Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Fungsi Tanda Merah


__ADS_3

Nia mengambil bahan makanan dari kulkas. Ada daging slice, nugget dan tak lupa aneka bahan masakan seperti bawang. Ia sudah memasak nasi di rice cooker hanya menunggu matang saja.


Nia berencana membuat daging teriyaki. Salah satu makanan favorit almarhum Papa dulu. Sedang fokus menumis bawang tiba-tiba Nia dikagetkan oleh Daniel yang memeluknya dari belakang.


"Astaga... Kamu ngagetin aku aja." Nia menepuk pelan tangan Daniel sebagai reflek kagetnya.


"Laper...." kata Daniel dengan suara manjanya.


"Iya sabar atuh. Ini sebentar lagi matang."


Sambil memeluk Nia Daniel iseng menggigit lembut telinga Nia.


"Geli ih. Kamu gangguin aku masak aja. Katanya lapar. Mau cepet ga?" Nia memukul lagi tangan Daniel.


"Habis kamu ngegemesin. Pengen aku gigit." Daniel tak juga melepaskan pelukannya. Malah sekarang Ia mencium rambut Nia yang wangi shampo.


"Besok aku ke Bali nih. Kamu mau ikut ga?" Daniel mengangkat beberapa helai rambut Nia dan diciumnya. Ia suka wanginya.


"Aku kan kerja sayang. Cuti aku cuma 2 hari saja. Kalau aku tidak hemat cuti nanti kalau mau jalan-jalan gimana?" Nia mematikan kompor gas karena sudah matang. Ia lalu menyajikan masakannya di piring, sebelumnya Ia melepas tangan Daniel dahulu.


"Ayo kita makan."


"Siap."


Nia mengambilkan nasi dan lauk untuk Daniel lalu ikut makan bersama. Daniel mencoba masakkan Nia. Selain nasi goreng ikan asin Ia belum pernah mencoba masakkan Nia lagi.


"Hmm... enak loh sayang. Mirip kayak yang di restaurant yang ada di mall. Wah kamu pintar masak ya. Gak sia-sia deh aku nikahin kamu." puji Daniel.


"Bisa banget kamu mujinya. Kayak SPG Mall aja kalau lagi nawarin barang. Maniiiiiiisss banget..."


"Ah orang manis mah gak usah di manis-manisin juga udah pasti manislah."


"Iya...iya...iya..."


"Abis ini kita ngapain?" Daniel sudah hampir menghabiskan makanannya.


"Terserah." Nia masih menikmati makan siangnya. Ia sangat kelaparan.


"Bener nih terserah?" Daniel mengerling jahil ke arah Nia. Tersadar akan maksud ucapan Daniel Nia buru-buru mengoreksi ucapannya.


"Ma.. maksudnya kamu terserah mau ngapain. Aku mau jalan-jalan aja." Daniel tersenyum jahil melihat Nia yang grogi sendiri.


"Emangnya kamu gak capek? Enakkan juga bobo siang sama aku daripada jalan-jalan." Daniel sudah selesai makan, Ia langsung mencuci piringnya sendiri.


"Kayaknya kalau bobo siang sama kamu bakalan lebih capek deh daripada aku jalan-jalan he..he..he.." Nia membawa piring bekas makannya dan berniat mencuci piring di samping Daniel.

__ADS_1


"Memangnya kamu mikir apa Beb? Hayo...kamu pengen diboboin siang sama aku ya?"


"Ih... ge er... Ayo dong kita jalan-jalan. Jangan ngamar melulu." Selesai menaruh piring yang sudah dicuci Nia mulai merengek minta jalan sama Daniel.


Daniel mematikan keran sehabis mencuci piring. "Mau kemana sih?"


"Ke Mall."


"Gak ah. Bosen."


"Hmm... ke Pantai?"


"Panas. Nanti aku gosong lagi kulitnya." Daniel memamerkan kulitnya yang putih mulus untuk ukuran seorang cowok.


"Yaudah deh berenang aja di apartemen." Nia mulai sebal semua ide yang Ia ajukan ditolak Daniel.


"Kan udah renang semalam." ah selalu saja ada jawaban Daniel.


"Kamu yang sudah berenang semalam. Aku kan belum." Nia mulai cemberut karena permintaannya tak juga dipenuhi Daniel.


"Aku punya ide. Kamu kan gak mau bobo siang. Mau gak?"


"Apa?" Nia mulai bersemangat ingin mendengar ide Daniel. Matanya pun berbinar-binar layaknya mata anak anjing yang melihat mainan.


"Kita berendam di bath up aja, gimana?" Daniel tersenyum jahil sambil mengedip-ngedipkan matanya.


"Ih ngambek." Nia diam saja malas menanggapi kejahilan Daniel.


"Yaudah ayo kita jalan-jalan!" Nia masih diam. Ia takut dikerjai lagi oleh Daniel.


"Gak mau nih?" Nia pura-pura tak bergeming padahal hatinya deg-degan.


"Ya sudah kalau gak mau mah...."


"Mau.... " Nia langsung menjawab spontan. Ah gampang sekali Dia dikerjai Daniel. Daniel menahan tawanya takut Nia ngambek lagi, padahal dalam hati Daniel menertawakan kelucuan Nia.


"Ayo. Aku ambil kunci mobil sama Hp dulu ya." Daniel bangun lalu pergi ke kamar. Nia langsung mematikan TV dan mengikuti Daniel masuk ke kamar hendak mengambil tas dan hp juga.


Daniel yang tau Nia mengikuti dari belakang tiba-tiba berhenti. Nia langsung menabrak punggung Daniel akibat berjalan cepat tanpa rem. Daniel kembali tertawa melihat ulah Nia.


"Jahil banget ih jadi orang. Sakit nih hidung aku!" Nia memegang hidungnya yang memerah.


"Kamu lucu banget sayang. Ayo kita pergi. Kali ini aku gak kerjain kamu lagi deh. Janji." Daniel mengecup hidung Nia yang merah. "Tuh udah aku obatin."


******

__ADS_1


Nia baru saja keluar apartemen dan menunggu Daniel menutup pintu ketika mendengar suara dari orang yang dikenalnya.


"Eh ada pengantin baru. Mau kemana?" Ronald baru saja keluar dari lift hendak ke apartemen Anita.


Nia dan Daniel diam saja tidak menanggapi ucapan Ronald.


"Kok malah jalan-jalan sih? Dulu waktu kita malam pertama sampai tidak keluar rumah 2 hari loh. Kamu masih ingat kan, Ni?" Ronald berusaha memancing emosi Nia dan Daniel.


Nia tak mau mendengar perkataan Ronald, namun tidak dengan Daniel. Wajahnya memerah menahan marah, cepat-cepat Nia menggenggam tangannya untuk meredakan emosi Daniel.


"Oh iya aku lupa. Kalian udah ngapain aja selama menikah? Main kartu atau main monopoli?" Ronald tertawa mengejek.


Daniel mulai terbakar emosi namun tangan Nia yang menggenggamnya erat membuatnya berpikir ulang. "Ayo sayang kita pergi sekarang. Gak usah ditanggepin. Bikin gerah saja!" Nia melepaskan tangan Daniel dan hendak menguncir rambutnya.


Pandangan Ronald terpaku pada leher Nia yang banyak dipenuhi kissmark hasil perbuatan Daniel semalam. Ronald tak dapat berkata-kata lagi. Kissmark di leher Nia adalah sebuah jawaban kalau Daniel bukanlah penyuka sesama jenis seperti yang Ia kira.


"Ayo sayang. Gerah nih!" Nia berakting mengipas-ngipas lehernya padahal Ia sedang memamerkan hasil karya Daniel. Sekarang gantian Ronald yang wajahnya memerah karena kesal dan cemburu.


Daniel akhirnya mengerti apa yang dilakukan istrinya. Tidak sia-sia selama ini Ia menjahili Nia, sudah jago Dia. Daniel lalu mengikuti Nia meninggalkan Ronald yang melihat mereka dengan pandangan kesal.


Begitu di dalam lift Nia dan Daniel tertawa terpingkal-pingkal teringat muka kesal Ronald. "Pinter kamu sayang. Hebat. Aku salut sama kamu."


"Istri siapa dulu doang?"


"Nanti aku bikin lagi ah kissmark yang banyak. Biar kamu gak ada yang ngambil he..he..he.." ide jahil dan otak mesum Daniel bersatu padu.


"Jangaaaannn!!!! apa kata nasabah nanti kalau melihat leherku penuh kissmark? Habis deh concealer aku buat nutupin semuanya. Hiks...." Daniel kembali tertawa melihat wajah panik Nia.


"Beli lagi yang banyak. Oh iya mana kartu atm kamu?" Nia memberikannya pada Daniel tanpa bertanya untuk apa.


Daniel menerima kartu atm Nia dan lalu mematahkannya. Nia kaget dengan apa yang Daniel lakukan.


"Kok kamu patahin?" Nia memegang kartu atmnya yang sudah patah jadi dua.


"Sengaja. Biar kamu pakai uang dari atm yang aku kasih. Atm gaji kamu jangan dipakai, tabung saja gak usah diambil-ambil."


"Tapi...."


"Mau aku bikin kissmark yang lebih banyak lagi dari yang ada di leher kamu?" ancam Daniel. Membayangkan akan memakai conceler satu leher membuat Nia menuruti perintah Daniel.


"Iya." Daniel tersenyum senang. Ia tahu bagaimana mengancam Nia sekarang he..he..he..


******


Epilog

__ADS_1


Nia ijin pergi ke ATM untuk mengambil uang untuk berjaga-jaga saat Daniel mengisi bensin. Daniel pun mengiyakan.


Betapa kagetnya Ia saat mengecek saldo di ATM. Ada sembilan digit angka di layarnya. Belum pernah Nia memiliki uang sebanyak itu. Akhirnya Nia hanya mengambil uang 200 ribu saja untuk ongkos kerja besok.


__ADS_2