PENYESALAN SEORANG SUAMI

PENYESALAN SEORANG SUAMI
PART 127 SALING MENDOAKAN


__ADS_3

Akhirnya bari mengantar pak Rudi ke bandara bersama Bagas. Sementara Narita memilih di rumah bersama para artnya. Karena kalau ikut ke bandara Narita takut nanti mual lagi, apalagi udaranya masih sangat dingin.


"pa, tolong bilang sama mama, terimakasih sudah menerima Bagas dan semoga mama juga bisa menerima Narita nantinya. karena Narita dan Bagas itu satu pa, mereka tidak akan bisa di pisahkan" tutur barita sambil menyetir saat perjalanan ke bandara.


"iya bar, semoga mama segera bisa menerima Narita seutuhnya, dan memang harus menerima. karena kalau dia ngga terima dia harus siap kehilangan kamu juga Bagas. sekarang kalian bertiga adalah satu kesatuan yang utuh, kalau ada satu yang tidak di sukai berarti sudah timpang. hasilnya pasti ngga bagus" ujar pak Rudi


"iya pa, saya tidak mau lagi kehilangan mereka, tidak akan mau" ujar bari yakin


"iya bar, kamu harus berjuang untuk itu. jangan sampai kamu kehilangan mereka lagi, hidupmu akan mandek lagi" ujar pak Rudi yang sudah merasakan bagaimana dulu hidup anaknya seperti sempat tersendat gara - gara urusan bari dengan Narita yang meninggalkan bari.


"iya pa"


Bari sudah sangat menyesal telah membuat istrinya melahirkan anak mereka bagas dalam kesendirian dan penuh kekurangan. Bari akan menebus semua itu, karena di atas semua itu bari masih sangat mencintai Narita.


"tolong jaga istrimu, apalagi dia sedang hamil. wanita hamil itu sangat sensitif walaupun aku lihat nak Narita itu bukan wanita seperti itu." tutur pak Rudi


"iya pa, Narita tetap aja berusaha mandiri, padahal kemarin itu aku lihat dia sudah benar - benar lemas karena muntah terus, tapi tetap aja sok kuat." ujar bari senyum kecil mengingat istrinya itu yang selalu mengutamakan kepentingan orang lain.


"saya ngga kebayang dulu dia hamil Bagas bar" ucap pak Rudi sendu


"iya pa, saya juga kadang berpikir begitu" ujar bari dan ternyata mereka sudah tiba di bandara tanpa terasa.


"kamu jangan sungkan sama papa, kalau ada butuh apa langsung telepon papa" ujar pak Rudi begitu ingin masuk jalur chek in di bandara.


"iya pa"


Bagas sudah terlihat sedih melihat kakeknya akan pulang. Tapi dia adalah anak yang baik, makanya dia selalu menurut apa kata bari dan nari.


"kami langsung pulang ya pa, tidak menunggu papa terbang, karena Bagas mau sekolah pa" ucap bari sambil melambai


"iya, pulanglah" teriak pak Rudi juga langsung melangkah masuk. Pak Rudi tidak tega melihat wajah sedih cucunya yang akan dia tinggal.


Sepulang dari bandara, bari langsung mencari istrinya yang ternyata sedang mandi. Bari masuk ketika Narita baru keluar dari kamar mandi hanya dengan handuknya.


Bari menatap istrinya itu, terlihat lebih cantik di mata bari. wajahnya berbinar - binar dan cerah.


"kamu makin cantik aja sayang, aku makin gemes, sayangnya kamu lagi hamil" ujar bari melangkah mendekat.


"ya ampun bang, ingat umur, sudah tidak cocok menggombal. jelas sekarang aku seperti apa ini, bulat semua" ujar Narita sambil mempertontonkan perutnya yang buncit.


"Bagiku kamu lagi hamil beginilah yang paling cantik sayang" ujar bari sudah menciumi perut istrinya gemes


"bang, geli ih" ujar Narita

__ADS_1


Bari masih terdiam sambil jongkok melihat tubuh istrinya yang memang sedang bulat. Tapi entah kenapa malah naluri bari tidak bisa dia tahan.


"diam dulu sayang" ujar bari berlari keluar lalu dia balik lagi ke kamar.


Narita masih bingung ketika bari balik ke kamar mereka.


"kenapa bang" tanya Narita bingung sambil mengeringkan rambutnya.


Bari tidak menjawab lagi tapi dia sudah mendekati istrinya itu dengan tatapan yang berkabut.


"aku kangen sayang, kangen banget" ucap bari saat tubuh mereka sudah sangat dekat.


Nari mengerti maksud suami tercintanya itu.


Nari tidak menjawab atau melawan, sebenarnya dokter juga sudah bilang bahwa mereka sudah aman untuk berhubungan asal sesuai dengan posisi yang benar. karena Narita sudah melewati tri mester pertama bahkan bentar lagi sudah masuk trimester ke tiga.


Bari semakin mendekat dan membuka handuk istrinya. Dia hanya mendorong Narita perlahan ke dinding, karena tidak mungkin dia menindih istrinya pada posisi hamil begini kalau di kasur.


Bari mulai mencium bibir istrinya dengan penuh kelembutan yang di sambut juga oleh Narita. Entah kenapa Narita juga sangat menikmati sentuhan dari suaminya ini hari ini. Narita bahkan lebih liar dari biasanya membuat bari hampir lupa kalau istrinya lagi hamil.


"kamu suka" tanya bari di sela ciuman panas mereka


"suka bang" jawab Narita malu - malu tapi mau, buktinya dia langsung menjatuhkan wajahnya di dada bidang bari.


Bari kembali mencium bibir istrinya dan mengusap tubuh istrinya. Narita malah semakin menggeliat seperti cacing kepanasan , tapi jujur Narita sangat senang permainan bari kali ini.


Narita seperti di bawa terbang oleh bari. Nari malah mengarahkan tangan bari ke daerah yang dia ingin di sentuh suaminya itu.


Bari menurut dan tersenyum bahagia melihat istrinya sedang n.fsu begitu. Itu artinya istrinya itu bisa menikmati permainan mereka juga.


Setelah lama memberikan sentuhan - sentuhan lembut yang bisa membuat istrinya seperti cacing kepanasan, dengan sabar bari menyatukan mereka berdua dengan hati - hati.


"sayang aku sudah tidak tahan, tolong bilang kalau sakit ya" ucapnya terbata - bata sambil berusaha mem.sukkanya tanpa Narita merasakan sakit.


"mmmmm"


Walaupun tidak sebebas sebelum hamil, tapi mereka berdua sangat puas dengan olah raga pagi mereka.


Bari langsung membimbing istrinya kembali ke kamar mandi dan membantunya untuk mandi. Setelah itu dia mengantar istrinya keluar dari kamar mandi dan memakaikan handuk, lalu dia sendiri kembali ke kamar mandi untuk mandi.


Narita sedang mencari baju untuk bari ketika anaknya Bagas pamit untuk sekolah. Ternyata tadi bari keluar sebentar untuk minta tolong art nya untuk menyiapkan Bagas untuk berangkat sekolah dan sarapan.


"ehhh Bagas sudah siap sekolah" tanya Narita

__ADS_1


"sudah ma"


"ya sudah tolong anterin ya mba, bapak masih mandi" ujar Narita.


Akhirnya Bagas berlalu bersama mbanya untuk berangkat ke sekolah. Dan tidak berapa lama bari sudah keluar dari kamar mandi dengan senyum - senyum.


"Abang kok senyum - senyum" tanya Narita


"kamu hebat sayang, hari ini permainanmu berani" ujar bari sambil mendekati Narita untuk mengambil bajunya.


Narita jadi sangat malu, memang sih tadi dia sangat bergairah, entah kenapa, mungkin hormon hamil juga kali.


Bari mengusap lembut pucuk kepala istrinya.


"nanti kalau dedeknya sudah keluar, kita puas - puasin deh" ujar bari


"tapi kamu nggada merasakan sakit kan sayang" tanya bari lagi


"ngga bang" jawabnya malu


"tadi Abang suruh mba menyiapkan Bagas sekolah"? tanya Narita lagi


"iya sayang, soalnya tadi melihat kamu baru mandi Abang langsung ngga tahan. Daripada nanti Bagas terlambat Abang atur aja waktunya se efisien mungkin, iya ngga sayang" ujar bari senyum menggoda istrinya.


"Abang bisa aja"


"olah raga pagi sayang, sudah lama Abang puasa demi Dede. ngga apa - apa sih, cuma tadi Abang ngga kuat nahan" ucapnya


"apa Bagas sudah jalan sayang"


"sudah tadi sama mba"


Bari benar - benar bahagia sekarang. Papanya sudah tahu pernikahannya, istrinya lagi hamil, anaknya beranjak besar, semua hidup yang dia bayangkan sudah dia dapatkan. Semoga papa mamanya juga menemukan apa yang mereka harapkan.


Hai semua pembacaku yang setia


Ikutin terus ya


like


coment


vote

__ADS_1


Terimakasih🙏


__ADS_2