
Pihak kepolisian langsung men-share foto anak itu ke polisi yang sedang di rumah bari untuk memastikan, apakah ini anak yang di culik itu.
Pak pengacara dengan ragu menunjukkan ke pak Rudi dan Narita foto yang dikirim pihak kepolisian itu.
"Bagas" teriak Narita langsung, sementara pak Rudi hanya bisa menangis dalam diam karena dia tidak bisa berbuat apa - apa.
"pihak kepolisian sudah menemukan titik keberadaan Bagas dan yang membawanya, pihak kepolisian sedang menuju ke TKP" ujar polisi yang berada di rumah bari.
"kami ingin ikut ke sana pak" ujar pak Rudi ngga sabar lagi dan pengacara keluarga juga setuju dengan ucapan pak Rudi. Biar bagaimanapun bisa di maklumi oleh pihak berwajib tentang perasaan keluarga bari.
"baiklah kita harus bergerak cepat ke sana, karena pihak kepolisian sedang mengepung tempat itu" ujar polisi itu.
Narita langsung telepon bari dan juga bersiap untuk berangkat ke sana. Tapi karena bari masih agak jauh akhirnya pak Rudi, pengacara dan juga Narita memilih berangkat menjemput bari sekalian.
Tidak sampai satu jam mereka sudah mendekati TKP, karena hari sudah malam polisi selalu memberi arahan kepada mereka. Tapi yang paling mengejutkan adalah ternyata penculik anak bari memegang senjata api.
Itu terbukti ketika pihak kepolisian berhasil masuk rumah itu dari satu sisi mereka sampai melepaskan tembakan sehingga polisi juga membalas tembakan penculik itu.
Sebenarnya perlawanan mereka sudah lumpuh, karena mereka tidak mengira kalau polisi sudah mengepung tempat itu. Mereka hanya berpikir kalau polisi datang dari samping.
Tapi ketika pak Rudi melihat cucunya dengan tampilan yang mengenaskan dia tidak bisa menahan diri, tanpa pikir apa - apa lagi dia langsung ingin berlari ke arah cucunya sehingga salah satu penculik itu menembak pak Rudi yang mengenai lengan kanannya.
"kakek" teriak Bagas histeris
"papa" teriak narita
Mau ngga mau polisi langsung maju serempak dan melumpuhkan kedua penculik itu. Dalam hitungan detik keduannya di lumpuhkan oleh rombongan polisi itu dan juga keluarga bari serta pengacara yang ikut ke sana.
__ADS_1
Narita langsung memeluk anaknya Bagas di temani oleh pengacara mereka, sementara bari langsung mengangkat papanya yang sudah tidak sadarkan diri itu.
Kejadian malam ini sudah seperti menangkap penjahat di film - film laga, tapi ini nyata di depan Narita dan Bagas terutama Bagas yang masih di bawah umur, dan sekali lagi ini adalah ulah Eva.
Mereka langsung menuju klinik terdekat di pandu kepolisian, bari langsung mengikuti papanya yang di bawa keruang tindakan untuk mengeluarkan peluru itu dari bahunya.
Narita dan Bagas masih saling berpelukan di luar ruangan. Tidak ada percakapan dari keduanya karena masih shock, mereka hanya memeluk lebih erat satu sama lain.
Barulah ketika bari bergabung memeluk anaknya, Bagas langsung menangis kejar. Ternyata anak ini sudah sangat trauma.
Bari merasa menjadi ayah dan suami yang paling gagal dalam hidupnya. Bahkan dia ngga bisa menjaga anak dan istrinya itu dengan baik.
Akhirnya malam itu juga mereka di temani pihak kepolisian berangkat ke kota dan langsung menuju rumah sakit. Pak Rudi langsung masuk ruang ICU. Sementara Narita dan Bagas langsung pulang ke rumah. Ibu Marlina yang sudah mendapat kabar tentang suaminya langsung berangkat ke rumah sakit karena angel sudah di jaga oleh Narita. Dan ternyata pak Rudi harus kehilangan satu tangannya akibat kejadian itu.
Keesokan harinya bari melihat istrinya masih banyak bengong memeluk kedua anaknya, trauma Narita ternyata sangat dalam. Bahkan kadang Narita memeluk anaknya lalu dalam diam meneteskan air mata. Bari yang tadinya mau ke rumah sakit mengurungkan niatnya, takutnya anak dan istrinya nanti takut di rumah karena trauma.
Dua hari sudah pak Rudi dirawat dan belum sadar. Ibu Marlina selalu setia menemani suaminya itu dan berbicara dengan suaminya itu. Ibu Marlina sudah tidak bisa bicara apa - apa lagi. Toh penyesalannya juga sudah tidak bisa mengubah segalanya. Tapi Marlina sangat malu dan marah sama dirinya sendiri, karena nafsunya dulu memisahkan bari dari Narita, sehingga sekarang suaminya harus mengalami ini akibat perbuatan Eva.
Dia sudah berpesan kepada pengacaranya untuk hukuman paling berat untuk Eva, jangan sampai dia bisa keluar lagi dari penjara. Karena semua bukti percakapan mereka juga sudah bisa di dapat oleh pihak kepolisian. Dan yang mengejutkan ternyata Eva sudah bukan dokter lagi, tapi jadi wanita panggilan. Dan orang yang di mintai tolong oleh Eva untuk menculik Bagas adalah orang penting suatu perusahaan yang sering menggunakan layanan Eva jika dia butuh kehangatan. Intinya laki - laki ini adalah langganan eva. Hanya saja hidupnya juga sudah hancur seperti Eva. Sejak istrinya pergi dia menggunakan barang haram itu bersama Eva dan juga wanita lain.
Siapapun tidak percaya dengan kehancuran Eva, tapi itulah kenyataannya.
Sudah dua Minggu pak Rudi di rawat, dan selama itu juga pihak kepolisian ada yang berjaga di rumah sakit. Pak Rudi sudah sadar dan tinggal menunggu pemulihan walaupun dia harus kehilangan tangan kanannya.
"maafin bari pa, demi Bagas papa jadi begini" ucap bari
"tidak apa - apa bar, gimana Bagas, pasti dia akan ada trauma itu" ujar pak Rudi masih lemah.
__ADS_1
"iya pa. Itulah yang aku sesalkan pa, kenapa Tuhan izinkan Eva hadir dalam hidupku" ujar bari lemah.
"itu karena mama bar, mama sangat keras kepala, tidak pernah dengar ucapan kalian, sehingga Tuhan hukum mama dengan melihat semua kekejaman Eva. Maafin mama bar" ujar ibu Marlina menjatuhkan dirinya di depan bari, tapi bari langsung menarik mamanya dan memeluknya.
"bari selalu maafin mama, tapi mungkin mama perlu minta maaf kepada Narita dan Bagas, karena merekalah korban yang nyata ma dari semua yang mama lakukan" ujar bari lembut.
"iya bar, mama akan minta maaf sama nari dan Bagas, mama memang salah" ucap ibu Marlina. Di hari tuannya ini memang dia semakin malu sama dirinya sendiri dulu yang mengira bahwa dia akan tetap hebat dan berkuasa, bahkan tidak butuh cucu dari Narita. Sehingga waktu anaknya bari, terbuang beberapa tahun karena putus asa. Dan sekarang ketika anaknya bisa menikmati kebahagiaan itu, Eva selalu jadi bayang - bayang - bayang yang menghantui rumah tangga anaknya.
Dan saat mereka terdiam dengan pikiran masing - masing, terlihat pintu ruangan pak Rudi terbuka. Dan disana terlihat Narita dan kedua anaknya serta rantang makanan yang sengaja di bawa Narita.
"kakek, papi" teriak kedua anak bari memanggil berbeda. Kalau Bagas memanggil kakeknya angel malah memanggil papinya.
"iya sayang" sambut bari dengan bangkit dan memeluk putri kecilnya. lalu dia mendekati istrinya Narita.
"syukurlah kamu sudah berani keluar rumah sayang" ujar bari senang
"iya bang"
"bagaimana keadaan papa" tanya Narita mendekati mertuannya yang sedang di peluk Bagas.
"bapak sudah baikan nak, tapi bapak jadi cacat" ucapnya lemah. Narita jadi bingung mau ngomong apa, akhirnya dia hanya bisa bilang.
" sabar ya pa"
Hallo semuannya pembaca setiaku
tetap dukung ya
__ADS_1
like, coment dan vote
Terimakasih🙏