Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Takdir


__ADS_3

Nia mendorong kopernya pelan. Perutnya sakit lagi. Terasa makin sakit jika Ia berjalan cepat. Ia mengeluarkan Hp nya. Masih ada waktu 1 jam lagi sebelum check out.


Nia sengaja mengambil penerbangan siang. Tubuhnya masih terasa tidak enak, namun demi menemui suaminya Ia paksakan. Nia bahkan lupa belum makan sejak kemarin di kantor. Lebih anehnya lagi Ia tidak merasa lapar.


Baju dan perlengkapannya baru Nia packing tadi pagi sebelum berangkat. Santai sekali Ia tidak terburu waktu. Tidak lagi harus bangun pagi dan kejar-kejaran dengan mesin absen. Tidak lagi harus ngepot dan lari sampai akhirnya berhasil absen sebelum jam 8 kurang 15 menit. Customer service harus hadir di tempat 15 menit sebelum jam 8.


krucuk...krucuk... perut Nia berbunyi. Akhirnya Ia merasa lapar juga. Enggan makan berat Nia hanya membeli roti rasa kopi dan sebuah donut rasa mint kesukaannya. Ia juga membeli secangkir susu cokelat panas.


Nia ingin memberi surprise suaminya dengan datang langsung menemui Daniel di Bali. Ia tiba-tiba teringat percakapannya kemarin malam saat video call dengan Daniel.


Nia : Sayang kalau di Bali kamu tinggal dimana?


Daniel : Aku tinggal di salah satu villa.


Nia : Daerah mana?


Daniel : Seminyak.


Nia : Villa apa?


Daniel : Vila XY. Kenapa sih nanya-nanya? mau kesini?


Nia : Mau sih. Tapi gak tau kapan. Kamu tau sendiri aku gak bisa cuti. Kamu kapan pulang? Udah lama gak ketemu kamu. Aku kangen.


Daniel : Aku juga kangen banget sama kamu, Sayang. Tapi gimana lagi, si Buluk kalau aku tinggal suka ngaco. Suka ngehang. Manja banget Dia sama aku. Kalau dibiarin sendirian bisa bangkrut usaha aku sama Dia.


Nia cekikikan saja melihat ekspresi gusar Daniel ketika menyebut-nyebut nama temannya itu.


Begitulah akhirnya Nia berhasil mendapatkan alamat Daniel. Roti dan donut serta cokelat hangat yang I pesan sudah habis. Ternyata Nia sangat lapar. Nia segera menuju ruang tunggu. Ia menyerahkan KTP dan tiket pesawatnya kepada petugas bandara.


Nia berjalan santai sambil memegang tas selempang kecilnya. Kopernya sudah Ia titipkan untuk di taruh di bagasi pesawat. Berat. Ia takut perutnya sakit lagi jika mengangkat yang berat-berat.

__ADS_1


Nia berjalan pelan, tidak apa lama sampai ruang tunggunya karena saat Ia berjalan cepat tadi perutnya serasa kram lagi. Tanpa Nia sadari ternyata wajahnya pucat. Baru jalan sebentar saja Ia sudah lelah.


Ruang tunggu sudah ramai penumpang, Nia mencari kursi kosong. Ternyata ada, di samping seorang pria yang sedang membaca koran. Nia berjalan mendekati kursi tersebut lalu duduk. Untunglah tidak ada yang menyerobot tempatnya.


Pria di sampingnya asyik membaca koran. Sudah lama Ia tak melihat ada orang yang masih membaca koran. Jaman sudah serba digital. Membaca koran sudah pakai aplikasi di Hp. Membaca novel dan komik pun sudah pakai Hp. Jadul sekali.


Nia tersenyum mengejek kejadulan pria di sampingnya. Pria itu melipat koran yang dibacanya lalu melirik jam di tangan kirinya. Pria itu pun mencolek bahu Nia.


"Nia?" agak kaget Nia menengok ke arah Pria yang mencoleknya.


"Ronald?" Nia mengucek matanya seakan tidak percaya akan takdir yang mempermainkannya. Kenapa masih saja Dia bertemu dengan Ronald? Setelah bercerai mereka bertetangga di Apartemen yang sama. Dan sekarang mereka berada di ruang tunggu yang sama, bersebelahan pula.


"Kamu mau kemana, Ni? Sendirian saja? Kemana suami kamu?" pertanyaan Ronald ajukan bertubi-tubi berharap ada salah satunya yang akan di jawab oleh Nia. Ronald sadar sekarang Nia sudah amat membencinya, bicara pun segan. Jika Nia menjawab pertanyaannya Ia akan sangat bahagia.


"Ke Bali. Nyusul suami tercinta." maksud hati Nia memanas-manasi Ronald. Ia mau menunjukkan pada Ronald kalau Ia amat mencintai Daniel suaminya. Hal yang tidak seharusnya Ia lakukan, karena Ronald malah berpikir kalau Nia tidak bahagia.


"Sama dong. Aku juga mau ke Bali. Semoga kita bersebelahan ya duduknya." Ronald tersenyum melihat wajah Nia yang langsung bete.


Ronald terdiam, begitu pun Nia. Baru saja Nia bernafas lega karena tidak harus bercakap-cakap lagi dengan Ronald eh Ronald malah mulai mengajaknya bicara lagi.


"Jadi ingat saat kita bulan madu dulu ya. Kita bahagia banget di Bali. Main di pantai. Jalan-jalan. Makan bareng. Aku gak akan melupakan kenangan indah itu, Ni."


Sebal Nia mendengarkan omongan Ronald. Ia tak mau mengingat lagi kenangan manis mereka berdua yang sudah Ia kubur rapat. Nia mencari kursi kosong namun tak juga Ia temukan. Mau berdiri saja namun takutnya perutnya kram lagi.


Argh.. Kenapa kram perutnya tidak hilang juga padahal belum waktunya menstruasi?


Semua penumpang bangun dari duduknya dan menuju ke pesawat. Nia pun ikut bangun. Baru melangkah beberapa langkah perutnya kram kembali. Nia mencari pegangan dan di dapatlah lengan seseorang. Nia masih memegangi perutnya. Nia mengatur nafasnya hendak mengucap terima kasih.


"Kamu gak apa-apa, Ni?"


Oh God... lagi-lagi kenapa Ronald? Kenapa lengan Ronald yang kupegang? Nia merutuki dirinya sendiri.

__ADS_1


"Aku gak apa-apa kok." jawab Nia pelan.


"Ayo aku tuntun sampai ke dalam." tanpa meminta persetujuan Nia, Ronald pun menggandengnya agar tidak jatuh.


Nia berjalan pelan. Kalau jalan pelan kramnya tidak terasa. Rasa sakitnya perlahan hilang. Nia hendak melepaskan tangan Ronald namun melihat wajah Ronald yang mengkhawatirkannya membuatnya luluh. Ya, wajah inilah yang dulu amat Ia cintai.


Nia menahan air mata di sudut matanya yang hendak menetes. Mungkin kami sudah bercerai. Mungkin kami sudah punya pasangan masing-masing. Namun kami pernah saling mencintai. 2 tahun lebih membina rumah tangga, rasa diantara mereka tidak semudah itu hilang.


Ya, Nia memang labil. Nia melupakan suaminya nan jauh disana. Tapi Nia terenyuh dengan perhatian yang diberikan Ronald. Dengan perlahan Ronald menuntun Nia sampai akhirnya duduk nyaman di dalam pesawat.


Takdir tak mau berhenti mempermainkannya. Ternyata mereka duduk bersebelahan. Oh God.. cobaan apalagi ini?


Ronald menatap wajah pucat Nia. Ia memegang kening Nia memastikan mantan istrinya tersebut tidak sedang demam.


"Kalau sakit di rumah saja, Ni. Jangan dipaksakan." Ronald mengusap lembut rambut Nia. Mantan istrinya itu semakin cantik saja. Dulu Ia bahkan tak memperdulikan penampilannya hanya agar bisa memiliki anak dengan Ronald.


"Aku gak apa-apa kok." Nia berusaha menepis tangan Ronald. Ia tak mau terjadi fitnah diantara mereka. Walau bagaimanapun Nia masih istri orang.


"Mana yang sakit?"


Nia belum menjawab pertanyaan Ronald ketika pramugari memeragakan cara penggunaan sabuk pengaman dan alat keselamatan. Setelah memasang sabuk pengaman Nia mengelus lembut perutnya, berdoa agar sakitnya sembuh.


"Masih sakit?" tanya Ronald penuh perhatian. Nia menggeleng lemah. Tak lama Ronald memanggil pramugari dan minta diambilkan air hangat.


"Kamu mau kemana? Sudah dijemput sama suami kamu?"


Melihat kebaikan Ronald, tak pantas rasanya jika Nia tidak menjawab pertanyaannya.


"Seminyak. Daniel gak tau aku berangkat ke Bali."


Pramugari yang tadi datang dan membawakan air hangat. Ronald mengucapkan terima kasih lalu meminumkannya ke Nia. Agak canggung, namun Nia menerima niat baik Ronald. Ia pun meminum pelan-pelan air hangat tersebut.

__ADS_1


__ADS_2