
Sementara ibu Marlina bingung sendiri di rumahnya, bari masih berusaha menghibur Narita yang masih banyakan diam di rumah sakit.
"sayang, kamu harus makan banyak ya, biar kamu cepat pulih" ujar bari berusaha membuat istrinya itu bicara lagi.
Tapi sepertinya Narita masih enggan untuk bicara, apalagi kadang di bagian perutnya masih suka terasa nyeri, akhirnya dia terlihat banyak diam.
Bari juga tidak kehabisan akal, dia ngga mau istrinya itu terus diam dan memendam sendiri semuannya. Bari tahu ini pasti sangat berat banget untuk istrinya, yang dulu sampai pergi dari rumah demi menyelamatkan kandungannya, tapi begitu bari bertemu dengannya malah membuka jalan bagi mamanya bari untuk melakukan ini semua.
Sejujurnya bari juga tidak kalah terpukulnya, apalagi kalau benar ini semua ulah sang mama. Bagaimana coba bari harus menghadapinya, anaknya meninggal akibat kelakuan mamanya. Di satu sisi ibu yang sudah melahirkan dan membesarkannya sedangkan disisi lain anaknya, harapannya di masa depan.
Apakah bari boleh marah sama mamanya?
Apakah bari tidak boleh kecewa dengan semuannya?
Apakah bari harus terima begitu aja?
Kebencian mamanya kepada Narita memang sangat sulit di terima akal sehat, tapi kenyataannya itulah yang terjadi dan bari harus hadapi. Bukan tidak pernah dia minta pengertian mamanya, tapi memang mamanya tidak mau mengerti.
Bari sangat bahagia bisa menemukan Narita kembali, setelah pergi dulu dari rumah, tapi dia juga jadi sedih akibat dari pertemuan itu membuat mamanya juga melakukan hal ini semua, sampai mereka harus kehilangan anaknya.
Lalu harus gimana?
Haruskah bari marah sama mamanya atau memberi pelajaran sama mamanya?
Haruskah bari menceraikan Narita supaya mamanya tenang dan tidak membuat masalah lagi?
Lalu bari, perasaan dan cinta bari , bagaimana?
Apakah bari tidak boleh bahagia?
Berbagai pertanyaan yang ada di otak bari membuat semuannya ini jadi sangat ruwet dan ga bisa menemukan titik solusinya.
Saat otak bari masih mumet dengan semua itu, kak Risma yang tadi izin pulang sebentar sekarang ada di rumah sakit lagi.
"Bar, sekarang kamu istirahat aja, biar kakak yang jaga nari, dari kemarin kamu belum mandi dan istirahat" ujar kak Risma
Sebenarnya bari masih enggan beranjak dari sana, tapi ucapan kak Risma ada benarnya juga, dia harus mandi, karena badannya sudah sangat lengket.
__ADS_1
"Iya kak"
Bari akhirnya beranjak dan ingin mandi, tapi dia tidak ada pakaian. Akhirnya bari telepon ibu may untuk membawakan beberapa baju kaos ke rumah sakit untuk salin.
Saat menunggu ibu may datang, bari duduk di kursi di ruangan itu dan akhirnya dia tertidur.
Kak Risma sebenarnya kasian lihat bari, dia terlihat sangat terpukul, tapi mau gimana lagi Risma juga ngga bisa berbuat apa - apa, karena ulahnya mamanya bari itu.
Kak Risma tidak ingin Narita terus disakiti dan menderita. Biar gimana pun dia harus membantu Narita.
Kak Risma mendekat ke bed pasien dan melihat Narita sebenarnya sudah bangun.
"kamu sudah bangun nar, mau minum"? tanya kak Risma.
"hhmmm, iya kak" ucapnya lemah sambil ekor matanya menangkap keberadaan tubuh bari yang tidur di kursi penunggu pasien itu.
"bilang aja bang bari pulang kak" ucap Narita perlahan
"dia ngga mau nar, aku dah bilang"
Risma memang sengaja dekat dengan bed Narita supaya bisa mendengar ucapan Narita.
"sudah, ngga usah dipikirin ya, yang penting kamu sehat dulu" ucap kak Risma bijak untuk menghiburnya.
"tapi anakku sudah nggada kak" balas Narita sedih kembali berurai air mata.
Risma juga jadi ikut sedih, ketika melihat Narita sedih. Bagaimana tidak sedih ketika seorang ibu kehilangan anak yang sudah lama dia dan suaminya dambakan. Lalu sekarang harapan apa yang dia miliki? bahkan ketika dia hamil anak biarpun ibu mertuannya tetap ingin memisahkan mereka.
Narita jadi pusing kalau mengingat semuannya. Dan sangat susah juga untuk mencari solusinya.
"sabar nar, mungkin dia memang bukan milik kita" ucap Risma
"tapi kenapa harus dengan cara seperti itu"?
"itu semua rencana Tuhan nar" Risma semakin ikut sedih lagi.
Sore harinya pak Rudi sudah sampai lagi di rumah sakit. Dan dia melihat putranya sedang tidur dengan posisi duduk di kursi tunggu pasien. Setelah menyapa Narita dan menanyakan kabarnya, yang hanya di jawab dengan anggukan, pak Rudi langsung membangunkan anaknya.
__ADS_1
"bar, bar" panggil pak Rudi
"enghhhhhh iya pa" jawabnya setelah sadar dan melihat papanya sedang menatapnya.
"kamu belum mandi, mandi dulu sana" ucap pak Rudi
"bajunya belum datang pa, buat ganti" jawab bari yang di dengar kak Risma.
"itu bajunya bar, tadi diantar ibu may" jawab Risma
"ohhhh Bu may sudah datang"? tanya balik bari. Tadi saat ibu may datang sepertinya tidur bari sangat pulas.
"sudah dari tadi, tapi kamu tidurnya pulas banget" kata kak Risma.
Dengan enggan karena seluruh tubuhnya seperti tidak bertulang karena cape dan mungkin juga masuk angin, bari tetap bangkit dan menuju kamar mandi.
Setelah selesai mandi barulah bari terlihat lebih segar dan tidak lusuh. Setelah itu dia langsung mendekati bed Narita.
"gimana perasaanmu dek, sudah lebih baik kamu"? tanya bari sambil mengelus rambut Narita. Tidak bisa di pungkiri cinta dan perhatian bari ke Narita memang sangat tulus, siapa pun tidak bisa menyangkal itu. Tapi kenapa ibu Marlina selalu ingin memisahkan mereka? inilah akibat ego dari seseorang yang sudah di kuasai amarah. Sudah tidak memperdulikan seberapa sakit orang lain akibat ulah kita.
Narita masih enggan bicara, dia bingung menghadapi bari. Dia sangat mencintai bari, tapi bari juga tetap anak ibu Marlina yang sudah membuat Narita disini dan mengalami semua hal ini.
Walaupun Narita belum mau bicara, bari yakin itu karena bebannya yang sangat berat. Bari sebenarnya ingin memikul beban Narita, tapi gimana, sekarang bahkan Narita aja tidak menjadikan bari sebagai sandarannya.
"sayang, kamu jangan menyerah ya, nanti Abang tambah bingung. Kita lewati ini bersama, aku mohon jangan menyerah" ujar bari di dekat telinga istrinya.
"Tetaplah menjadi naritaku yang baik dan ikhlas, dan naritaku yang sangat aku cintai dan mencintaiku," ujar bari terus di dekat telinga Narita membuat Narita terharu dan sedih sampai mengeluarkan airmata lagi.
"menangis lah sekarang, biar aku yang hapus airmatamu, tapi jangan menangis di belakangku ya, nanti airmatamu terus mengalir tanpa bisa aku hapus" ucap bari lagi sambil terus menghapus air mata Risma dan kadang langsung mengecup pipinya. Risma dan pak Rudi yang menyaksikan adegan itu ikut terharu dan menangis.
'maafkan papa nak, papa gagal sebagai suami, untuk mengatur istri papa, sehingga dia melukai cinta tulus kalian' batin pak Rudi sambil meneteskan bulir air mata.
Hai semua, dukung terus ya
like, coment dan vote
Terimakasih🙏
__ADS_1