PENYESALAN SEORANG SUAMI

PENYESALAN SEORANG SUAMI
PART 60 TAKUT


__ADS_3

Ibu Marlina merasa bahwa suaminya belum tahu apa yang terjadi di rumah bari dan Narita.


"ohhh mau bilang itu doank pa, kirain kenapa, biasanya bapak kirim wa aja" ucap ibu Marlina dengan tawa yang terdengar di paksakan membuat pak Rudi ngga bisa lagi menahan amarahnya.


Menantu dan cucunya sedang berjuang melawan maut, dan istrinya ini dengan santai menjawab suaminya seperti tidak pernah terjadi apa - apa.


"diammmmmmm" teriak pak Rudi di sebrang, akhirnya membuat ibu Marlina sangat ketakutan. Sepertinya ini tidak baik - baik saja karena suaminya sampai semarah itu.


Ibu Marlina masih diam karena memikirkan kemungkinan - kemungkinan yang ada di sebrang telepon, membuat pak Rudi makin yakin bahwa istrinya itu sudah mulai sadar dengan tindakannya.


"Sekarang kamu dengar baik - baik ya dan jawab pertanyaan saya" ujar pak Rudi penuh tekanan berat, sampai giginya hampir bergesekan demi menahan amarahnya.


"Apa yang kamu lakukan sama Narita'? tanya pak Rudi dengan suara menggelegar di lorong rumah sakit itu.


"aku ..aku tidak melakukan apa - apa" ujar ibu Marlina terbata - bata tapi tetap ditunggu pak Rudi pengakuannya. Pak Rudi sebenarnya ingin membentaknya lagi tapi tunggu sampai semua ucapan pengakuannya keluar tapi tidak keluar juga.


"kamu belum ngaku juga, perlu diputar rekaman cctv tetangga mereka" tanya pak Rudi pelan tapi membuat ibu Marlina ketakutan setengah mati.


'aduhhh ternyata ada rekaman cctv tetangga ya' batinnya.


'apa yang harus aku jawab sekarang, papa dan bari pasti sudah melihat kedatanganku ke sana' batin ibu Marlina takut.


"Tapi aku tidak melakukan apa - apa pa, dia langsung jatuh begitu melihatku" cerita ibu Marlina akhirnya, karena tidak ada celah lagi untuk bohong. Sejujurnya memang itulah yang terjadi, mungkin Narita terlalu kaget dan takut sehingga dia langsung jatuh saat melihat ibu Marlina.


"Bohong" teriak pak Rudi masih di telepon itu.


"sampai kapan kamu bohong terus, ingat umurmu sudah tua, kalau kamu mati kamu akan bawa kebohongan" ucap pak Rudi masih dengan suara sangat keras.


"aku tidak bohong pa, benaran dia jatuh saat melihatku doank" ucap Bu Marlina terdengar sudah menangis karena takut.

__ADS_1


"Baik, anggap itu benar," ucap pak Rudi lebih pelan, karena dia baru sadar ini area umum.


"anggap Narita jatuh tanpa kamu dorong, tapi kenapa kamu tidak segera menolongnya, kenapa"? lanjut pak Rudi mulai meninggi lagi.


Ibu Marlina kembali bingung menjawabnya, karena dia memang tidak menolong Narita yang jatuh tadi. Dia bahkan karena kaget juga hanya bengong dan bengong. Pasti anak dan suaminya akan semakin menyalahkannya.


"ya...karena...." ibu Marlina benar - benar mati kutu.


"karena kamu menginginkan kematian mereka kan" teriak pak Rudi di sebrang lagi.


'Berarti Narita dan anaknya tidak tertolong dan meninggal' batin ibu Marlina sedikit senang.


Pak Rudi berpikir istrinya tidak menolong Narita karena justru istrinya itu ingin Narita segera lenyap dari muka bumi ini.


"kamu harus bertanggung jawab, ingat , hukum di dunia mungkin bari tidak tega menuntutmu ke polisi, tapi kamu jangan lupa hukum Tuhan lebih sakit dari hukum dunia ini" ucap pak Rudi sangat berat membuat ibu Marlina takut dan juga senang.


Dia takut menghadapi suami dan anaknya nantinya, tapi dia juga senang karena dia pikir narita dan anaknya tidak tertolong dan meninggal. Paling tidak bari tidak akan bisa menemui Narita lagi di belahan dunia manapun, kalau Narita sudah meninggal. Dia hanya perlu bersikap baik dan seolah menyesal kepada bari sampai bari bisa melupakan mereka dan mencari wanita lain seperti dokter Eva.


"percuma ngomong sama kamu" akhirnya pak Rudi memutuskan sambungan telepon tersebut.


Pak Rudi semakin merasa bersalah sama Narita dan anaknya.


Dulu awal hamil, Narita sampai pergi dari rumah karena ingin menjalani kehamilannya dengan tenang, dan sekarang setelah bertemu lagi dengan bari dia jadi mengalami semua ini.


'maafkan papa nari, papa ternyata gagal jagain kalian' gumam pak Rudi.


'Karena papa terlalu lengah dengan musuh dalam selimut, papa sama sekali tidak menyangka kalau mama bisa melakukan ini untuk nari dan juga cucuku' ucapnya kepada diri sendiri dengan meneteskan airmata.


Pak Rudi masih bingung memikirkan apa yang dilakukan oleh istrinya. Sementara anaknya cuma bari satu - satunya. Biar bagaimana pun bari tidak akan tega melaporkan mamanya ke polisi, tapi biar bagaimana pun mamanya sudah bersalah, dan harus bertanggung jawab.

__ADS_1


Sekalipun dia tidak mendorong Narita, tapi kenapa tidak menolongnya, sehingga mereka harus mengalami keadaan yang sekarang.


Karena terlalu banyak pikiran pak Rudi sampai sempat bingung di lobby rumah sakit itu. Dia bingung tujuannya tadi mau kemana.


Barulah setelah menenangkan diri dia ingat kalau tujuannya adalah ingin mencari sesuatu yang bisa mengisi perutnya. Berati tujuannya adalah mencari tempat makan dan minum di dekat rumah sakit itu


Tapi saat dia ingin pesan makanan di kantin, dia ingat anaknya bari belum makan sama sekali juga. Bahkan mungkin setetes air pun tidak ada masuk dari tadi siang.


Akhirnya pak Rudi membungkus satu porsi makanan saja buat anaknya dan dia sendiri hanya pesan segelas teh manis.


Pak Rudi kembali memasuki rumah sakit itu dengan langkah lunglai. Dia sangat sedih dan merasa bersalah kepada bari anaknya. Dia tidak bisa menjaga kebahagiaan anaknya yang hanya sederhana yaitu membiarkan dia hidup tenang dengan Narita. Bukan seperti anak orang lain di luar sana yang malah menyusahkan orang tuannya dengan perilakunya.


Begitu sampai ruangan Narita pak Rudi melihat anaknya masih betah mengelus tangan Narita yang sebelah. Dia tidak beranjak sedikitpun dari yang pak Rudi tinggalkan tadi.


"Bar, kamu makan dulu sedikit ya" ucap ayahnya sambil memegang pundak bari.


"nanti aja pa" ucapnya lesu, dan terlihat matanya masih merah.


"ya sudah minum teh manis dikit nih" ucap pak Rudi ke anaknya sambil menyodorkan gelasnya ke dekat bari. Dia tahu perasaan bari sekarang, tapi biar bagaimana pun bari harus memikirkan kesehatannya juga.


Sementara ibu Marlina di rumahnya mulai gelisah. Dia tidak tahu harus ngapain sekarang. Dia juga tidak tahu dimana posisi suaminya sekarang karena tadi ngga sempat nanya.


Dan kalau Narita sampai meninggal atau sudah meninggal, apa yang harus dia lakukan sekarang. Apa dia harus ke rumah Narita dan barita lagi, tapi dia ngga punya nyali mau kesana.


Sementara berdiam diri di rumah begini juga pastinya ibu marlina tidak bisa tenang. Dia tidak tahu suami dan anaknya sedang apa di luar sana.


Ibu Marlina benar - benar galau. Dia berjalan mondar mandir di rumahnya yang besar itu tapi penuh kegelisahan dan ngga tahu juga apa yang bisa dia lakukan. Dan dia tidak tahu juga bisa bertanya kepada siapa atau sekedar sharing kepada siapa.


Hallo semua

__ADS_1


Like, coment dan vote ya


Terimakasih🙏


__ADS_2