
Bari, Narita dan pak Rudi terdiam di tempat masing - masing. Tidak ada yang bisa bicara, seolah - olah bibir mereka kelu untuk bicara, tapi hati mereka semua tidak diam dan jantung masing - masing sudah bergemuruh.
Akhirnya bagaslah yang jadi pembuka pembicaraan. Bocah yang tidak tahu ada persoalan apa di masa lalu mereka.
"mami, ayo jiarah ke makam nenek biar kita pulang, disini banyak ulatnya mi" ujar Bagas sambil garuk kepala menyadarkan Narita dan bari.
"iy..." belum sempat Narita menjawab iya nak kepada Bagas, bari sudah memanggilnya dengan lembut.
"nar" ujar bari ingin mendekat dengan rasa haru.
Narita jangan di tanya lagi, kalau mengikuti hati kecilnya ingin rasanya nari berlari ke pelukan bari untuk menumpahkan segala kerinduan dan kemarahannya. Tidak bisa di bohongi kalau hati kecilnya masih sangat mencintai bari. Karena jujur dari hatinya yang paling dalam Narita juga tahu barita masih sangat mencintainya. Tapi itu tidak mungkin karena mereka sudah tidak ada ikatan sama sekali.
Sekian menit berikutnya Narita sudah sangat sadar, jadi dia berusaha untuk menekan hati dan perasaannya supaya tidak bergetar di depan bari. Jangan sampai terbawa perasaan, karena sekarang sudah beda cerita. Bang bari juga sudah menikah dengan Eva.
'Tolonglah hati kerjasamanya, jangan buat aku lemah di depan bang bari' batin Narita.
Bari beda lagi cara berpikirnya, dia sudah sangat terharu melihat anaknya Bagas tumbuh dengan baik, begitu juga Narita sekarang terlihat sangat cantik dan makin bersinar wajahnya.
Entah apa yan bari pikirkan, yang pasti sekarang dia sangat bahagia melihat kedua orang yang dia cintai terlihat hidup dengan baik.
"ayo mi" ujar Bagas lagi membuat Narita tersadar dari lamunannya.
"maaf" ujar Narita ke arah bari.
"apa kabar nak nari"? tanya pak Rudi mendekat. Pak Rudi belum puas melihat cucunya itu, jadi dia mendekat dan menatap cucunya intens, dia belum ingin mereka berlalu dari sana. Dia ingin memeluk cucunya.
"baik pak" jawab Narita lembut. Dia tidak bisa mengabaikan pak Rudi, karena selama menjadi istri bari, pak rudilah yang selalu mengerti Narita dan barita.
Narita menarik tangan Bagas untuk mencium tangan pak Rudi, di susul Bagas yang di belakang Narita.
Pak Rudi menyalami Narita penuh haru, dan memeluk Bagas tanpa bisa dia bendung lagi tangisnya, dia sudah tidak perduli lagi apa nanti kata Narita, kerinduannya untuk memiliki seorang cucu ternyata sudah di jawab oleh Tuhan. Dan lihatlah cucunya sudah sebesar dan seganteng ini.
__ADS_1
Perilaku pak Rudi jelas membuat Bagas bingung, apalagi sekarang maminya dan juga bari ikut menangis. Menangisi apa, apa karena sekarang mereka sedang di pemakaman seperti yang sering dia lihat, di kuburan orang sering menangis.
Bagas menatap wajah pak Rudi, yang belum melepaskannya. Sementara Narita yang belum tahu kalau pak Rudi dan bari sudah tahu tentang keberadaan Bagas, merasa trenyuh karena dia berpikir ini hanya karena ikatan darah yang sangat kuat. Apalagi wajah Bagas yang banyak miripnya dengan wajah bari, terutama senyumnya.
"kenapa kamu ngga pernah cerita sama bapa nar"? tanya pak Rudi akhirnya di sela - sela melepas pelukannya terhadap Bagas walau dia belum melepas pegangan tangannya dari cucunya itu.
Narita terdiam, karena ini semua terlalu tiba - tiba baginya. Sedikit pun tidak ada dalam bayangannya kalau mereka ketemu dalam kondisi begini, di pemakaman. Tapi Narita bisa menebak kalau mertuannya itu tahu kalau Bagas adalah cucunya, dilihat dari caranya memeluk Bagas dan juga perlakuannya kepada Bagas.
"maaf pak" ucap Narita sendu, tapi langsung di potong oleh bari. Bari tidak terima kalau papanya menyalahkan Narita dalam masalah mereka, karena sampai kapanpun bari tidak terima ada orang yang menyalahkan Narita lebih dari dirinya.
"pa, ini bukan salah Narita, ini semua salah bari yang tidak bisa tegas, tidak berani tegas mengambil sikap terhadap orang sekitar bari" ujarnya lebih mendekati Bagas.
"Sehingga tanpa bari sadari, korban yang paling sakit adalah orang - orang yang paling berharga dalam hidup bari" ucapnya sudah menangis menatap anaknya Bagas. Bagas yang tidak mengerti apa - apa jelas makin bingung dalam gandengan pak Rudi yang belum melepas tangannya.
Narita hanya terdiam di tempatnya. Dia sama sekali tidak menyangka ternyata begini cara pertemuan pertama bagas dengan papinya. Dia juga tidak mungkin melarang bari untuk memeluk anaknya, karena biar bagaimana pun ikatan darah itu akan sangat kuat walau gimana pun cara kita memisahkannya.
"Nar, tolong jangan halangi aku untuk memeluk Bagas" ucap bari melihat ke arah Narita lalu ke arah bari lagi.
"Ikatan darah itulah yang mendorongku sekarang ada di pemakaman ini nar, tadinya aku kangen banget sama anak kita yang di makam kan di sana, dan ternyata Tuhan kasih aku hadiah lain" ujar bari lagi.
"Tapi saya bersyukur kan pa, ternyata Tuhan jawab doaku untuk bertemu anakku secepat ini. " ucap bari kepada papanya.
Narita terkesiap, bari benar sudah sadar kalau Bagas itu anaknya, apalagi yang harus di tutupi.
Pak Rudi juga sangat terharu melihat anaknya. Dia melihat cinta dan kerinduan yang besar di mata bari dan Narita, tapi sayangnya sekarang mereka sudah di halangi tembok besar karena mereka sudah resmi berpisah. Tapi bukankah semuanya sudah skenario Tuhan, toh kita tidak tahu juga apa yang terjadi di hari esok. Kita hanya manusia yang bertugas untuk menjalankannya di rel yang benar.
"bang bari, papa, Bagas memang anakku dan bang bari, tapi sekarang ceritanya sudah berbeda pa" ujar Narita sedih, yang secara tidak langsung sudah mengatakan siapa Bagas dan tentang pernikahan bari dengan Eva dan bahkan mereka sudah tidak terikat satu sama lain.
"Nar, bar, sebaiknya kita bicara di warung itu dulu nak" ujar pak Rudi menunjuk warung yang berada di sebrang pemakaman itu.
"maaf om, saya ingin ke makam orang tuaku dan nenekku dulu, nanti juga aku ingin ke makam anakku" ucap Narita.
__ADS_1
"baiklah nak, ayo kita ke makam keluargamu dulu, baru nanti ke makam cucuku, dia di makamkan di samping kakeknya bari" tutur pak Rudi, sementara Narita hanya mengangguk.
Akhirnya mereka menuju makam keluarga Narita, dengan Bagas tetap di gandeng oleh pak Rudi. Pak Rudi tidak ingin berpisah dengan Narita dan Bagas sampai mereka punya kesepakatan.
Karena makam keluarganya agak di pojok harus melewati rerumputan membuat Bagas enggan karena takut ada ulat lagi.
"mami, takut ulat besar" ucap Bagas melirik kiri dan kanan.
Tanpa menunggu jawaban Narita pak Rudi langsung ingin menggendong Bagas di punggungnya.
"ayo naik punggung kakek" ujar pak Rudi langsung jongkok di depan Bagas.
"tapi pak, Bagas berat, tidak usah sayang ya, kasian kakek, kamu sudah besar, ikutin langkah mami aja, kalau mami sudah lewat berarti nggada ulat, iyakan"? tutur Narita memberi pengertian kepada anaknya dengan berusaha senyum.
Bagas terlihat ragu untuk melangkah.
"ya sudah pa, samaku aja, aku masih sangat kuat" ujar bari langsung mengangkat Bagas gendong depan.
Bagaspun langsung melingkarkan tangannya di leher bari. Tidak terkira rasa bahagia bari ketika menggendong anaknya sendiri. Apalagi Bagas juga memeluknya sangat erat.
Pak Rudi makin terharu melihat senyum anaknya bari yang entah sudah berapa tahun hilang. Dan sore ini senyum itu terlihat sangat tulus ketika bersama cucunya.
'Terimakasih Tuhan' doanya dalam hati.
Selamat malam guys
Selamat Idul adha juga
Sambil bakar sate, boleh lah baca kisah bari dan nari.
Jangan lupa like, coment dan vote juga
__ADS_1
Terimakasih🙏