
Bari tiada puasnya memeluk anaknya Bagas dan juga memandang wajah Narita. Dia merasa bersalah atas kondisi kehidupan mereka yang harus bekerja keras, padahal Narita tidak terlalu kekurangan sebenarnya hanya saja jika di bandingkan dengan bari jelas ini agak menyedihkan terutama tempat tinggal mereka.
"kenapa kamu tidak mengontrak rumah yang lebih besar nar" tanya bari
"ini aja sudah nyaman bang, kalau lebih besar lagi ya lebih mahal" ujar Narita tersipu malu.
Bari sebenarnya prihatin dengan kehidupan Narita dan putranya, karena kalau saja tidak karena mamanya mungkin sekarang mereka sudah hidup bahagia membesarkan Bagas bersama dan di rumah yang lebih layak dari ini.
Gaji bari sudah termasuk cukup besar untuk keluarga kecil seperti mereka. Bahkan sekarang penghasilan bari bertambah dari hasil usaha wisata kolam pemancingan yang di bangun bersama papanya. Hanya saja selama ini bari sudah tidak punya tujuan hidup yang membuatnya kehilangan arah.
"apa sejak pergi dari rumah kontrakan kita di kota B kamu langsung ngontrak di sini"? tanya bari.
Awalnya Narita sudah malas untuk cerita karena mau ngga mau dia harus mengingat semua masa lalunya yang sangat pahit.
Tapi melihat keseriusan bari untuk bertanya akhirnya Narita menjelaskan semuanya. Bahkan dulu ketika mereka ketemu di kota B bari tidak pernah menanyakan tentang tempat tinggal mereka.
"Sebenarnya pertama ke Jakarta aku tinggal di rumah kak Ida, karena waktu itu aku juga sangat mabok waktu awal - awal hamil Bagas. Jadi kak Ida ngga tega biarin aku hidup ngekost sendiri. Barulah sebulan setelah itu aku kost di dekat rumahnya kak Ida, dan aku kerja menjaga toko pakaian waktu itu dekat tempat tinggal kak ida." tutur Narita
"kamu kerja saat hamil"? tanya bari merasa sangat bersalah dan prihatin.
"iya bang, aku kerja jaga toko, karena kalau di rumah sendiri aku merasa sedih dan hanya diam doank. Jadi aku pikir aku harus kerja untuk membuka pikiran dengan dunia luar biar jangan stress" lanjutnya
"dan saat kerja di toko itulah aku kenal ayu ini, yang waktu itu masih kecil, masih SMP, tapi dia sudah dagang gorengan keliling" tuturnya lagi.
"setelah aku melahirkan kak Ida menyarankan aku kerja membantu dia aja biar Bagas bisa sambil dilihatin di rumahnya. Dan karena sudah mampu mandiri, aku beli mesin sendiri dengan uang yang di tabunganku dan jadilah kami pindah kontrakan ke sini saat Bagas berumur satu tahun" tuturnya lagi.
"jadi waktu Bagas bayi, kamu sudah tinggal di sini"? tanya bari
"sudah bang"
__ADS_1
Terlihat bari menarik nafas panjang. Betapa bodohnya dia yang bisa menelantarkan anaknya selama enam tahun. Bahkan semua uangnya dia serahkan ke Eva, sementara anaknya tinggal di rumah yang kurang layak menurutnya.
"maafkan aku nar, akulah penyebab semua penderitaan mu" ucap bari akhirnya
"sudahlah bang, sudah berlalu juga. Sekarang aku sudah bahagia memiliki Bagas. Sejujurnya awalnya aku ngga ingin berbagi kebahagiaan lagi sama Abang, terutama Bagas, tapi aku ngga ingin egois bang, toh Bagas juga berhak melihat seperti apa papinya, walaupun dia ngga pernah tanya sih karena aku bilang Abang sudah menikah lagi" jawab Narita jujur.
"terimakasih nar, kamu sudah merawat Bagas dengan sangat baik" ujarnya sendu sambil mengusap kepala anaknya yang ada di atas pahanya, dan ajaibnya ternyata Bagas sudah tidur mendengar papi maminya ngobrol.
"ehhh Bagas ternyata sudah tidur bang, kesiniin aja kepalanya" ujar Narita
"sudah ngga apa - apa, biarin aja di sini dulu, aku juga masih kangen" ucap bari sambil tetap mengusap kepala putranya.
Narita akhirnya membiarkan saja Bagas tidur di situ,
Setelah lama berbincang, Narita masih penasaran kenapa bari ada di Jakarta. Takutnya dia GeEr bari ingin dekat Bagas padahal ternyata bukan, tapi karena hal lain.
"aku ingin suasana baru" jawab bari pendek
"Maksudnya"?
Bari kembali menarik nafas panjang lalu menatap Narita dalam yang membuat Narita salah tingkah.
'ayo hati tolong kerja sama dong, jangan sampai bari mengetahui bahwa hatinya masih bergetar, karena itulah kelemahan dari Narita' batin narita
Tapi ternyata tubuhnya ngga bisa di ajak kerjasama, apalagi melihat tatapan bari yang penuh cinta, jelas membuat Narita masih meleleh.
"Aku akan mengejar cintamu lagi nar"? ucapnya tulus dan to the point membuat Narita makin gugup.
'abang tidak usah kejar bang, sejujurnya cintaku masih tetap milik Abang sampai kapanpun, karena aku sudah menutup hati sangat rapat dengan lelaki mana pun.' batin Narita
__ADS_1
Melihat Narita masih terdiam, bari masih melanjutkan ucapannya dan menatap Narita makin dalam.
"nar, tolong izinkan aku untuk mengejar cintamu lagi, aku ngga berdaya tanpa kamu nar dan hidupku juga sudah seperti mati tanpa kamu. Dan sekarang sudah ada Bagas juga yang mengikat, aku yakin ini semua rencana Tuhan. Jadi aku harus berjuang, anggap aja aku lelaki yang baru masuk dalam hidupmu, dan aku juga akan mengejar kamu sampai mendapatkan cintamu demi anak - anak kita" tutur bari yang sengaja menyebut anak - anak kita.
Narita masih diam dan tersipu malu, tapi dia juga bingung dengan dirinya sendiri. Dia sangat berbunga - bunga dengan semua ucapan bari, dalam sekejap dia lupa semua deritannya di masa lalu, malah barilah yang lebih dulu memberi kepastian mengenai kejadian masa lalu mereka.
"Aku akan menunggu sampai kamu siap menikah lagi denganku, dan kita akan tinggal di Jakarta. Aku sudah urus pindah kerja ke kantor pusat sini, dan aku juga akan kuliah lagi demi menunjang kerjaanku di kantor pusat" tutur bari
"jadi bang bari mau kuliah lagi di sini"?
"iya nar, karena standard pendidikan di kantor pusat itu sangat tinggi" ucapnya lagi.
Narita kembali terdiam, sepertinya bang bari sangat serius kok untuk mereka bersatu kembali.
"Karena aku sudah bertekad untuk kita mulai semua dari awal. Aku akan mengejarmu, mencintaimu, pacaran dan menikah. Lalu kita akan hidup bahagia di sini, jauh dari orang ketiga yang selalu mengganggu kita" ujar bari lagi.
"tapi bang..." ucapan Narita langsung di potong oleh bari.
"tidak ada tapi - tapian nar, aku sudah bertekad bahwa rumah tangga kita adalah aku kamu dan anak kita. Jadi itulah prioritas utama kita, bukan orang lain di luar itu. Aku tahu kamu masih takut, atau enggan atau marah sama mama, dan biarkanlah seperti itu, seiring berjalannya waktu, karena aku tahu hal yang di lakukan mama sudah sangat susah untuk di maafkan. Aku setuju kalau kesalahan itu susah di maafkan, walaupun dia tetap mamaku." ucap bari
"itulah niat utamaku pindah ke Jakarta nar, jadi tolong biarkan aku mengejarmu" ucapnya mantap. Sementara Narita hanya bisa menunduk dan tersipu.
Hai readers setiaku
tetap dukung ya
like, coment dan vote
Terimakasih🙏
__ADS_1