PENYESALAN SEORANG SUAMI

PENYESALAN SEORANG SUAMI
PART 59 LEMAH


__ADS_3

Kenyataan yang baru dia ketahui dari keluarga bari membuat Risma sudah tidak yakin dengan bari lagi. Bahkan papanya bari yang selama ini sangat baik sama Narita tidak bisa juga menghalangi istrinya untuk berbuat jahat dan mencelakai Narita.


Ketika mereka sibuk dengan pikiran masing - masing, lampu ruang operasi itupun mati, pertanda operasi sudah selesai. Tidak lama seorang dokter keluar bersama dua orang yang berpakaian putih - putih juga.


Bari segera bangkit dan bertanya kepada dokter itu.


"gimana istri saya dok" tanya bari penuh harap bersama pak Rudi.


"operasinya berjalan lancar pak, selamat, anak bapak laki - laki, tapi kondisi bayi bapak sangat kemah dan harus masuk inkubator dan ruang NICU." jelas sang dokter.


"ya Tuhan, terus istri saya" tanya bari lagi


"kondisi istri bapak juga sangat lemah, karena sedikit terlambat, banyak berdoa aja ya pak untuk istri bapak" ujar sang dokter sedih membuat bari tidak bisa menahan airmata lagi. Dokter itu langsung berlalu dari tempat itu beserta dua teman atau rekan kerjanya.


Bari sangat terpukul dengan keadaan anaknya. Berulang - ulang bari meremas rambutnya sambil bicara dan menangis.


"aku memang laki - laki ngga berguna, aku tidak bisa menjaga anak dan istriku. aku sangat ngga berguna" teriak bari dalam tangisnya bahkan sampai dia jongkok di lantai rah sakit itu.


"Tolonglah istri dan anakku Tuhan, kuatkan mereka, dan sembuhkan mereka Tuhan" ucap bari tulus dari hati tanpa perduli lagi sekitarnya. Dia terus memohon kesembuhan anak dan istrinya.


Sementara pak Rudi yang juga mendengar penjelasan dokter ikut terpukul dengan keadaan ini. Dan yang paling dia sesali sekali lagi ini semua akibat ulah istrinya.


Diapun mendekati bari dan memegang kedua pundaknya sambil ingin menghiburnya.


"Bar, tenangkan dulu hatimu ya, perbanyak doa untuk menguatkan mereka" ujar pak Rudi padahal dia sendiri tidak seyakin ucapannya.


Dia hanya memikirkan gimana kalau cucu dan menantunya makin lemah dan...pak Rudi sampai tidak siap untuk memikirkan hal terburuk terjadi.


Sementara Risma beda lagi, sekarang rasa mempercayakan Narita kepada bari sedikit berkurang. Karena tidak bisa di pungkiri, keluarga bari atau khususnya ibunya baru aja mencelakai Narita. Gimana kalau sampai Narita dan anaknya tidak tertolong, bari dan keluarganya harus bertanggung jawab. Tapi apalah arti tanggung jawab kalau Narita sudah kesakitan dan menderita.


Risma mulai berpikir untuk tidak mempercayakan Narita dan anaknya lagi kepada bari. Karena bisa aja nanti mamanya datang ke rumah sakit seperti yang di film - film dan menyakiti Narita.


Saat mereka sibuk dengan pikiran masing - masing terlihat dua perawat laki - laki dan perempuan mendorong box bayi yang telah dipasangi alat - alat di tubuhnya.


"apa ini anak saya sus" tanya bari langsung bangkit.


"ini bayi ibu Narita pak, apa bapak keluarga ibu Narita" balik tanya perawat karena disana sedang ada juga operasi ibu hamil yang lain.

__ADS_1


"iya sus" pak Rudi yang menjawab.


Bari sudah menatap wajah anak laki - lakinya yang sedikit agak biru itu.


"maaf pak, kondisi anaknya kurang bagus, harus segera dibawa keruang nicu" jelas perawat itu ketika melihat bari ingin lama - lama melihat anaknya.


Walaupun tidak rela, bari langsung mengizinkan anaknya dibawa oleh petugas medis itu. Ini demi kesembuhan anaknya.


Hatinya kembali sakit melihat kondisi anaknya. Begitu juga pak Rudi.


Tidak berapa lama, terlihat juga Narita didorong di atas bed pasien keluar dari ruang operasi itu. Dia masih belum sadar. Bari langsung mencium kening istrinya yang tergolek lemah itu.


Bari tidak bisa lagi mengerti isi hatinya melihat anak dan istrinya tergolek lemah di tempat tidur rumah sakit. hancur sudah hati bari menyaksikan semuanya.


Setelah Narita di pindah ke ruang perawatan, bari dan pak Rudi langsung bisa mengikutinya ke sana. Sedikit lebih tenang karena bisa berdekatan dan lihat langsung.


Bari masih memegang tangan istrinya yang tidak ada fitempelin alat - alat medis.


Sementara ruangan bayi beda lantai dengan ruang rawat Narita.


Setelah melihat menantunya di ruang rawat, sementara cucunya belum bisa di jenguk, pak Rudi akhirnya ingin keluar dulu sejenak.


"Bar, mumpung Narita belum sadar kamu makan dulu, nanti kamu sakit" ujar pak Rudi


"aku ngga lapar pa" ujar bari masih terlihat sangat sendu memandangi wajah istrinya.


"Bar, ingat tugasmu berat menjaga nari nanti kalau sudah sadar, karena dia sama sekali belum bisa banyak gerak" ucap papanya.


"ngga papa pa, tapi aku ngga lapar" tegasnya lagi masih memandangi wajah istrinya.


Akhirnya pak Rudi mengalah, mungkin anaknya memang ngga bisa makan kalau istrinya masih begitu. Nanti aja aku belikan sesuatu supaya ada masuk di perutnya.


"nak Risma mau makan sesuatu" tanya pak Rudi juga sama Risma.


"tidak om, terimakasih, aku bisa minta tolong ibu may nanti" ujarnya belum terlalu bisa melupakan perbuatan mamanya bari.


Pak Rudi melangkah keluar untuk sekedar minum teh manis atau kopi, karena dari siang tidak ada masuk apa - apa kedalam perutnya.

__ADS_1


Saat berjalan di lorong rumah sakit itu, pak Rudi sudah yakin kalau bari dan Risma sudah jauh di ruangan Narita. Dia ingin telepon istrinya sekarang.


Dari tadi sebenarnya dia sudah sangat ingin langsung telepon ibu Marlina, tapi kepastian keadaan Narita dan cucunya lebih penting.


Dan sekarang, setelah Narita selesai di operasi, dia ingin telepon istrinya itu tentang tujuannya dan pertanggung jawabannya dengan masalah ini.


dddrrttt dddrrttt


Ibu Marlina yang baru aja sampai di rumahnya setelah dari rumah Narita tadi siang dengan segala kejadian yang terjadi, mendengar handphonenya berdering dan tertulis nama "suami".


'Ada apa papa telepon, tumben, ngga biasanya.' batin Bu Marlina


'ohhh mungkin mau kasih tahu dia mau nginap di luar kota' batinya lagi.


Diapun langsung angkat telepon itu tanpa rasa curiga.


"hallo pa" ucapnya ramah berusaha biasa aja, seolah tidak pernah ada masalah.


"dimana kamu" tanya pak Rudi di sebrang penuh tekanan membuat nyali ibu Marlina langsung ciut.


'apa papa sudah tahu ya keadaan Narita ya,? ya ialah... pasti bari sudah telepon papa, aduh gimana ini, terus papa juga tahu aku ke rumah narita' batinnya mulai sangat khawatir.


' ahhh ngga mungkin, siapa yang kasih tahu, apa Narita sudah sehat ya dan cerita semuanya, ngga ngga mungkin, pasti aku yang terlalu baper dan ketakutan' batin ibu Marlina.


"di rumah pa, emank kenapa" ucapnya lagi - lagi berusaha biasa aja.


Mendengar jawaban istrinya yang santai pak Rudi sampai menahan nafas sejenak untuk menahan amarahnya.


'bisa - bisanya kamu se santai ini setelah menyakiti menantu dan cucu kita' batin pak Rudi.


"papa jadi nginap diluar kota"? tanya Bu Marlina masih berusaha santai.


"hmmmmmm" hanya itu yang keluar dari mulut pak rudi. Dia bingung menghadapi istrinya yang masih bisa sesantai itu.


Hai semua


Dukung terus ya, like, coment dan vote

__ADS_1


Terimakasih🙏


__ADS_2