
Sepanjang menuju restoran yang di tuju Bagas banyak bertanya kepada pak Rudi. Tapi beda dengan mereka yang duduk di bangku belakang. Mereka berdua sangat kaku dan grogi. Narita memang kelemahan bari, dia tidak akan berani berkutik di hadapan Narita. Begitu juga sebaliknya Narita juga sangat mencintai bari, dengan segala kelemahan dan kekurangannya.
Bahkan ketika pak Rudi sudah membelokkan mobilnya ke restoran yang paling lengkap pilihan menunya di kota ini, bari dan Narita masih awet diam satu sama lain.
Bagas terlihat sangat antusias turun dari mobil bari. Pak Rudi Langsung mengitari mobilnya menggapai tangan Bagas. Dia tidak ingin ketinggalan walau sejenak dari cucu kesayangannya.
"ayo Bagas mau makan apa, bilang sama kakek, biar kakek yang belikan" ucap pak Rudi.
"iya kek" ucap Bagas juga mantap. Pak Rudi merasa paling bahagia saat ini, memiliki cucu seganteng dan sehebat Bagas yang baru dia tahu hari ini, dan ajaibnya lagi mereka bisa langsung bertatap muka hari ini juga.
Jadilah mereka makan seperti keluarga kecil lainya, keluarga yang bahagia. Narita yang biasanya membantu Bagas makan hari ini di gantikan oleh bari dan pak Rudi.
Setelah selesai makan di restoran itu, pak Rudi membawa mereka keliling kota S. Awalnya Bagas sangat antusias setiap melihat becak khas daerah situ, dan dia akan bertanya banyak tentang alat transfortasi daerah itu.
Karena hati mereka diliputi kebahagiaan sampai tidak berasa kalau hari sudah sangat larut dan Bagas sudah mulai ngantuk.
Narita yang melihat gelagat anaknya ngantuk akhirnya minta Bagas di pindah aja ke belakang.
"pa, sepertinya Bagas pindah sini aja pa, sudah ngantuk itu, nanti kalau posisinya kurang nyaman dia uring- uringan pa" ucap Narita.
"ohhh begitu, ya sudah nar, ngga usah pindah nanti papa lihatin " ucap pak Rudi tidak membiarkan Bagas pindah ke belakang.
"ohhh kalau begitu kita langsung pulang aja pa, takut Bagas keganggu tidurnya" ucap Narita yang selalu mengutamakan anaknya.
Pak Rudi langsung mengarahkan mobil mereka kearah hotel S tempat Narita menginap bersama Bagas.
Tidak sampai dua puluh menit mereka sudah tiba, dan benar aja Bagas sudah tidur pulas. Bari langsung dengan sigap mengangkat anak kesayangannya, membuka safety belt dengan perlahan supaya anaknya tidak terganggu. Dia menggendong bagas sampai masuk kamar Narita dan Bagas.
Narita langsung membuka sepatu dan jaket anaknya supaya tidurnya enak. Barulah setelah itu dia langsung lap wajah anaknya dengan tisu basah. Setelah itu dia menarik selimut Bagas sampai lehernya.
__ADS_1
Semua yang dilakukan oleh Narita sudah cukup menunjukkan bahwa dia adalah wanita yang sangat telaten mengurus anaknya. Pak Rudi dan bari memperhatikan itu semua dari tadi.
Setelah Bagas tidur tenang barulah Narita bicara dengan bari dan pak Rudi.
"pa, terimakasih untuk hari ini. Sudah banyak membantu saya dan Bagas. Bang bari juga terimakasih, sudah banyak membuat bagas bahagia hari ini, terima kasih sudah menyayangi Bagas" ucap Narita perlahan dan jelas.
"Nar, bahkan aku belum melakukan apapun sama Bagas" ucap bari kembali sedih.
"Kebersamaan hari ini sudah membuat Bagas sangat bahagia bang, itu aja sudah lebih dari cukup" ucap Narita lagi.
Mendengar semua ucapan Narita membuat pak Rudi juga angkat bicara akhirnya.
"nak Narita, tolong jangan menganggap kami sudah melakukan sesuatu, itu membuat hati kami sedih, karena aku dan bari sama sekali belum melakukan apa - apa. Justru kalau nak nari izinkan papa ingin bari menanggung biaya hidup kalian, supaya kamu bisa fokus hanya mengurus Bagas. Mungkin dengan cara itulah kami bisa mengurangi rasa bersalah kami membiarkan Bagas sampai sebesar ini" ujar pak Rudi.
"Terimakasih pa, nanti nari akan pikirkan." ucapnya sopan.
"ya sudah, tidurlah, istirahat, besok kita bicarakan lagi" ujar pak Rudi. Dia tahu Narita pasti sudah sangat cape jalan seharian.
"bar, biarkan mereka istirahat, sudah larut" ujar pak Rudi yang mengerti ke galauan hati anaknya.
"iya pa" bari pun mengikuti langkah papanya keluar dari kamar Bagas dan Narita.
Walaupun dengan rasa enggan, bari tetap keluar dari kamar Narita dan Bagas. Dia keluar mengikuti langkah pak Rudi dengan lunglai.
"pa, kenapa kita ngga buka aja satu kamar di sini, toh kita ada kok baju ganti" ujar bari ketika mereka di lorong kamar hotel itu.
Terlihat pak Rudi berpikir sejenak, lalu dia pun senyum kepada bari.
"idemu bagus juga bar, toh tadi pagi kita sudah pamit sama mama mau mancing " ucapnya senyum, yang dibalas senyum juga oleh bari.
__ADS_1
"ya sudah ayo"
Mereka menuju receptionist untuk pesan kamar. Dan mereka memesan kamar kalau bisa di sebelah Narita dan Bagas.
Setelah mendapatkan kunci kamar, bari dan pak Rudi langsung mengambil tas ranselnya di mobil lalu membawanya masuk kamar. Bari yang sudah menjalani perjalanan panjang hari ini juga sudah merasa gerah dan pakaiannya sudah lepek.
Bari langsung mandi pakai air hangat. Setelah itu dia berganti pakaian supaya lebih fresh. Tadinya bari ingin istirahat tidur, tapi mengingat Narita dan bari di sebelah jadi dia urungkan niatnya untuk istirahat. Dia takut Narita menghilang lagi dan meninggalkan hotel saat mereka ketiduran.
Ternyata pak Rudi juga punya pemikiran yang sama. Dia tidak ingin tidur pulas karena takut cucunya dan mantan menantunya pergi diam - diam dari hotel ini.
"Bar, kamu tidur aja dulu ya, supaya besok bisa kamu yang nyetir, papa ngga bisa tidur papa ingin duduk di lobby dulu" ucap pak Rudi.
"oh ya sudah pa, saya tidur dulu, tapi papa jangan sampai ketiduran ya. Saya takut Narita membawa Bagas pergi jauh lagi pa tanpa sepengetahuan kita" ujar bari.
'Sebenarnya itu juga yang aku takutkan bar, tapi aku ngga mau tunjukkan ketakutan ku sama kamu, karena aku ngga mau kamu kepikiran dan down lagi' batin pak Rudi.
"iya, kamu tenang aja bar, Narita bukan wanita seperti itu. Dia sangat menjunjung tinggi kepercayaan, jadi dia tidak akan pergi diam - diam lagi kecuali kita berlaku curang untuk mendekati Bagas" jelasnya
"iya sih pa, aku tahu, tapi bagaimana kalau dia berpegang teguh pada perceraian kami pa, jelas dia tidak ingin terlibat dengan pernikahanku dengan wanita murahan itu" ujar bari.
"itu bisa jadi bar, makanya kamu berdoa aja semoga urusanmu dengan Eva cepat beres, jadi kalian benar - benar single. Mengenai nantinya Narita belum tentu mau balik sama kamu, itu urusan nanti tapi paling tidak Narita itu bukan orang ke tiga di antara kalian" jelasnya lagi.
"doain aku pa, aku ingin bisa bersatu lagi dengan Narita. Aku ingin bangkit lagi pa, aku menyesal membuang waktu sekian tahun percuma, hilang kebersamaanku dengan Bagas dan Narita." ujar bari sedih
"iya bar, papa selalu doain kamu kok" ucap pak Rudi mendukung.
Hai guys
Jangan bosan ya
__ADS_1
like, coment dan vote
Terimakasih🙏