
Walaupun sedikit ragu - ragu ibu Marlina tetap mendekati rumah barita dan Narita. Tapi hatinya juga saling bertentangan dan berandai - andai.
'Tunggu, kalau Narita bertanya ada apa datang ke sini, aku harus jawab apa ya' batinnya
'Bagaimana kalau Narita marah dan langsung mengusirnya' kata hatinya lagi.
'Atau kalau saya marahi bagaimana kalau Narita berteriak minta tolong ke tetangganya untuk mengusir saya'
Berbagai pikiran negatif sebenarnya ada di pikiran ibu Marlina. Tapi dia ngga mungkin mundur lagi, dia sudah melangkah jauh bahkan sudah sampai di kota ini.
Sementara Narita yang tadinya ingin bobo siang, entah kenapa hatinya sedikit gelisah dan tidak tenang. Seperti akan terjadi sesuatu. Dia tidak bisa tidur walau sejenak. Pikirannya sedikit kacau tapi dia ngga tahu penyebabnya.
Dan begitu dia dengar ada suara mobil berhenti dekat rumahnya, dia merasa mungkin itu suaminya sehingga ia bangun dari tidurannya dan berusaha untuk melihat ke depan. Tapi tidak semudah itu untuk bangun dan berjalan sendiri ke depan, Narita butuh perjuangan keras juga.
Sementara ibu may yang melihat Narita tadi sudah naik ke tempat tidur dan mengira Narita sudah tidur, menggunakan waktunya untuk membereskan kamar mandi. Sehingga dia tidak mendengar suara mobil yang berhenti dekat rumah mereka.
Dengan susah payah Narita turun dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya. Dia berjalan dengan sangat perlahan karena kehamilannya memang sudah tinggal menunggu hari untuk melahirkan.
Baru keluar dari kamarnya , Narita mendengar suara ketukan di pintu rumahnya.
"siapa ya, kalau kak Risma biasanya langsung manggil namanya, begitu juga suaminya pasti manggil sayang" ucap Narita untuk dirinya sendiri sambil berjalan.
tok tok tok
Dengan lambat seperti keong Narita akhirnya sampai di dekat pintu. Dan.. Betapa kagetnya dia melihat siapa yang berdiri di depan pintunya.
ceklekkk
Jedarrrrrrrr
Narita merasa seolah bumi berhenti berputar sejenak. Bayangan kebencian ibu mertuanya di masa lalu kembali berputar di pikiran Narita.
Otak kecilnya langsung teringat dengan ucapan ibu mertuannya dulu bahwa anaknya tidak akan lahir ke dunia, membuat Narita sangat shock dan ketakutan sampai dia histeris. Inilah yang dia takutkan selama ini, kalau ibu mertuannya mengetahui keberadaannya sementara dia lagi lemah dan anaknya belum lahir. Dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan anaknya.
Narita sangat kaget dan histeris melihat ibu mertuannya dengan tatapan galak ada di depannya saat ini. dan ini nyata...membuat Narita berteriak kencang...
"Bu mayyyyyyy..."
__ADS_1
dan akhirnya
Gubrakkkk
Narita jatuh kelantai tapi sebelum jatuh untungnya dia masih sempat teriak Bu may sehingga ibu may langsung keluar dari kamar mandi. Dan betapa kagetnya ibu may melihat Narita sudah jatuh di lantai dan darah sudah ada di daster yang dia gunakan. Dan makin lama darah itu makin banyak.
"Bu nari" teriak ibu may histeris
"apa yang ibu lakukan, siapa ibu"teriak ibu may bertanya sama wanita yang ada di depannya karena sama sekali dia tidak kenal.
untungnya ibu may selalu siaga dengan handphone di kantongnya.
dddrrttt dddrrttt
Tapi bari tidak mengangkat teleponnya sehingga dia langsung telepon kak Risma yang selama ini selalu menjaga narita juga.
Dan kak Risma selalu pesan hubungi dia kalau Narita ada masalah.
dddrrttt dddrrttt
"hallo Bu may" sapa kak Risma masih tenang di sebrang.
Sementara ibu Marlina yang juga kaget dengan kejadian ini, dan reaksi Narita yang di luar dugaannya merasa khawatir juga, bukan khawatir dengan Narita tapi khawatir dirinya pasti akan di salahkan. Saking bingungnya bukannya membantu Narita malah ingin pergi dari tempat itu. Karena dia yakin bari pasti akan menyalahkannya dalam masalah ini, padahal dia juga belum bicara apa - apa.
Tapi saat ibu Marlina setengah berlari menuju halaman ibu may masih sempat mengambil fotonya walaupun hanya belakangnya.
Padahal kalau ibu Marlina mau bisa aja Narita di bawa ke klinik dengan mobilnya, tapi ini tidak karena dia juga gugup dan ketakutan.
Ibu may meneriaki tetangga depan rumah bari untuk mengangkat majikannya. Dan tidak berapa lama mobil Risma sudah tiba di rumah bari. Risma masih sempat melihat ibu Marlina masuk ke mobilnya, dan mobil itu juga tidak langsung pergi. Tapi Risma sedang fokus ke Narita, jadi dia pikir itu mungkin tetangga sini.
Risma tidak tahu tentang ibu mertua Narita, karena dia tidak kenal. Dia hanya mengira kalau ibu Marlina itu tetangga rumah bari dan Narita.
Risma langsung masuk dan melihat narita. Dan tanpa pikir panjang minta tolong tetangga situ untuk membantu Narita membawa masuk mobilnya. Risma langsung membawanya ke klinik terdekat dulu, klinik Narita periksa kehamilan selama ini. Dan menurut dokter Narita harus segera di operasi untuk menyelamatkan keduannya karena dia sudah kehilangan banyak darah.
Risma berkali - kali telepon bari namun tidak ada jawaban karena bari sedang di ruangan bosnya dan handphonenya di tinggal di meja kerjanya.
Akhirnya Risma mengambil inisiatif sendiri untuk menandatangani semua urusan Narita di sana. Termasuk dia yang akan di rujuk ke rumah sakit.
__ADS_1
Ketika dokter memberikan pertolongan pertama dulu sama Narita, kak Risma bertanya sama Bu may.
"Bu, tadi gimana ceritanya Narita bisa jatuh, ibu habis ngepel" tanya kak Risma kepada ibu may yang sedang ketakutan.
"aku juga ngga tahu tadi Bu, tadinya ibu nari sudah tidur di kamar, lalu aku ingin beresin kamar mandi" cerita ibu may.
" Dan aku juga ngga tahu siapa ibu - ibu tadi, tapi sepertinya itu yang buat ibu Narita pingsan dan jatuh."
"ibu - ibu yang mana"?
"yang tadi ada mobilnya di depan, dan tadi sempat saya fotoin kok" ujar Bu may sambil menunjukkan handphonenya.
"apa urusannya sama Narita Bu, apa ibu may baru kali ini melihat wanita itu" tanya Risma seperti untuk dirinya sendiri tapi ditujukan ke ibu may.
"iya Bu, aku baru kali ini melihatnya"
"siapa ya Bu may dia, sampai bikin Narita shock" ujar kak Risma bingung.
"aku juga ngga tahu Bu, ibu Naritanya langsung teriak dan jatuh" ujar ibu may.
Saat mereka cerita telepon Risma kembali berdering , ternyata bari telepon balik.
dddrrttt dddrrttt dddrrttt
"hallo bar, kamu bisa pulang dulu ngga"?
"kenapa kak" tanya bari sudah gugup di sana
"kamu pulang dulu aja, nanti kita cerita ya bar, segera ya" ujar Risma langsung mematikan teleponnya biar jangan makin lama ceritanya.
Hai readersku yang setia
Dukung terus ya
like
coment
__ADS_1
vote
Terimakasih🙏