tempat tidur.
Keesokan paginya bari dan pak Rudi sudah bersiap berangkat ke kantor. Bari telepon Bagas dulu sebelum berangkat ke kantor.
Setelah semuannya beres Bagas dan pak Rudi berangkat bersama karena mobil pak Rudi kemarin di titip di kantornya.
Bari melajukan mobilnya perlahan sementara pak Rudi sedang telepon dengan cucunya lagi.
Setelah sampai kantor papanya, pak Rudi langsung turun dan bari melanjutkan perjalanannya ke kantornya. Sepanjang jalan hati bari sangat berbunga - bunga apalagi kalau terbayang wajah Bagas.
Dua hari sudah bari sama pak Rudi tidak ke kota B. Mereka pikir Narita sama Bagas masih lama di kota B, karena selama ini tidak ada yang berani bertanya kapan Narita pulang ke Jakarta. Dalam hati kecil mereka berharap Narita tetap di kota B aja.
Malam harinya sekitar pukul setengah sepuluh malam, Bagas telepon sama bari dan juga kakeknya dengan video call.
dddrrttt dddrrttt
__ADS_1
Karena pak Rudi mungkin cape seharian mengejar pekerjaannya, akhirnya pulang kerja dia langsung mandi makan dan langsung tepar tidur.
Ibu Marlina yang mendengar handphone suaminya berdering berniat melihatnya, dan betapa kagetnya dia ketika disana tertera nama Narita.
Ibu Marlina ragu, ingin angkat apa ngga usah ya. Tapi akhirnya ibu Marlina sudah bertekad dalam hati untuk berubah dan ingin minta maaf. Mungkin akan dia mulai dengan bersikap baik dulu kepada Narita. Karena kalau dia tiba - tiba minta maaf pun, pasti mereka belum akan langsung percaya. Jadi biarkanlah mengalir dulu.
Dengan gugup ibu Marlina menggeser layar handphone tersebut untuk menerima panggilan itu.
"hallo kakek" terdengar teriakan seorang bocah laki - laki yang berhasil membuat ibu marlina terpaku di tempatnya. Apalagi ketika dia melihat ke layar handphone itu terlihat jelas wajah seorang anak laki - laki yang sangat menggemaskan.
deg
cucuku
Airmata ibu Marlina langsung tidak bisa dia tahan, dia sudah tidak bisa bicara lagi. Semua ini sangat mengharukan buatnya.
'cucuku seganteng ini, sudah Segede ini' batinnya
"kekkk" teriak Bagas lagi membuyarkan lamunannya.
"kakek sudah tidur gas, ini nenek" ucap Bu Marlina sambil menangis.
Bagas terdiam, karena baik bari dan pak Rudi tidak pernah cerita tentang nenek ini. Jadi jelas aja Bagas bingung nenek siapa ini, kenapa bisa angkat telepon kakeknya.
"maaf nek salah sambung" ucap Bagas langsung menutup panggilannya.
"ah mendingan aku tanya papi deh" batin Bagas.
Dia langsung mencari kontak papanya Bagas di handphone maminya.
dddrrttt dddrrttt dddrrttt
"hallo bagas, kok belum tidur" tanya bari yang baru aja ingin tidur tapi malah dapat telepon dari anaknya.
"Pi, Bagas tadi video call kakek, tapi kok yang angkat nenek - nenek Pi" adu Bagas membuat bari sejenak kaget.
'apa lagi yang ingin dilakukan mamanya, kenapa angkat telepon papa' gumam bari
"kayaknya kakek sudah bobo nak, tadi katanya kakek cape banget" ujar bari
"ohhh terus nenek itu siapa Pi" tanya Bagas
"itu nenekmu nak, mamanya papi" tutur bari jujur.
"kok Bagas ngga pernah di beritahu Pi" tuntutnya
__ADS_1
Bari gelagapan menjawab pertanyaan anaknya, tapi menit berikutnya dia sudah bisa menjawab juga.
" pertemuan kita kan masih baru gas, jadi belum ada yang sempat papi dan kakek ceritakan nak. Tapi nanti semuannya Bagas pasti akan tahu kok" ujar bari bijak.
"ohhh begitu Pi" ucapnya akhirnya walaupun mungkin hatinya ngga puas.
"Bagas tadi telepon kakek niatnya mau bilang apa"? tanya bari mengalihkan perhatian Bagas dari neneknya.
"itu Pi, Bagas mau bilang kalau besok pagi Bagas akan pulang ke Jakarta" ucapnya ceria , tapi membuat bari kaget setengah mati.
'anaknya sudah mau pulang ke jakarta'
Sepertinya hati Bari belum siap untuk membiarkan anaknya pergi, tapi apa yang bisa dia lakukan. Sementara katanya besok pagi mereka sudah jalan.
"Bagas benaran besok pulang nak, kok mendadak" ujar bari
"iya Pi, besok pagi, sure" ujar Bagas mengangkat dua hari tangannya membentuk huruf v.
"Bagas sayang , mami mana, apa papi boleh ngomong"? tanya bari
"mami sama Wak Risma lagi beli oleh - oleh Pi, aku tadi di tinggal sebentar sama pak de dan dede" tutur Bagas.
"ya sudah nanti papi telepon lagi ya gas" ujarnya langsung turun dari tempat tidur menuju kamar papinya.
tok tok tok
ceklek
"ada apa bar" tanya ibu Marlina
"apa papa udah bobo ma"?
"sudah bar, ada apa"?
"aku mau bangunin papa dulu ma" ujar bari ingin masuk.
"biar mama aja yang bangunin bar, ada apa nak"? tanya ibu Marlina, karena dia yakin ada hubungannya dengan cucunya yang tadi telepon.
"iya ma, tolong bangunin" ucap bari mondar mandir di depan kamar orang tuannya, sementara mamanya masuk untuk membangunkan papanya.
Hallo semua
Dukung terus ya
like, coment dan vote
__ADS_1
Terimakasih🙏