PENYESALAN SEORANG SUAMI

PENYESALAN SEORANG SUAMI
PART 65 SANGAT HANCUR


__ADS_3

Sementara di kota B tepatnya di rumah sakit tempat Narita di rawat, Narita juga sudah sadar sepenuhnya. Dia yang bingung sedang berada dimana segera mengingat apa yang terjadi. Dia ingat kemarin mamanya bari atau ibu mertuannya datang ke rumah lalu dia ngga tahu apa - apa lagi karena dia sudah pingsan.


Narita merasakan sedikit perih di bagian operasinya, barulah dia meraba perutnya dan merasa sedikit ragu.


Bersamaan dengan itu kak Risma baru menoleh ke arah Narita yang ternyata sudah benar - benar sadar.


"kamu sudah sadar nar"? tanya kak Risma mendekat. Karena jarak kak Risma yang sangat dekat membuat Narita bisa melihat jelas kalau Risma habis menangis.


"kak, kakak habis menangis" tanya Narita pelan, karena dia sedikit merasakan perih di bagian perutnya.


Pertanyaan Narita ini bukannya membuat Risma terhibur malah membuat dia makin berpikir dan sedih. Apa yang harus dia ucapkan dulu mengawali ceritanya supaya narita tidak terguncang.


"kak" panggil Risma lagi pelan karena melihat Risma malah sedih bukannya menjawab pertanyaannya.


Saat ini sudah selesai subuh, sebentar lagi hari sudah terang. Dan menurut prediksi Risma pak Rudi dan bari mungkin sebentar lagi sudah sampai kota untuk memakamkan anaknya. Lalu apa yang harus dia jelaskan dulu. Ini pasti sangat panjang ceritanya nanti.


"nar, sekarang kamu baru sadar, kemarin kamu jatuh. jadi kamu minum dulu aja ya atau makan, kamu mau makan"? tanya Risma karena bingung, padahal dia tahu menurut dokter tadi dia belum bisa makan hanya bisa minum dulu sampai datang makanan dari rumah sakit.


Melihat kegugupan Risma malah membuat Narita makin penasaran. Pasti ada sesuatu yang terjadi yang dia belum tahu.


"kak, sebenarnya ada apa sih" tanyanya lemah


Risma semakin di buat tidak bisa menjawab pertanyaannya. Akhirnya dia sedikit memberi tanda akan semua kejadian kemarin, dan dia juga pasti akan menyampaikan ini juga, ngga mungkin ditunda sampai lama.


Risma mendekati Narita lebih dekat lagi sampai kepala mereka hampir nempel.


"Nar, kamu tidak boleh terlalu mikirin ya dek, kamu harus kuat, masih ada kakak yang selalu siap bersamamu, mendampingiku" tutur Risma perlahan. Tapi karena masih bingung Narita masih bertanya lagi.


"maksud kak Risma apa"


"Dek, kemarin karena kamu jatuh, akhirnya anakmu tidak bisa ketolong, dia sudah tiada" ujar kak Risma cepat karena dia harus fokus untuk menenangkan Narita. Dia sangat yakin ini pukulan terberat bagi Narita, tapi mau bagaimana lagi, cepat atau lambat tetap akan di kabari.


Narita terlihat bengong dan shock sesaat, apalagi tubuhnya masih sangat lemah. Akibat menahan gejolak hatinya yang ingin menangis membuat bekas jahitannya sedikit nyeri.


"aduhhhhh" akhirnya tanpa sadar Narita mengeluarkan kata - kata itu.


"Dek, tolong tenang, kamu orang beriman kan, kamu harus ikhlas. Kamu kan yang selalu bilang, tidak ada yang kebetulan, semua sudah di atur oleh Tuhan" kak Risma masih berusaha mengingatkan Narita jangan sampai dia sedih banget.

__ADS_1


Narita akhirnya memang diam, karena dia sedang menahan rasa sakit di bagian perutnya. Tapi airmata itu tidak berhasil dia bendung, dia menangis tanpa suara hanya menatap ke satu titik. Dia mengingat kembali semua kisahnya bersama bari sampai dia hamil dan sekarang anaknya malah pergi. Dia juga ingat kejadian kemarin saat melihat mertuannya di depan rumahnya membuat jantungnya seolah berhenti berdetak dan dia akhirnya tidak tahu apa - apa lagi.


"Akhirnya dia berhasil ya kak" ucapnya pelan tapi cukup jelas di dengar oleh Risma. Risma cukup kaget dengan ucapan Narita, itu kalimatnya terpanjang setelah bangun dari tadi.


"Apa maksudmu nar"? Risma ingin meyakinkan apa yang akan di sampaikan oleh Narita dengan ucapan nya tadi.


Narita terdiam dan bengong, tapi lagi - lagi airmatanya mengalir deras tanpa bisa dia bendung padahal kondisinya juga masih sangat lemah.


Belum tuntas pembicaraan mereka ternyata sudah ada makanan dan minuman yang harus di konsumsi Narita, supaya lebih cepat pulih.


"selamat pagi Bu Narita, makan ini dulu ya Bu, karena masih harus konsumsi yang teksturnya lembut, nanti semakin sehat semakin keras sampai nasi biasa ya Bu" terang wanita muda itu .


"terimakasih mba" ucap kak Risma karena Narita terlihat masih bengong dan airmata tak henti mengalir.


"nar, kamu makan dulu ya, kamu harus segera sehat dek" bujuk kak Risma.


Kak Risma dengan telaten nyuapin Narita perlahan, sedikit demi sedikit. Walaupun makannya belum habis tapi paling tidak ada isi perutnya.


Setelah selesai makan, Risma memberikan minum teh manis itu sampai habis.


Mendengar kata operasi Narita reflek memegang perutnya, ya benar sudah tidak ada gerakan bayinya di sana, yang ada adalah rasa nyeri di bagian perutnya. Mungkin itulah akibat proses Caesar kemarin.


Karena sibuk dengan pikiran masing - masing membuat Risma dan Narita seperti orang yang baru kenal, irit bicara. Padahal kak Risma hanya tidak ingin Narita banyak pikiran terus mempengaruhi kesehatannya.


"terus dimana mayat anakku kak" tanya Narita akhirnya.


"Sudah dibawa bapak mertuamu dan bari untuk dimakamkan dek di kota, karena bapak mertuamu bilang dia akan di gabung di dekat makam keluarga mereka turun temurun" jelas kak Risma.


Berarti bapak mertuannya dan bari sudah tahu bahkan sudah menguburkan anaknya.


Lalu dimana ibu mertuannya yang membuat dia kaget lalu mengalami ini semua.


"kapan kak, aku ingin lihat" ujar Narita pelan tetap dengan tatapan kosongnya.


"Tadi dek menjelang subuh, karena harus mengurus administrasi dulu, sekarang mungkin mereka sudah tiba di kota" ucap kak Risma.


Narita kembali diam, entah apa yang ada di pikirannya sekarang.

__ADS_1


"dek ,apa kamu ingin telepon suamimu"? tanya Risma hati - hati. Tapi Narita berpikir pasti di sana ada ibu mertuannya, dia masih malas melihat wajahnya, jangankan untuk bicara melihat mertuannya aja dia ngga mau atau belum siap.


"ngga" ucap Narita dengan pasti


Risma melihat ada sesuatu di hati Narita mendengar jawabannya yang sangat pasti tidak ingin telepon.


"dek sebenarnya tadi apa maksudmu dia berhasil, siapa yang berhasil"? tanya kak Risma pelan biar Narita bisa berpikir juga dengan tenang.


"hahhhhh" Narita menarik nafas panjang lalu bicara pelan.


"ibu pernah bilang, ngga akan biarin anakku hidu di dunia, benarkan kak. Sekarang anakku benar - benar pergi. Anak yang sudah aku perjuangkan" ujar Risma pelan tapi kembali airmatanya menetes.


"Sebenarnya gimana ceritanya kemarin dek, kamu bisa pingsan" tanya Risma lagi.


Narita kembali mengingat kejadian kemarin, sejujurnya dia sudah malas untuk mengingat itu semua.


"apa ibu mertuamu menyakitimu, atau gimana"? tanya Risma lagi.


Narita masih bengong, dalam hatinya mengatakan ibu tidak menyakiti fisikku tapi mengganggu jiwaku yang belum siap melihatnya, batin narita kembali menangis.


Melihat Narita makin menangis membuat Risma tidak melanjutkan untuk bertanya lagi.


Hallo pembaca yang baik


Dukung terus ya


like, coment dan vote


Terimakasih🙏


Pesan dari author sh ya


Dalam hidup ini jangan takut kehilangan apapun, karena tidak ada juga yang abadi milik kita.


Author kasih support untuk pembacaku yang memiliki anak istimewa atau difabble seperti saya, Lakukan saja yang terbaik karena hasilnya sudah Hak sang pencipta.💪


Selamat beraktifitas ya guys..🙏

__ADS_1


__ADS_2