
Pak Rudi langsung memutuskan sambungan telepon itu dengan istrinya.
Emosinya sudah sampai di ubun - ubun sampai dia bingung mau ngomong apa sama istrinya di telepon itu.
'sepertinya aku harus segera menemui mama dan bicara serius sama istrinya itu' batin pak Rudi.
"Bari dan nak Risma, sekarangkan narita sudah sadar, tinggal menunggu pemulihannya aja, semoga dia cepat pulih ya. Tapi papa niatnya ingin pulang dulu sekarang bar, papa sekalian beresin kerjaan papa yang nanggung kemarin. Nanti papa akan balik lagi kesini, gimana nak"? tanya pak Rudi lembut.
Jujur dia sebenarnya ingin menemani anaknya melewati hari - hari tersulit dalam hidupnya ini, tapi kalau istrinya di biarkan, itu nantinya bisa aja tetap akan membuat bari dan Narita menderita.
Pak Rudi harus memperingatkan istrinya itu dengan keras, kalau perlu dengan ancaman, dan itu ingin dia lakukan dengan perjanjian tertulis supaya istrinya itu tidak bisa berkutik lagi.
"iya pa, pulang aja dulu, papa juga perlu istirahat, dari kemarin sudah gada istirahat" ujar bari
"itu ngga masalah buat papa nak kalau hanya capek fisik, papa lebih cape dan sedih melihat kamu terpuruk" ucap pak Rudi mengusap lengan anaknya yang terlihat sangat terpukul.
"jadi tolong kamu juga istirahat ya kalau nak nari lagi tidur, pergunakan waktumu ya nak, jangan banyak pikiran dulu, sekarang fokus dulu kesembuhan Narita" ucapnya selalu lembut kepada bari.
"iya pa" bari mengiyakan sambil mengangguk.
"nak Risma, aku tahu nak Risma cukup kecewa dengan semua kejadian yang ada, tapi yakinlah nak, kalaupun itu semua berhubungan dengan mamanya bari, itu semua hanya ulah dia sendiri, saya dan bari sebenarnya tidak terlibat, hanya saja biar bagaimanapun dia tetap mamanya bari" ujar pak Rudi bijak.
Risma hanya diam, bingung mau menanggapi gimana. Tapi itu juga semua benar, dia sangat kecewa sama bari dan keluarganya.
"nak Risma, apapun nanti yang Narita lakukan sama mamanya bari, om tidak akan melarang, tapi untuk sekarang kita harus fokus dulu ke pemulihan Narita " ujarnya lagi.
"iya om" Risma akhirnya bisa sependapat dengan pak Rudi.
Akhirnya pak Rudi keluar dari rumah sakit meninggalkan Risma dan bari yang menjaga Narita.
Pak Rudi ingin bicara serius dengan istrinya itu. Sepertinya selama ini memang pak Rudi sudah terlalu lembek sama istrinya itu dan sepertinya sekarang istrinya itu harus di beri pelajaran.
Begitu dia mulai jalan dari kota B menuju kota, dia sudah kirim chat dulu ke istrinya supaya tidak ada alasan tidak di rumah nantinya.
__ADS_1
'pulang ke rumah sekarang' itulah chat pak Rudi ke istrinya.
Pak Rudi menyetir sudah diliputi kekesalan, yang biasanya membutuhkan waktu 2 jam dia tempuh hanya satu setengah jam. Begitu sampai rumahnya, terlihat mobil mereka sudah ada di garasi rumahnya, itu berarti istrinya sudah di rumah.
Tanpa mengetuk pintu maupun memberi salam, pak Rudi langsung masuk rumahnya. Dan begitu dia masuk, dia lihat istrinya sedang ada di dapur, entah lagi masak apa, pak Rudi sudah tidak perduli. Yang ada di otaknya sekarang adalah gara - gara istrinya ini cucunya meninggal.
"mama" teriak pak Rudi sengaja, supaya istrinya itu langsung dengar.
Ibu Marlina yang jarang mendengar suaminya marah sangat kaget mendengarnya.
'ini pasti serius' batin Bu Marlina
"Napa sih pa" pura - pura bertanya balik dengan suara tinggi untuk menutupi egonya.
Dia melihat suaminya sudah duduk di sofa depan tv dengan wajah yang sangat kusut dan kurang bersahabat. Tanpa berani bertanya lagi ibu Marlina langsung duduk di sebrang suaminya itu.
"darimana kamu kemarin"? pertanyaan pertama pak Rudi tanpa memandang istrinya, dia hanya bersandar di sofa dan sedikit menunduk menatap ke meja sofa itu. Dia terlalu enggan menatap istrinya.
"maksud papa" ibu Marlina sudah takut, tapi dia pura - pura bingung.
Ibu Marlina sudah sangat ketakutan setengah mati, dia tahu memang suaminya itu penyabar tapi bukan berarti juga tidak bisa marah, bahkan kalau dia marah dia sudah tidak perduli semuannya.
"kemarin...kemarin...aku..." ibu Marlina menjawab sudah terbata - bata membuat suara pak Rudi mulai meninggi.
"jangan bertele - tele" bentaknya sambil melotot ke arah Bu Marlina. Itu jelas membuat Bu Marlina ketakutan, bahkan belum pernah suaminya setinggi itu membentaknya dan sambil melotot lagi.
Airmata ibu Marlina sudah menggenang di matanya, entah kenapa bentakan suaminya membuat dia sedih dan takut sekarang. Tapi itu tidak mempan, sepertinya pak Rudi sudah sampai di puncak kemarahannya.
"jangan menangis, untuk apa airmatamu, gunakan untuk hal yang benar" ujar pak Rudi pelan tapi penuh tekanan, karena dia tahu istrinya itu hanya mencari simpati suaminya yang sudah sangat marah.
Ibu Marlina bukannya diam malah semakin terisak.
"diammmm" teriak pak Rudi sangat kencang dan tiba - tiba berdiri dari duduknya, bahkan mungkin tetangga mereka juga dengar, membuat ibu Marlina langsung terdiam karena lagi - lagi kaget dan takut dengan teriakan suaminya. nyalinya jatuh ke dasar yang paling dalam.
__ADS_1
Ibu Marlina masih terdiam menunduk, tapi dia yakin suaminya sedang melotot padanya.
"Bahkan cucumu meninggal kamu tidak meneteskan air mata setetes pun, lalu apa yang kamu tangis sekarang"? tanya pak Rudi masih suara tinggi sambil geleng - geleng kepala.
Ibu Marlina sebenarnya tidak kaget dengan berita tentang cucunya itu, karena dia lihat kemarin gimana Narita jatuh dan banyak darah serta seberapa lama baru ditolong, sedikit tidaknya dia pasti tahu resikonya.
Tapi mendengar langsung cucunya meninggal, dia juga bingung harus gimana, tapi mengingat Narita lagi dia bukannya empati malah semakin benci.
"sekarang apa rencanamu" tanya pak Rudi lagi lebih pelan tapi tetap dengan penekanan.
Ibu Marlina masih diam, tapi dia tidak berani terisak lagi.
Melihat istrinya betah dengan diamnya, pak Rudi kembali tersulut emosi.
"katakan apa rencanamu" bentak pak Rudi lagi.
Pak Rudi menatap istrinya tajam membuat nyali ibu Marlina sangat ciut. Kalau sudah begini suaminya benar - benar marah, kalau kita tidak jawab bisa aja dia makin emosi.
"Rencana apa"? tanya ibu Marlina takut - takut dan hanya berani menunduk.
"sampai kapan kamu pura - pura, sampai kapan? dan sampai kapan kamu bisa menerima Narita" ujar pak Rudi lagi.
Ibu Marlina kembali terdiam, dia bingung untuk menjawabnya, karena jujur sampai sekarang dia belum tahu cerita sebenarnya apa yang terjadi dengan Narita setelah di bawa ke rumah sakit selain bahwa cucunya sudah meninggal.
"lebih baik kamu katakan apa rencanamu selanjutnya" ujar pak Rudi melemah frustrasi.
Hatinya kembali teriris mengingat kehancuran hati barita anaknya.
Halo semua
Tetap jangan bosan ya
Like, coment dan vote
__ADS_1
Terimakasih 🙏