
Malam itu juga bari dan pak Rudi langsung melaju ke kota B dengan mobil pak Rudi, karena bentuknya lebih lebar dari mobil bari.
Karena besok harus ke bandara, mungkin Narita dan Bagas butuh space yang agak lebar.
Hampir jam dua subuh mereka tiba didepan rumah kak Risma. Mereka ragu untuk mengetuk pintunya, takut mengganggu yang tidur. Tapi ternyata Narita ngga bisa tidur juga. Begitu dengar suara mobil dia malah ngintip keluar dan betapa kagetnya dia melihat mantan suaminya dan pak Rudi baru turun dari mobil itu.
ceklek
Lampu rumah jadi terang benderang. Lalu Narita membuka pintu depan dan mempersilahkan mereka masuk. Ketika mereka masuk ternyata Risma juga kebangun,maklum wanita hamil besar, tidurnya kurang pulas.
"kok bang bari sama papa bisa ke sini segala sekarang"? tanya Narita, karena tadi sudah sepakat ketemu di kota S besok, karena mau ke bandara mereka tetap harus lewat kota S tempat tinggal bari.
"aku ngga tenang kalian mau pulang" ujar bari
"iya nar, bapak juga takut ngga bisa ketemu Bagas lagi" ujar pak Rudi.
"kan sudah bilang besok ketemu di kota S pa, nanti aku hubungi" ujar Narita.
"aku ngga sabar" ucap bari
"ayo duduk dulu, saya buatin teh" ujar Narita yang melihat Risma juga baru bangun.
"kak Risma mau di buatin susu"?
"ngga nar, teh aja juga say" ujar kak Risma
"om Rudi sama bari jadi cape banget nih, Narita sih ngga mikir panjang om, cuma mikirin duitnya, tiket lagi promo langsung ambil" tutur Risma sambil duduk di sofa rumahnya.
"padahal aku juga masih kangen dia, masih pengen cerita lebih lama" lanjut kak risma
"iya nak, om pikir mereka masih lama di sini" ujar pak Rudi juga
Tidak berapa lama Narita datang bersama kopinya dan tehnya.
__ADS_1
"Nar sudah mau jam tiga lho, mending kamu siap - siap aja. perjalanan dua jam lho ke bandara" ujar Risma
"iya ya kak. Maaf ya pa, bang bari aku harus siap - siap dulu" ujar Narita yang sebenarnya tinggal ganti baju aja. Dia berencana tidak usah mandi karena masih sangat dingin, maklumlah ini bukan Jakarta.
Narita langsung masuk dan membangunkan Bagas. Narita langsung mengganti baju Bagas dan memberikan tas ranselnya sendiri.
Sementara di luar ternyata Risma, suaminya yang baru bangun dan juga pak Rudi dan bari sudah sepakat, bahwa yang mengantar Narita dan Bagas ke bandara adalah pak Rudi dan bari.
Mereka semua sudah berdiri di luar ketika Bagas muncul dengan jaket dan ranselnya, sementara Narita menarik satu koper dan satu tas lumayan besarnya.
Bari langsung meraih ransel dan tas itu untuk di taruh di bagasi mobil.
Dan setelah melewati banyak drama menangis dan drama pelukan serta doa, dengan keluarga Risma, akhirnya Narita dan Bagas sudah ada dalam mobil pak Rudi. Perlahan mobil itu meninggalkan halaman rumah kak Risma.
Satu jam lebih perjalanan mereka sudah tiba di kota S. Tepat saat itu juga ibu Marlina terjaga, dia merasa seolah - olah ada sesuatu, tapi dia bingung apa yang dia rasakan.
' Mungkin karena cucuku akan pergi jauh' batinnya
"nar, mulai sekarang izinkan aku untuk membiayai Bagas ya. Ini ada uang cash dari mama, katanya untuk cucunya, terserah kamu mau terima atau tidak, tapi menurutku ini hanya benda mati tidak ada salahnya kamu buat untuk keperluan Bagas. Mama tidak akan tahu dimana kamu kok, jadi dia tidak akan bisa mengusik kamu." ujar bari mumpung yang nyetir pak Rudi dan Bagas duduk dekat supir.
"Lalu ini udah aku kirim ke rekeningmu, terserah kamu buat apa, karena aku juga ngga perlu duit itu. Selama ini juga aku ngga pernah perduli duit, tapi sekarang aku sadar ternyata ada Bagas yang perlu ini kelak untuk mencapai cita - citanya" ujar bari termasuk berani bicara sama Narita, karena selama ini dia lebih banyak diam.
"Terus tolong jangan tutup acces aku bicara sama Bagas, hanya bagaslah hidupku sekarang" ujar bari lagi sambil mencoba menatap Narita.
Narita bingung harus jawab apa, dia tidak tahu harus ngomong apa. Jumlah uang yang di berikan ini sangat banyak, belum lagi yang di transfer sama bari barusan. Lalu mau dia apakan duit ini?
"bang bari, bukan aku menolak rezeki Bagas, tapi uang ini sudah sangat banyak, jadi tidak usah transfer lagi. Bahkan untuk bertahun - tahun uang sekolah Bagas ini sudah cukup" ujar Narita polos, karena dia memang bukan wanita yang mata duitan.
"apa kamu keberatan nar" tanya pak Rudi dari balik kemudi, karena semua pembicaraan mereka dari tadi juga dia dengar.
"bukan keberatan pa, tapi memang ini sangat banyak" ujar Narita.
"kalau kamu belum butuh sekarang, mungkin nanti nar, ketika Bagas lulus sekolah dasar, tabung aja dulu" ujar pak Rudi membuat Narita tidak bisa mencari alasan lagi.
__ADS_1
Akhirnya mereka semua terdiam hingga sampai di bandara. Ingin rasanya pak Rudi membawa balik cucunya ke rumahnya, tapi dia tahu itu bukan solusi yang baik, biarlah cucunya bertumbuh baik bersama maminya , pak Rudi percaya Narita ibu yang baik buat anaknya.
Sampai di bandara juga tidak banyak drama lagi, apalagi mereka harus segera boarding pass.
Bari langsung memeluk anaknya dan berbicara serius dengan anaknya.
"Bagas, jangan nakal ya nak, turuti kata - kata mami, rajin telepon papi, karena papi pasti akan sangat kangen sama kamu" ujar bari dengan tangis yang tak bisa dia tahan. Bohong kalau bari tidak sedih walaupun mereka sudah bisa berhubungan. Anak yang baru beberapa Minggu dia tahu, harus segera berpisah lagi
"papi ngga ikut kita ke Jakarta" tanya Bagas lagi membuat hati bari makin teriris perih.
Kalau saja dia tidak menandatangani surat perpisahan dengan Narita itu, bari akan Ngotot untuk menahan mereka di sini, tapi sekarang atas dasar apa dia menahan Narita? tidak ada. Tapi bari sudah bertekad dalam hati , sudah waktunya dia bahagia, sudah waktunya dia membahagiakan keluarganya.
"Bagas sayang, nanti papi nyusul ya, soalnya kemarin kerjaan papi belum beres. Jadi papi beresin dulu, oke" ujar bari berusaha tegar di tengah galaunya.
Setelah itu pak Rudi peluk Bagas dengan banyak pesan juga. Barulah bari mendekat ke Narita dan meminta maaf.
"nar, aku tahu aku salah, aku bukan laki - laki yang dewasa dan tegas. Aku ngga bisa menjaga kalian ketika menjadi bagian penting dalam hidupku. maafkan aku nar, aku akan menjalani penyesalanku sebagai suami yang gagal. Tapi yang paling penting sekarang tolong maafkan aku, jangan marah lagi sama aku" ujar bari sambil menangis dan jongkok di depan Narita membuat Narita juga tidak kuat melihatnya. Jujur rasa cinta itu masih ada, apalagi Narita tahu bari tidak salah total, semua pengaruh mertuannya yang terlalu di sayang dulunya oleh bari.
"sudahlah bang, jangan begini, jangan menoleh ke belakang, kita jalani saja yang sekarang" ujar Narita sudah meneteskan air mata juga.
Setelah drama pelukan itu, akhirnya Bagas dan Narita melangkah memasuki bandara untuk boarding pass, karena pesawat mereka akan segera terbang.
Pak Rudi menepuk pundak anaknya yang menangis ketika pesawat itu terbang membawa Narita dan Bagas. Hatinya tak bisa dia gambarkan lagi, hancur dan hancur.
"sudahlah, pikirkan aja hari esoknya" ujar pak Rudi lebih tegar.
Hallo semuanya
dukung terus ya
like, coment dan vote
Terimakasih🙏
__ADS_1