PENYESALAN SEORANG SUAMI

PENYESALAN SEORANG SUAMI
PART 95 CURAHAN HATI


__ADS_3

Narita sangat bingung melihat kedekatan Bagas dengan papanya, barita. Dan terlihat dengan jelas bahwa bari pun sangat menikmati menggendong putranya itu.


Tidak berapa lama, mereka tiba di makam keluarga Narita. Narita mulai membersihkan rumput liar di sekitar makam keluarganya. Bari dan pak Rudi juga ikut membersihkan semuanya, sementara Bagas di taruh di atas makam kakeknya ayahnya Narita karena anak ini jadi takut ulat - ulatan.


Setelah agak bersih Narita menaburkan bunga serta berdoa di antara tiga pusara itu di ikuti oleh bari dan pak Rudi.


Setelah semua selesai berdoa kembali bari menggendong putranya yang takut ulat. Bari tidak bisa lagi menggambarkan kebahagiaanya sekarang. Senyum tak pernah hilang dari wajahnya. Dia berjalan di sela - sela makam itu dengan semangat.Dan pak Rudi juga merasa paling bahagia ketika melihat bari bahagia.


Mereka menuju makam keluarga pak Rudi, yang dimana disana juga makam dari anak Narita dan bari.


Ternyata makam anaknya sangat terawat, berarti bari atau pak Rudi sangat rajin membersihkannya.


Narita kembali meneteskan air mata mengingat perjuangannya dulu waktu mengandung anaknya ini. Dan dia pergi ketika Narita malah belum sadar dari pengaruh obat bius.


Bagas langsung memeluk maminya tanpa bertanya kenapa maminya menangis.


"ini adalah makam abangmu Bagas, dia sudah tenang di surga nak" ujar Narita masih memeluk erat Bagas juga.


"Bagas punya Abang mi"?


"iya sayang, tapi karena terlambat di tolong dia di panggil Tuhan" tutur Narita sambil sesenggukan. Bari dan pak Rudi juga ikut menangis melihat Narita menangisi anaknya.


"Sudahlah nak, sekarang sudah ada Bagas, kamu tidak boleh terlalu larut nar" ujar pak Rudi di sela - sela tangisnya juga.


Pak Rudi sangat menyesali apa yang terjadi kepada rumah tangga Narita dan bari, apalagi semua karena ulah istrinya sendiri. Pak Rudi sampai tidak tahu harus berbuat apa dulu melihat anaknya sangat terpuruk.


Sementara bari juga jadi ingat semua kisah masa lalunya. Betapa menderitanya Narita.!


Pak Rudi tanpa sungkan mengajak Narita berdiri.


"sebaiknya kita berdoa aja nak" ujar pak Rudi masih dengan wajah sembabnya.


Setelah berdoa di pusara anaknya, mereka berempat meninggalkan pemakaman dan hari juga sudah hampir sore.


Pak Rudi mengajak Bagas dan Narita ikut ke mobil bari. Narita dan Bagas memilih duduk di belakang sementara pak Rudi dan bari duduk di depan.


Tidak berapa jauh dari sana ada sebuah warung kopi yang lumayan ramai. Akhirnya mereka singgah dulu di sana hanya sekedar untuk minum kopi dan teh manis.


"Bagas mau minum apa nak" tanya pak Rudi ke cucunya.

__ADS_1


"aku mau susu kek" ujar Bagas


"Narita mau apa nak"


"saya teh manis aja pa"


"ya sudah, saya pesan dulu ya" ucap pak Rudi semangat.


Tapi ternyata susu yang Bagas inginkan tidak ada, akhirnya pak Rudi dengan sigap membelinya ke super market di sebelahnya dan minta tolong di seduhin di warung kopi itu.


Setelah semua pesanan mereka datang, pak Rudi juga ikut duduk bergabung.


"Bagas, duduk sini sama kakek" ujarnya


"boleh mi" tanya Bagas ke Narita. Narita hanya mengangguk tanda boleh. Dia tidak mungkin membatasi pak Rudi kangen sama cucunya.


"apa Bagas sudah sekolah nar"


"baru mau sekolah pa, kemarin dia lulus TK" cerita Narita menjelaskan, sementara bari hanya jadi pendengar, dia seolah tidak berani untuk bicara di hadapan Narita. Jujur Narita juga melihat binar kebahagiaan di mata bari ketika melihat putranya, tapi mau bagaimana pun bari sudah menikah jadi Narita juga cukup tahu batasannya.


"apa Bagas sekolah di sini aja nak, sama kakek" tanya pak Rudi becanda.


"selama ini kalian tinggal di mana nar"? tanya pak Rudi serius


"di Jakarta pa"


"terus sewaktu kamu minta surat cerai kalian dua tahun lalu untuk apa"? apa kamu sudah menikah lagi"? tanya pak Rudi.


"bukan begitu pa, sebenarnya waktu aku mau pergi itu aku sudah ingin buat surat pernyataan perpisahan, tapi aku pikir aku sedang hamil, nanti anakku nggada nama bapaknya" ujar Narita jujur.


"Barulah kemarin itu ketika kak Risma ada urusan ke Jakarta, aku titip sekalian untuk di urus, karena yang aku dengar bang bari juga sudah menikah", ujar Narita lagi dengan jujur.


"Terus bagaimana rencanamu selanjutnya nak"


"maksud papa"? tanya balik Narita


"mengenai Bagas, apa rencanamu"? tanya pak Rudi penuh harap bisa selalu bersama Bagas.


Narita akhirnya memberikan handphonenya untuk Bagas bermain game. Supaya Bagas tidak fokus dengan pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Bagas adalah putraku pa, aku hanya berencana membesarkannya sendiri, dan aku akan berusaha untuk menyekolahkannya setinggi - tingginya" ujar Narita yakin


"terus bari gimana, maksudnya bari juga ayahnya" ucap pak Rudi lembut, dia takut Narita tersinggung.


"maaf pa, aku tidak pernah pikirkan itu. jujur selama ini aku sudah menganggap diriku sebagai papi dan mami buat Bagas, jadi aku ngga butuh yang lain, apalagi bang Bari sudah menikah dan punya anak" ujar Narita lagi.


Bari terlihat ingin protes tapi dilarang oleh pak Rudi.


"Nak Narita, pernikahan bari dan Eva tidak seperti pernikahan pada umumnya. Bari menikahi Eva karena saran papa juga, karena waktu itu aku lihat hidup bari sudah seperti patung berjalan, tidak bicara dan tiada interaksi. Tapi ternyata aku salah, bukannya lebih baik, anakku malah terjebak semakin dalam sampai dia mati rasa, boto - boro punya anak, ngobrol aja mereka jarang." tutur pak Rudi.


Narita hanya diam tanpa menanggapi, karena dia bingung juga mau nanggapi gimana.


"Dan sekarang pernikahan mereka entah seperti apa, satu di timur, satu ke barat dan tidak pernah ada komunikasi" tutur pak Rudi lagi


"maaf pa, aku tidak ingin terlibat dengan masalah pernikahan bang bari. Hidupku sekarang adalah Bagas. Bahkan aku sudah tidak memikirkan diriku demi Bagas" tutur Narita.


"iya, papa tahu nak, papa sangat paham sekali. Tapi paling tidak berikan kami acces untuk komunikasi dengan Bagas" ujar pak Rudi membuat Narita sedikit terdiam.


"maaf pa, bang bari, bukan aku ingin egois, tapi aku hanya ingin melindungi anakku. Papa tidak tahu betapa beratnya perjuanganku untuk Bagas Pa, hamil tanpa suami, ingin sesuatu harus cari sendiri di rantau orang, tapi demi tekadku untuk menjaga anakku aku lakukan semua dengan senang hati pa. Sungguh perjuangan yang tidak gampang. Airmata adalah teman paling setiaku setiap hari pa" tutur Narita sedih mengenang masa lalunya.


"Papa dan bang bari juga pasti tahu gimana aku ngga bisa hidup sendiri dulu, tapi balik lagi demi Bagas aku lawan semua rasa takutku pa" ujar Narita menyadarkan barita.


'ternyata Narita sangat menderita selama ini, kemana aku, aku sibuk menyalahkan dia' batin bari.


"iya nar, papa paham nak. Papa juga tidak berani berharap apa - apa lagi sama kamu, karena memang yang kamu bilang itu semua benar. Barilah yang selama ini ngga bisa bedain prioritasnya. Membuat hidupnya hancur semua"


Bari semakin sedih mendengar itu, tapi dia sudah bertekad bahwa hidupnya hanya Narita, apalagi sekarang ada Bagas. Benar kata papanya dia harus mulai dari nol.


"nar, maafin Abang, selama ini memang sudah buat kamu menangis. Abang gagal lindungi kamu nar" ujar bari


"tapi Abang ada satu permohonan, tolong buka acces Abang untuk bicara sama kamu dan Bagas. Aku ngga bisa bicara dan sharing hidup selain sama kamu nar, tolonglah aku" ujar bari memohon penuh harap.


Hai semua


Dukung terus ya


like, coment dan vote


Terimakasih🙏

__ADS_1


__ADS_2