PENYESALAN SEORANG SUAMI

PENYESALAN SEORANG SUAMI
PART 75 KEBAHAGIAAN


__ADS_3

Hari ini bari bersemangat bekerja, sangat bersemangat malah. Sepertinya senyum ngga ada hilang dari wajahnya sedetik pun. Dia baru mau berangkat kerja, tapi dia sudah membayangkan ntar akan langsung pulang cepat begitu kerjaannya kelar.


Bari memasuki parkiran kantornya dengan bersemangat dan begitu turun dari mobilnya, sambil bersiul dia naik ke ruangannya.


Siang hari ketika jam makan siang tiba, bari langsung telepon istrinya Narita.


dddrrttt dddrrttt


"hallo bang"


"hallo sayang, kamu lagi ngapain"


"ini bantu kak Risma menyelesaikan jahitan"


"ohhhh sudah makan"


"belum bang, bentar lagi, tapi nasinya sudah ada"


"makan dulu, nanti sakit" perintah bari


"iya bang"


"tenang aja bar, kakak pasti perhatikan Narita" terdengar kak Risma nyahut dari belakang Narita.


"oke kak, aku ngga mau istriku sakit" ucap bari senyum di sebrang.


"tenang aja, kakak menjaganya lebih dari diri kakak kok, kamu jangan khawatir"


"iya kak, oke sayang, aku kerja lagi ya" ucap bari


"iya bang"


Setelah memastikan istrinya bari langsung keluar makan siang, hanya dekat kantor aja yang penting jangan perut kosong karena bari ingin langsung kerja lagi. Dia harus cepat membereskan kerjaanya supaya bisa cepat pulang.


Dan benar aja, jam lima teng bari sudah go. Dia ingin segera pulang ke rumah. Rumah yang sudah kembali hangat setelah beberapa bulan ini anyep karena istrinya menjaga jarak darinya. Secara fisik mereka memang berdekatan, tapi mereka sangat berjauhan.


Tapi bari selalu sabar menunggu istrinya kembali, karena bari juga sangat mengerti dengan guncangan batin istrinya waktu itu.


Bahkan untuk bari sendiri, sampai sekarang pun bari belum bisa ketemu mamanya, dia belum tahu harus bagaimana menghadapi mamanya. ada marah dan kesal.


Dua jam perjalanan bari sudah tiba kembali di kota B, dimana tempat dia tinggal bersama istrinya.


Begitu sampai rumah ternyata istrinya juga sudah tiba di rumah barusan, terlihat dari tas istrinya yang belum di beresin masih ada di atas meja sofa ruang tamu.

__ADS_1


"Abang sudah sampai" ucap Narita yang baru minum dari dapur


"iyalah, Abang ngebut, Abang ingin segera sampai rumah" bari yang baru membuka sepatunya dan menyimpan di rak sepatu langsung aja memeluk istrinya.


"abangggg" teriak Narita yang setengah kaget dengan pelukan bari.


"Abang kangennnn banget dek"


"nari bau keringat bang, liat nih, nari juga belum mandi, baru juga nyampe" cerita nari


"Abang ngga peduli" bari sudah mengendus tengkuk istrinya membuat nari merasa geli. Tapi nari harus tegas, dia juga ngga mau suaminya mencium dia bau keringat begini, akhirnya dia tahulah jurus melepaskan suaminya. Kalau tidak nari sudah tebak gimana akhirnya ini.


"bang, nari harus mandi sekarang, takut kemaleman nari ngga kuat, nanti menggigil" ucapnya membuat bari langsung melepaskannya.


"ohhh iya ya dek, ayo mandi dulu, nanti kemaleman, belum bagus buat kamu mandi malam" Bari akan langsung kalah kalau itu mengenai kesehatan Narita, mungkin karena dia lebih perduli Narita daripada dirinya sendiri.


"tapi aku belum bikin kopi Abang"


"nanti aja Abang bikinin, kamu mandi dulu" bari langsung membawa istrinya ke kamar mandi lalu dia keluar lagi.


Dia ingin menyiapkan baju istrinya, dia takut nanti istrinya sampai kedinginan.


Tapi dasar bari tidak faham dengan menyiapkan pakaian, karena biasanya semuannya di siapkan oleh Narita.


Begitu kopinya jadi bari ingin mandi dulu sambil menunggu dingin, dia masuk lagi ke kamar melihat istrinya sedang membuka lemari pakaiannya.


"dek ngga suka daster yang Abang siapin"? tanya bari polos


"suka bang, tapi masa pakai daster doank gada **********" ucap Narita sambil tetap mencari.


"oh iya ya" bari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Ternyata banyak hal kecil yang belum terbiasa dia lakukan.


Bari langsung menyambar handuknya dan masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah mandi semua keperluannya sudah di siapkan oleh Narita di tempat tidur.


Bari mencari keberadaan istrinya ternyata sedang berada di dapur, menghangatkan makanan.


Bari ngga perduli, dia langsung memeluk istrinya dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu istrinya.


"bang sana dulu, disini panas"

__ADS_1


"iya sih disini panas, tapi aku suka" ucap bari lagi.


Bari langsung mematikan kompor itu dan mencium bibir istrinya itu.


Narita hanya bisa mengikuti kemauan suaminya yang menuntunnya duduk di meja makan. Bari langsung duduk di kursi itu dan menarik Narita ke pangkuannya.


"aku kangeeenn banget" ucap bari


"Abang dari kemarin kangen Mulu, padahal tiap hari sama - sama" ucap Narita lagi.


"Kamu ngga tau sih dek rasanya gimana, kamu di dekatku tapi ngga bisa aku peluk" ucap bari membuat Narita melorot dari pangkuan bari untuk berdiri menghadap bari.


Narita menatap mata bari dengan intens.


"Kemarin - kemarin nari juga sangat bingung bang" ucapnya sendu.


"sekarang jangan bingung lagi ya, kita harus kuat, kita lewati bersama, oke" ucap bari ikut berdiri berhadapan dengan Narita. Lama saling menatap , akhirnya tatapan mereka yang penuh cinta membawa bibir mereka kembali menyatu.


Bari mengangkat tubuh istrinya dan mendudukkanya di meja makan itu. Hangatnya pelukan dan hati mereka membuat suasana jadi tambah panas. Akhirnya bari menggendong istrinya itu di depan menuju kamar mereka.


Di dalam kamar tidak ada lagi perkataan yang keluar dari mulut mereka, yang ada hanya saling mencurahkan kasih sayang mereka lewat tindakan dan juga perlakuan. Sentuhan - sentuhan bari yang selalu membawa Narita lupa segalanya bahkan Narita juga sangat terbuai dan bahkan membalas sentuhan itu juga.


Kerinduan yang sudah begitu lama mereka rindukan tersalurkan kembali, tanpa ada rasa takut atau tertekan. Di rumah itu hanya mereka berdua. Saling memberi dan menerima.


Bari seperti pengantin baru yang memiliki stock energi, sehingga permainan mereka harus berdurasi panjang. Narita memang sudah lelah tapi dia masih berusaha mengimbangi suaminya.


Hampir satu jam mereka bertukar segalanya, akhirnya bari merasakan sesuatu yang harus dia keluarkan. Dia berharap istrinya cepat mendapatkan pengganti anak mereka kemarin. Tapi kalaupun tidak bari ingin hidup mereka tetap bahagia.


"terimakasih sayang" ucap bari sambil mengecup kening istrinya dan beranjak ke kamar mandi. Narita hanya tersenyum bahagia. Karena merasa cape dia masih enggan untuk bergerak ke kamar mandi.


Melihat istrinya belum bergerak, bari langsung berinisiatif membantu istrinya ke kamar mandi, biar cepat.


"kamu pasti kecapean" ujar bari saat di kamar mandi. Nari hanya tersenyum menanggapinya.


"Habisnya, kamu sekarang sangat menggoda sayang, Abang jadi ingin terus" ucap bari lagi sambil membersihkan tubuh istrinya, setelah itu memakaikan handuk dan menuntunnya keluar kamar mandi.


Hai readersku semua


Dukung terus ya


like, coment dan vote


Terimakasih🙏

__ADS_1


__ADS_2