PENYESALAN SEORANG SUAMI

PENYESALAN SEORANG SUAMI
PART 106 RENCANA


__ADS_3

Akhirnya bari dan pak Rudi sepakat pagi ini ke kantor dulu untuk beresin kerjaan masing - masing. Barulah nanti siang mereka berangkat ke kota B naik mobil yang sama. Entah siapa yang nyamperin siapa yang pasti ke kota B mereka hanya bawa satu mobil.


Bari terlihat buru - buru masuk ruang kerjanya untuk mengerjakan semua pekerjaannya. Sejujurnya kalau mengenai pekerjaan bari tidak pernah mengeluh sesusah apa pun itu. Intinya bari tidak pernah di buat sampai pusing banget oleh kerjaannya karena dia memang pintar.


Tanpa terasa karena sibuk bekerja ternyata hari sudah siang. Bari segera pamit ke bosnya untuk pergi ke kota B. Untunglah bosnya bari adalah bos yang tidak kaku, yang penting kerjaan bari bagus dan beres, dia tidak menuntut bari stay di kantor setiap waktu.


Bari langsung menuju kantor papanya. Dan setelah berunding ternyata mereka naik mobil bari aja, dan mobil pak Rudi di tinggal di kantor dulu.


Setelah perjalanan dua jam mereka tiba di kota B. mereka langsung menuju rumah Risma.


Ternyata Bagas sudah tidak demam lagi. Dia sudah bisa bermain dan juga main game di depan televisi.


Sementara Risma dan Narita sedang bersantai ria sambil ngemil dan minum jus di teras rumah Risma yang lebar dan sejuk. Sementara suami Risma sedang kerja dan baru pulang sore hari.


Tin tin tin


Mereka semua langsung menoleh ke luar pagar. Tampak sebuah mobil ingin masuk, dan terlihat bari turun untuk membuka pintu pagar rumah Risma.


"nar, mantanmu noh" ujar Risma sambil membenarkan posisi duduknya yang tadi sangat santai.


"oh iya kak, ternyata mereka datang lagi" ujar Narita.


"ya datanglah nar, ada anaknya di sini"? ucap Risma serius.


Narita langsung bangkit berdiri menyambut mereka. Dia tetap mencium tangan mantan mertuannya yang sudah dia anggap bapaknya sendiri.


"kirain papa sore baru ke sini sepulang kantor" ujar Narita kepada mantan mertuannya.


"papa sudah tidak sabar ketemu cucu papa nar" jawab pak rudi sambil celingukan.


"mana cucu saya" tanya pak Rudi


"sudah baikan kok pa, ada di dalam" ujar Narita sambil berlalu memanggil Bagas.


"nak Risma dan keluarga sehat"? tanya pak Rudi sambil menyalami Risma yang sudah susah bergerak, karena kehamilan gedenya.


"sehat om, tapi ya ini pergerakannya sudah terbatas om" ujar Risma sambil senyum


"ngga apa - apa nak, semua orang juga begitu kalau lagi hamil" ujar pak Rudi lagi.

__ADS_1


"kakek" terdengar teriakan bocah dari dalam rumah. Ternyata Bagas sedang berlari ke arah kakeknya setelah mendengar maminya bilang kakek Rudi datang.


"ehhhh cucu kakek" pak Rudi langsung berdiri dengan antusias mendengar panggilan cucunya.


Begitu juga bari langsung berlari menyambut Bagas.


"katanya tadi pagi panas, apa sekarang sudah sembuh" tanya bari yang sudah jongkok biar sejajar dengan anaknya.


"hehehe sudah Pi, mami kan hebat. Kalau Bagas panas langsung kasih obat Bodr.xin" ujar Bagas antusias.


"syukurlah nak" ucap bari mencium pipi anaknya lalu melepaskan Bagas ketemu pak Rudi.


"Bagas itu kalau kurang minum badannya pasti hangat" tutur Narita yang ternyata menyusul Bagas dari tadi di belakangnya.


"berarti lain kali jangan sampai kurang minum ya gas" ujar pak Rudi yang sedang memeluk cucunya dan mengusap kepalanya.


"asiap kek" jawab Bagas membuat mereka semua ketawa.


"ayo masuk dulu pak, duduk dulu" ajak Risma yang baru bangkit berdiri.


"iya nak, suamimu lagi kerja, disini aja lebih sejuk"


"nar, papa sama bari tadi bawa buah, ada di mobil, ambilin bar" ujar pak Rudi kepada anaknya.


"iya pa" bari langsung bangkit dan kembali ke mobilnya. Sementara pak Rudi dan Bagas langsung bercengkrama sambil ketawa. Bagas bisa dengan cepat berinteraksi dengan pak Rudi sebagai cucu, padahal mereka baru beberapa hari bertemu.


Bari langsung membawa buah itu dan memberikannya ke Narita.


"ini nar" ujar bari saat berhadapan langsung dengan Narita.


"taruh di dalam aja bang" ucap Narita sambil berjalan masuk.


"apaan itu bar, banyak banget"? tanya Risma yang baru mau keluar lagi menemui bari dan pak Rudi.


"tadi cuma bisa bawa ini kak, karena langsung dari kantor ke sini" ujarnya


"ya ampun repot - repot bar" ujar kak Risma senyum. Bersamaan dengan itu art Risma keluar membawa kopi untuk pak Rudi dan bari.


"taruh diluar aja mba, om rudinya di luar sama Bagas" perintah Risma

__ADS_1


Art nya itu langsung membawa kopinya ke teras sementara Narita masuk dulu ke kamarnya, ternyata Bagas harus minum obat lagi biar tuntas. Dia memanglah ibu yang telaten.


"Bar, " ucap kak Risma pelan sambil mereka berjalan ke teras.


"ya kak ris"


"apa rencanamu dengan Bagas"


"maksud kakak"


"maksud kakak, apa kamu ngga ingin ikut membesarkan Bagas"


"Untuk sekarang, saya baru bisa bantu dia dengan finansial kak, karena status aku dengan Narita. Tapi aku sudah bertekad, aku akan mendapatkan Narita kembali, dan kami harus bersama karena kami saling mencintai. Apalagi sudah ada Bagas sebagai buah cinta kami" tutur bari yakin dan mantap.


"bar, bukanya kakak tidak setuju kamu berusaha mendapatkan Narita. dan bukannya kakak tidak yakin kamu akan mendapatkannya kembali karena memang kalian masih saling mencintai. Tapi apa jaminan dari dirimu sendiri bar, kalau Narita dan Bagas itu tidak akan sengsara lagi nantinya. Maksud ku secara materi kamu pasti sanggup, tapi gimana kebahagiaan mereka"? tanya kak Risma serius.


"kali ini saya sudah bertekad kak, saya dan Narita harus bahagia. Kalau perlu kami akan hidup jauh dari semuannya. Kami mulai hidup baru di sana, dan saya akan mencari cabang mana yang akan bisa membuat kami jauh dari semuanya, jadi hanya keluarga kecilku saja" ujar bari mantap.


Tanpa mereka sadari dari tadi Narita mendengar pembicaraan kak Risma dengan bang bari. Sejujurnya dia terharu dengan tekad bari, dan dia juga sangat yakin kok dengan cinta bari. Tapi mau gimana lagi, kadang kenyataan di lapangan susah di ceritakan. Apalagi ibu Marlina sering memakai cara licik untuk menyingkirkan Narita membuat Narita yang polos ngga bisa berkutik.


"terus bagaimana jika Narita menolak" tanya Risma


Terlihat bari menarik nafas panjang lalu melanjutkan ucapannya.


"tidak apa - apa akan saya tunggu sampai dia menerima saya. bahkan sampai tua pun akan saya tunggu kak, karena aku juga tahu kok bahwa Narita juga sangat cinta sama saya" ujar bari percaya diri.


"maaf bar, kakak tadi hanya berandai - andai, tapi semuannya keputusan ada di tangan Narita. Kita juga yakin Narita akan berpikir dulu sebelum mengambil keputusan, karena dia orang yang telaten. Dia hanya sering dimanfaatin orang karena kebaikannya." ujar kak Risma lagi.


Itu memang kenyataannya, kebaikan Narita itu sering di manfaatkan oleh ibu Marlina untuk menekannya.


Sementara Narita di balik dinding sudah meneteskan air mata mendengar semua ucapan bari. Tidak bisa di pungkiri memang kalau cinta mereka sangat kuat.


Hallo guys


Masih setiakan di sana


Tetap ya, author minta


like, coment dan vote

__ADS_1


Terimakasih 🙏


__ADS_2