
Setelah sampai di rumah sakit, Eva yang masih setia di sana membuat sedikit drama yang membuat ibu Marlina agak mual, sehingga perhatian mereka semua tercurah ke pada ibu Marlina dan memilih menjaga ibu Marlina di rumah sakit.
Sampai malam agak larut pak Rudi dan bari masih menunggu hasil pemeriksaan dokter Eva. Sampai akhirnya dokter Eva bilang lagi kalau ibu Marlina sudah tidak apa - apa, semua baik - baik aja.
Bari yang memang sudah memberitahukan Narita bahwa dia ingin menjaga ibunya yang sedang sakit, langsung tiduran di sofa ruang rawat ibu Marlina tanpa cuci muka atau mandi, karena niat awalnya hanya untuk istirahat.
Mungkin karena cape seharian bekerja, bari langsung tertidur begitu rebahan di sofa itu. Sehingga dia lupa untuk telepon Narita.
Sementara di tempat lain, di rumah Narita dia sedang sedih namun berusaha untuk bergerak cepat. Dia harus menyiapkan semuannya, karena dia ingin pergi sejauh mungkin dari hadapan bari dan keluarganya. Sejauh - jauhnya, bahkan kalau bisa Narita ingin pergi ke tempat dimana tidak pernah mungkin ada pertemuan dengan keluarga bari lagi.
Bukan karena Narita benci sama bari, tapi justru karena Narita ingin bari hidup bahagia dan hidup normal dengan istrinya nantinya. Tidak selalu direcoki oleh ibu Marlina mamanya.
Menurut Narita dengan kepergiannya, bari pasti akan menikah dengan Eva. Mungkin awalnya memang agak berat, tapi lama kelamaan bari pasti bisa juga mencintai mantan pacarnya.
"apa kamu sudah sangat yakin nar"? tanya kak Risma
"sudah kak, saya harus pergi"?
"terus nanti kamu ngomong apa sama bari"?
"aku sudah tulis surat kak"
"ya sudah, kalau kamu sudah siap. aku akan antar kamu ke bandara. Ida juga nanti akan menjemput kamu besok di bandara" ida itu adalah orang yang berhasil setelah belajar menjahit sama risma untuk usaha sendiri, sekarang hidup di Jakarta, dengan membuka usaha menjahit juga.
Ida sudah termasuk sukses, karena dia sudah punya konfeksi sendiri setelah menikah dengan suaminya yang mampu memberikan dia modal yang cukup.
Akhirnya persis tengah malam Narita sudah keluar dari rumah itu dengan taxi on line. Kak Risma sengaja tidak menggunakan mobilnya sendiri.
Narita memandangi setiap sudut rumahnya sebelum melangkah keluar. Dan dia sudah meninggalkan sepucuk surat untuk suaminya barita.
"kalau kamu pusing, kamu ngomong ya" ucap Risma yang tak tega membiarkan Narita berangkat sendiri dan memutuskan mengantar ke bandara.
Dan pagi subuh mereka sudah tiba di bandara, karena Narita akan terbang dengan penerbangan pertama.
"nar, kamu harus janji ya , tetap hubungi kakak kalau kamu ada kesulitan" ucap Risma sedih.
Sebenarnya Risma sedih ngga berhasil menjaga Narita. Padahal dulu dia sudah cukup senang ketika hidup Narita menumpang padanya, dia bisa mengawasi Narita dan menjaga Narita.
"iya kak" ucap Narita sedih menahan tangis.
__ADS_1
Akhirnya dia harus menyebrang pulau meninggalkan orang yang dia cintai sekaligus orang yang sangat membencinya.
'selamat tinggal bang bari, semoga setelah kepergian ku bang bari hidup bahagia bersama orang lain' batin Narita
'selamat tinggal semua kenangan pahit, semoga semuannya cepat berlalu, paling tidak aku masih memiliki anakku untuk menjadi temanku' batin Narita sangat sedih.
Ingin rasanya dia berbalik kalau ingat bari, tapi begitu ingat foto - foto dan video kemarin hatinya langsung bulat lagi untuk segera pergi dari kota ini.
'Semoga nanti di tempat yang baru kita bisa bahagia ya nak' gumam Narita sambil mengelus perutnya perlahan.
'Maaf kalau mama memisahkanmu sejak dini dengan ayahmu, ini karena mama ingin kamu bisa menemani mama nanti di hari tua mama' gumam Narita lagi.
'kita harus pergi sayang, harus, kamu yang kuat ya dan jangan rewel' batinnya lagi.
"kak, apapun alasannya tolong jangan kasih tau bang bari ya, karena saya tidak mau perjalanan saya ini sia - sia" ucapnya penuh permohonan.
"iya, kakak juga ngga mau kamu terus bersedih" tutur kak Risma sambil memeluk Narita dan mengusap punggungnya.
"terimakasih kak untuk semuannya, kakak selalu dukung Narita" ujarnya berurai air mata.
"sama - sama"
Sekali lagi Risma memeluk erat Narita sambil mereka berdua bertangisan.
"huk huk huk kamu harus bahagia ya dek" ujar Risma sambil mengurai pelukan mereka.
"iya kak" Narita langsung berlalu karena tidak kuat untuk meninggalkan kak Risma yang super baik, yang selalu ada untuknya.
'Semoga kamu bahagia di sana nar' batin kak Risma.
Kak Risma masih standbye di bandara sampai pesawat yang membawa Narita hilang dari pandangan matanya.
Dia tidak langsung pulang, tapi karena hari sudah mulai terang kak Risma langsung telepon Ida temannya.
dddrrttt dddrrttt dddrrttt
"hallo RIS"
"da, tadi adikku Narita sudah terbang, mungkin akan tiba dua jam dari sekarang, tolong bantu dia ya"
__ADS_1
"ohhh oke RIS"
"seperti yang aku bilang ya da, dia itu lagi hamil muda, tolong bantu dia ya da, jangan sampai dia kehilangan anaknya lagi. kasian dia da" ujar kak Risma sedih
"ya ampun, kasian banget"
"makanya da, aku bantu dia ke rumahmu, supaya suaminya ngga bisa melacaknya" ujar kak Risma.
"tapi kalau mereka saling cinta, kenapa harus di pisah sih RIS"
"kan aku sudah ceritakan da, mertuannya ngga pernah setuju, bahkan anaknya meninggal karena mertuannya ngga terima, dan sekarang mertuannya pura - pura sakit untuk mendekatkan bari dengan dokter itu, mantan pacar bari"
"tapi barinya ngga setuju kan"?
"memang dia ngga mau da, tapi dia ngga bisa tegas, itulah yang selalu membuat Narita tertekan dan menderita" ucap Risma
"ohhh ya sudah, nanti di sini aku bantu dia"
"bantulah cari kontrakan sama teman dulu, biar ada temannya, ngga sendirian" ucap Risma.
"nanti kalau mengenai biaya, kalau duitnya kurang bilang aku aja, tapi dia ada duit sih" lanjut Risma lagi.
"iya RIS, nanti aku urus ya, percaya sama aku" ucap Ida yakin.
Setelah panggilan mereka selesai, Risma langsung bangkit untuk pulang. Dia harus balik dengan angkutan bandara menuju terminal bus antarkota untuk naik bus lagi menuju kotannya.
Dalam perjalanan pulang, Risma masih merasa sedih karena Narita harus pergi. Tapi biar bagaimana pun itu demi kebaikan Narita juga.
Toh disini bari benar - benar mengabaikannya, buktinya aja sampai sekarang bari tidak ada mencari Narita sama sekali. Hanya kemarin siang dia chat Narita memberitahu akan menjaga ibunya yang sakit.
'yang terbaik memang Narita pergi, aku yakin nanti dia bisa bahagia' batin risma
Saking cape menangis Risma akhirnya tidur sampai tiba di terminal. Barulah dari sana dia di jemput oleh anak buahnya.
Hallo semua
Dukung terus ya
like, coment dan vote
__ADS_1
Terimakasih🙏