
Lamunan ibu Marlina buyar karena deringan handphonenya, ada notifikasi pesan masuk di handphonenya.
'papa' batin Bu Marlina
"ma, aku lagi keluar kota, mungkin pulang malam"
degg
'ahhhh papa lagi keluar kota, syukurlah, jadi nanti ngga banyak pertanyaan' batin ibu Marlina.
Dia sedikit merasa lega ketika tahu suaminya sedang keluar kota, padahal ibu Marlina tidak tahu kalau suaminya juga mau ke rumah bari dan Narita, atau minimal ke kota B. Tergantung nanti keadaan Narita, kalau dia tidak parah mungkin pak Rudi akan nginap di rumah bari atau pulang, tapi kalau keadaan Narita parah, pak Rudi akan menunggu di rumah sakit juga.
Bari terlihat sangat galau dan tidak fokus. Sementara pak Rudi mengusahakan untuk cepat sampai dengan selamat. Sekitar dua jam kemudian, mereka sudah tiba di kota B. Bari langsung telepon kak Risma.
dddrrttt dddrrttt dddrrttt
"hallo bar, kamu dimana"
"hallo kak Risma, gimana Narita"
"sekarang lagi di periksa dokter bar di rumah sakit umum"
"dimana sekarang"
"ini masih di IGD bar"
"di rumah sakit umum pa" ujar bari ke papanya masih di dengar oleh kak Risma.
"ya sudah, kita langsung ke sana" ucap pak Rudi yang memegang stir mobil.
"kak Risma, tolong jaga Narita, jangan sampai terjadi sesuatu kak, kami sedang menuju ke sana"
"ya sudah bar, hati - hati" ucap Risma
Sambungan telepon itupun terputus, Risma kembali duduk menunggu Narita di periksa.
"gimana tadi sampai bisa begini ibunya" tanya dokter kepada ibu may sambil memeriksa Narita.
"aku juga ngga lihat pasti Bu jatuhnya, aku hanya mendengar ibu nari teriak memanggil namaku dan saat aku datang ibu nari sudah tergeletak di lantai." ujar ibu may menangis.
Dia sudah sangat ketakutan sekarang karena ibu Narita jatuh. Sudah pasti pak bari akan menyalahkan ibu may, karena berulang- ulang pak bari selalu mengingatkan ibu Narita yang utama, kerjaan nomor sekian.
Apa nantinya yang akan di ucapkan pak bari, sudah pasti akan sangat marah. Dan ibu may juga sudah siap kalau dia akan di pecat, tapi rasa bersalahnya tidak bisa menjaga ibu Narita membuatnya sangat tidak tenang.
__ADS_1
"sus, tolong suruh keluarganya ke ruangan saya" perintah dokter wanita itu
"suaminya belum datang dokter, sedang otw karena kerja di kota. Dia kesini hanya bersama ibu ini dan kakaknya itu" tutur suster itu.
"ibu siapanya pasien" tanya dokter ke ibu may
"saya hanya pembantu di rumahnya, yang disuruh mengawasi ibu Narita Bu" jawabnya terbata - bata.
"ohhh kalau begitu panggil kakaknya" perintah dokter itu ke perawatnya.
"baik dok"
Perawat itu akhirnya menyuruh Risma untuk masuk ke ruangan dokter.
"selamat sore ibu, ibu kakanya ibu Narita? silahkan ibu masuk keruangan dokter, karena dokter ingin bicara" ucap perawat itu sopan.
"baik sus" Risma langsung berdiri dan menuju ruangan dokter yang telah di bilang perawat tadi.
Risma sudah deg - degan menunggu pemberitahuan dokter itu. Sampai - sampai dia tidak membalas lagi senyuman dokter wanita itu.
"silahkan duduk dulu ibu" ucap dokternya ramah
Risma langsung duduk berhadapan dengan dokter itu dengan tatapan tanpa kedip dan tidak beralih sedikitpun dari wajah sang dokter.
"dengan ibu siapa ini" tanya sang dokter sopan
"Risma, kakaknya Narita" ucap risma.
"Begini ya Bu Risma, ibu Narita ini sedikit terlambat dibawa kesini, karena kehamilannya sudah besar dan tadi ada pergerakan bayi tidak normal karena ibu Naritanya sempat jatuh, sehingga ada kerusakan pada dinding rahimnya dan sepertinya mengganggu tali plasentanya" tutur dokter itu sangat jelas.
"terus," tanya Risma ngga sabaran. "apa yang bisa kita lakukan dokter" tanya Risma makin panik.
"suami pasien dimana Bu"?
"sedang menuju ke sini dokter, apa ada yang harus di tanda tangan, saya juga bisa dokter, suaminya sudah setuju" ujar Risma ngga sabar. Dia hanya ingin Narita di tangani secepatnya. Biar bagaimana pun Risma juga sangat tahu tentang Narita selama ini.
"baik Bu, kalau begitu saya jelaskan ke ib..."
Belum selesai dokter jelaskan seorang perawat masuk tiba- tiba.
"dokter ada suami pasien di luar baru datang" ucapnya buru - buru.
"suruh masuk" ucap sang dokter
__ADS_1
"baik dok" perawat itu langsung mundur dan menyuruh bari masuk bersama papanya.
"bar, kamu sudah sampai" Risma langsung berdiri dan mundur untuk membiarkan bari yang duduk mendengar penjelasan dokter.
"duduk bar, dokter mau bicara" ucap Risma sambil menyalami papanya bari.
Bari langsung duduk di depan dokter dengan wajah yang sangat khawatir.
"dokter gimana istri saya" tanya bari bergetar
"maaf pak, tadi saya sudah jelaskan ke ibu Risma tentang kondisi ibu nari, memang sedikit terlambat , tapi mungkin karena jarak dan keadaan. Kami akan mengusahakan yang terbaik pak, doakan saja keduanya selamat, ibu dan bayinya" ujar sang dokter.
"tolong dokter, tolong anak dan istri saya" mohon bari
"sus, tolong bawa kesini berkasnya" ucap sang dokter ke perawat di ruangan itu . Dengan sigap seorang perawat membawa satu map yang berisi berkas yang harus di tanda tangani untuk tindakan operasi.
"baik pak bari kita akan tangani ibu narita, tolong bapak tanda tangani berkas - berkas ini supaya operasi bisa langsung di laksanakan." ucap sang dokter sambil membuka berkas di map itu.
Tanpa pikir panjang, bari pun menandatangani berkas itu satu persatu. Wajahnya sudah sangat khawatir. Mungkin kalau dia wanita, dia sudah menangis dengan kencang.
Setelah berkas itu ditandatangani, bari langsung menyerahkan ya kembali.
"Baik pak, kami akan melakukan operasinya sekarang" ujar sang dokter langsung berdiri dan memanggil teamnya untuk menuju ruang tindakan. Karena dia juga pastinya bekerjasama dengan dokter anestesi.
Bari , Risma dan papanya bari hanya bisa termangu dan baru sadar ketika seorang perawat menyuruh mereka untuk menunggu di luar saja, dekat ruang operasi.
Mereka bertiga berjalan keluar dari ruangan itu menuju ruang operasi. Tapi ketika baru tiba di luar bari melihat ibu may yang juga terlihat sangat khawatir, bahkan mungkin cenderung takut.
"maaf pak bari, saya lalai menjaga ibu nari" ucap ibu may sambil bersimpuh di kaki bari.
Bari yang memang sangat menyesalkan kejadian ini menyuruh ibu may untuk berdiri.
"bangun Bu may, bangun, dan sekarang katakan bagaimana ini terjadi" tanya bari penuh tekanan. jujur untuk hal ini bari memang sangat kecewa dengan ibu may. Berulang kali, bahkan setiap saat kalau bicara bari selalu bilang utamakan menjaga istrinya, tapi ini apa, istrinya sampai celaka.
Perlahan ibu may bangun berdiri sambil menunduk di hadapan bari. Wajahnya sudah sembab dan hatinya penuh ketakutan di tambah usiannya yang mulai senja membuat ibu may terlihat sampai gemetaran.
Hai readers, maaf ya telat up.
kemarin keluarga kita sedang berduka
jadi maaf banget
dukung terus ya like, coment dan vote sebanyak - banyaknya.
__ADS_1
Terimakasih🙏